[KAJIAN ONLINE] Kampanye Antisedotan Insignifikan Terhadap Lingkungan

0
364
kampanye anti sedotan

Milo Cress, seorang anak berumur 9 tahun yang berasal dari Vermont, Amerika Serikat, melihat banyaknya sedotan yang terbuang pada saat ia berada di restoran, Ia kemudian berinisiatif untuk membuat kampanye antisedotan. Bocah tersebut memulai penelitiannya  dengan mencari tahu jumlah sedotan yang digunakan oleh warga Amerika Serikat setiap harinya dengan melakukan survey ke beberapa produsen sedotan sekitar. Hasilnya, warga Amerika  menggunakan 500 juta sedotan setiap harinya. Dari data tersebut, Milo Cress meluncurkan proyek ‘Be Straw Free” pada tahun 2011[i].Proyek yang dilakukan Milo Cress menjadi cikal bakal kampanye antisedotan yang lebih luas.

Kura kura
Kura-kura dengan hidung tertusuk sedotan. Sumber: nationalgeographic.com

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sampah plastik memberikan dampak yang berbahaya bagi lingkungan. Diperkirakan sekitar 275 juta metrik ton sampah plastik dihasilkan setiap tahunnya[ii]. Beberapa upaya telah diluncurkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait isu ini. Pada tahun 2015, sebuah video yang menunjukkan penyelamatan dramatis kura-kura dengan hidung tertusuk oleh sedotan plastik oleh sekelompok ahli biologi kelautan dari Universitas Texas A&M menjadi viral.Sejak itu, kampanye-kampanye antisedotan bermunculan. Terbentuklah banyak kampanye serupa “Be Straw Free” milik Milo Cress seperti #StopSucking oleh Lonely Whale dan Skip The Straw oleh Ocean Conservacy.Pada intinya, kampanye tersebut mengajak masyarakat luas untuk meninggalkan penggunaan sedotan plastik. Kampanye antisedotan memiliki formula sempurna untuk sebuah gerakan lingkungan yang viral: Sebuah video dampak nyata sampah sedotan pada biota laut, mudahnya mengikuti kampanye tersebut, dan didukung penuh oleh public figureseperti Ratu Britania Raya Elizabeth II dan ilmuwan popular Neil Degrasse Tyson. Pertanyaannya adalah: apakah kampanye antisedotan berdampak secara signifikan terhadap penanggulangan sampah plastik di lautan?

Masalah Sampah Plastik di Laut Lebih Besar dari Sekedar Sedotan

Hasil temuan angka 500 juta sedotan yang digunakan oleh orang AS setiap harinya oleh Milo Cress dicatut oleh aktivis kampanye antisedotan dan berbagai media seperti NBC[iii]hingga National Geographic[iv]. Validitas angka tersebut perlu dipertanyakan mengingat metodologi dan absennya dokumentasi penelitian. Penelitian lain oleh Freedonia Group, sebuah perusahaan riset pasar, menyatakan bahwa orang Amerika Serikat menggunakan 390 juta sedotan plastik setiap harinya[v]. Namun, apabila hasil temuan Milo Cress memang benar adanya, kita perlu membandingkan volume sampah sedotan plastik dengan sampah plastik lainnya.

Faktanya,volume sampah sedotan plastik di laut hanya sekitar 0,03% terhadap total 8 juta metrik ton sampah plastik yang berakhir di lautan setiap tahunnya[vi]. Apabila kampanye antisedotan plastik benar-benar terealisasi secara sempurna, volume sampah plastik akan hanya berkurang 2.400 metrik ton setiap tahunnya. Faktanya, kontributor sampah plastik terbesar justru berasal dari jaring yang digunakan oleh industri perikanan yang tercecer di lautan atau ghost gear:yakni sebanyak 46%[vii]dari 8 juta metrik ton sampah plastik di lautan.

ghost gear
Ghost gear, penyumbang utama sampah plastic di lautan. Sumber: blueocean.net

Perusahaan Turut Diuntungkan

Gerakan antisedotan telah diadopsi oleh banyak perusahaan, antara lain Starbucks dan McDonald’s. Pada akhirnya, perusahaan tersebut lah yang mengambil keuntungan paling besar dari kampanye antisedotan, bukan lingkungan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan perusahaan sarat dengan kepedulian lingkungan menjadi sebuah strategi ampuh untuk memoles citra yang pada akhirnya juga akan menarik konsumen untuk berbelanja di perusahaan tersebut. Menurut survei yang dilakukan oleh Shelton Group, sebuah lembaga riset, 86% konsumen berpendapat bahwa perusahaan seharusnya mengambil sikap terhadap isu sosial. Sebesar 64% konsumen yang berpendapat “sangat penting” bagi sebuah perusahaan untuk mengambil sikap terhadap isu sosial sangat mungkin untuk membeli produk perusahaan tersebut[viii].

Starbucks mengumumkan bahwa pada tahun 2020 perusahaan tersebut akan bebas sedotan pada seluruh 30.000 gerainya di penjuru dunia. Sebagai gantinya Strabucks Coffee akan meggunakan tutup gelas dengan desain baru dengan bentuk moncong agar mudah diminum. The Guardian melakukan pengukuran berat antara kombinasi sedotan dan tutup lama dengan tutup baru[ix]. Hasilnya: Kombinasi berat sedotan dan tutup lama lebih ringan daripada desain tutup baru. Maka, kampanye yang dilakukan Starbucks memang mengurangi jumlah sedotan, tetapi malah menambah jumlah volume sampah plastik. Telebih lagi hanya sekitar 9% sampah plastic yang diproduksi berakhir didaur ulang[x]. Sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir, berserakan di darat, atau mengambang di lautan.

Setali tiga uang dengan Starbucks, McDonald’s Indonesia juga turut membuat gerakan antisedotan bernama #MulaiTanpaSedotan dengan dengan implementasi tidak menyediakan sedotan di 189 gerainya[xi]. Namun sayangnya, McDonald’s Indonesia tidak serta merta menarik peralatan makan lain yang menggunakan plastik seperti piring dan wadah saus. Belum diketahui lebih lanjut apakah Mcdonalds Indonesia akan berinisiatif mengentikan penggunaan plastik secara lebih menyeluruh.

mc donalds
Kampanye #MulaiTanpaSedotan oleh McDonalds Indonesia. Sumber: mcdonalds.co.id

Tindakan kedua perusahaan tersebut yang mengambil momentum kampanye antisedotan tampak tidak benar-benar peduli terhadap masalah sampah plastik seperti yang dicitrakan olehnya. Perusahaan tersebut melakukan apa yang disebut sebagai greenwashing, yakni melakukan disinformasi untuk membentuk citra sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan[xii]. Alih-alih menyasar isu lingkungan yang lebih genting seperti industri daging yang menyumbang 40% gas metana[xiii], perusahaan tersebut malah mengambil langkah aman, mudah dan tidak signifikan terhadap lingkungan melalui kampanye antisedotan. Dengan melakukan hal tersebut, perusahaan dapat memperbaiki citranya sebagai  perusahaan yang peduli lingkungan sekaligus berusaha meningkatkan  pendapatan atas penjualan dengan mendapatkan good publicity.

Efek Psikologis Negatif pada Pelaku Kampanye Antisedotan

Pesan yang ingin disampaikan aktivis antisedotan adalah bahwa  kampanye antisedotan diharapkan menjadi pintu masuk kepedulian tentang masalah sampah plastic lebih  besar[xiv]. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa kampanye antisedotan dapat menimbulkan efek psikologis negatif seperti moral licensing. Moral licensing terjadi ketika setelah melakukan perilakuyang dianggap baik, seseorang akan cenderung mengizinkan dirinya untuk melakukan perbuatan tidak baik tanpa mengatribusikan nilai tidak baik kepada dirinya (Monin & Miller, 2001)[xv]. Seorang pelaku kampanye antisedotan yang sudah merasa puas tidak menggunakan sedotan plastik, akan memiliki kecenderungan untuk melakukan perbuatan lain yang tidak ramah lingkungan, misalnya mengonsumsi listrik lebih banyak dari biasanya. Selain itu, kampanye antisedotan berpotensi mengalihkan perhatian publik kepada masalah lingkungan yang lebih besar dengan merasa sudah cukup berkontribusi terhadap lingkungan dengan mengikuti kampanye antisedotan.

Kesimpulan

Mengikuti kampanye antisedotan semata tidaklah cukup mengurangi jumlah sampah plastik di laut secara signifikan karena persentase volume sedotan yang kecil terhadap total volume sampah plastik di lautan. Kampanye antisedotan terkesan seperti sekadar kampanye simbolis untuk memulai langkah kepedulian lingkungan yang lebih besar. Namun, efek psikologis negatif yang menyertainya dapat  membuat langkah-langkah kepedulian yang lebih besar tidak terjadi. Pada akhirnya, pihak yang paling diuntungkan dari kampanye antisedotan adalah perusahaan yang menunggangi gerakan ini dengan mengambil momentum untuk meningkatkan penjualan dan membuat citra baik kepada masyarakat.

 

Kontributor: Anugerah Tryandi Wiratama

Editor: Miftah Rasheed Amir

Desain: Dhea Monica

 

[i]Chokshi, N. (2018). How a 9-Year-Old Boy’s Statistic Shaped a Debate on Straws. [online] Nytimes.com. Available at: https://www.nytimes.com/2018/07/19/business/plastic-straws-ban-fact-check-nyt.html [Accessed 18 Apr. 2019].

[ii]Jambeck, J., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T., Perryman, M., Andrady, A., Narayan, R. and Law, K. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. [online] sciencemag.org. Available at: https://science.sciencemag.org/content/347/6223/768 [Accessed 18 Apr. 2019].

[iii]Weisbaum, H. (2018). The problem with plastic straws. [online] NBC News. Available at: https://www.nbcnews.com/better/science/fighting-pollution-avoiding-plastic-straws-ncna856296 [Accessed 19 Apr. 2019].

[iv]Gibbens, S. (2019). A brief history of how plastic straws took over the world. [online] Nationalgeographic.com. Available at: https://www.nationalgeographic.com/environment/2018/07/news-plastic-drinking-straw-history-ban/ [Accessed 19 Apr. 2019].

[v]The Freedonia Group. (2019). Foodservice Single-Use Products in the US by Product and Market. [online] Available at: https://www.freedoniagroup.com/industry-study/foodservice-single-use-products-in-the-us-by-product-and-market-3543.htm [Accessed 19 Apr. 2019].

[vi]Jambeck Research Group. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. [online] Available at: https://jambeck.engr.uga.edu/landplasticinput [Accessed 19 Apr. 2019].

[vii]Lebreton, L., Slat, B., Ferrari, F., Sainte-Rose, B., Aitken, J., Marthouse, R., Hajbane, S., Cunsolo, S., Schwarz, A., Levivier, A., Noble, K., Debeljak, P., Maral, H., Schoeneich-Argent, R., Brambini, R. and Reisser, J. (2018). Evidence that the Great Pacific Garbage Patch is rapidly accumulating plastic. [online] Available at: https://www.nature.com/articles/s41598-018-22939-w [Accessed 19 Apr. 2019].

[viii]Storage.googleapis.com. (2018). Brand & Stands Social Purpose is the New Black How Can Your Company Stand and Deliver?. [online] Available at: https://storage.googleapis.com/shelton-group/Pulse%20Reports/Brands%20%26%20Stands%20-%20Final%20Report%202018.pdf [Accessed 19 Apr. 2019].

[ix]Britschgi, C. (2018). Starbucks Bans Plastic Straws, Winds Up Using More Plastic. [online] Reason.com. Available at: https://reason.com/blog/2018/07/12/starbucks-straw-ban-will-see-the-company [Accessed 19 Apr. 2019].

[x]Geyer, R., Jambeck, J. and Law, K. (2017). Production, use, and fate of all plastics ever made. [online] ncbi.nlm.nih.gov. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5517107/ [Accessed 19 Apr. 2019].

[xi]Assegaf, F. (2018). 93 million plastic straws used in indonesia every day: official – ANTARA News. [online] Antara News. Available at: https://en.antaranews.com/news/120417/93-million-plastic-straws-used-in-indonesia-every-day-official [Accessed 19 Apr. 2019].

[xii]Oxford Dictionaries | English. (n.d.). greenwash | Definition of greenwash in English by Oxford Dictionaries. [online] Available at: https://en.oxforddictionaries.com/definition/greenwash [Accessed 19 Apr. 2019].

[xiii]Eatz, J. (2013). Meat and Greenhouse Gas on Earth Day. [online] Green Eatz. Available at: http://www.greeneatz.com/1/post/2013/04/earth-day-livestock-and-greenhouse-gas.html [Accessed 19 Apr. 2019].

[xiv]Plastic Pollution Coalition. (n.d.). No Straw Please — Plastic Pollution Coalition. [online] Available at: https://www.plasticpollutioncoalition.org/no-straw-please [Accessed 19 Apr. 2019].

[xv]Merrit, A., Effron, D. and Monin, B. (2010). Moral Self-Licensing: When Being Good Frees Us to Be Bad. [online] Adam.curry.com. Available at: http://adam.curry.com/enc/20140824153442_monin2010compassonmorallicensing.pdf [Accessed 19 Apr. 2019].

 

LEAVE A REPLY