Penanaman Nilai Anti Korupsi Lewat Anti-Corruption Film Festival

0
77

Kamis, 11 April 2019, Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) dilaksanakan di FISIP UI. Acara yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini merupakan salah satu rangkaian kampanye anti-korupsi yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman kaum millenials pada perilaku anti-korupsi serta mendorong partisipasi dalam pemberantasan korupsi. Dalam kampanye anti korupsi melalui media film ini, KPK menayangkan tiga dari tujuh film pendek yang telah diproduksi sebelumnya pada tahun 2018.

Kampanye ini dikemas dalam bentuk media film pendek agar nilai-nilai utama yang ingin disampaikan lebih mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.  Kampanye ini pun dimulai dengan pengenalan 9 nilai-nilai anti korupsi yaitu jujur, peduli, mandiri, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, sederhana, berani dan adil oleh Eti Handayani dari Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Kedeputian Bidang Pencegahan. Namun, nilai yang dideklarasikan dalam acara ini hanya empat; jujur, peduli, mandiri, dan disiplin.

Film pertama yang diputar berjudul ‘Sekeping Tanggung Jawab’ yang disutradarai oleh Fitto E. Arunfieldo. Pada film ini, dikisahkan perjalanan seorang office boy yang diberi tanggung jawab oleh atasannya untuk memberikan amplop berisi uang santunan kepada anak yatim. Di tengah perjalanannya, ia menyadari bahwa ada sekeping koin yang jatuh dari amplopnya sehingga ia terus mencari sekeping koin tersebut sampai akhirnya berhasil ditemukan. Pesan yang ingin disampaikan dalam film pertama ini adalah nilai amanah dan tanggung jawab yang harus tetap dipegang dan dijaga oleh tiap individu tidak peduli sekecil apapun amanah tersebut.

Selanjutnya, ditayangkan film kedua yang berjudul ‘#Blessed’. Film kedua ini menampilkan dilematika yang sering terjadi di era media sosial saat ini, yaitu penipuan. Kisah yang diangkat dalam film ini adalah permasalahan seseorang bernama Della yang memanfaatkan keadaan kosong rumah tantenya yang secara visual besar dan mewah untuk meyakinkan orang-orang bahwa dia adalah orang yang sukses. Della mulai mengiming-imingi temannya  komisi apabila berinvestasi di bisnis miliknya sampai munculnya banyak korban akibat hal yang awalnya hanya dilakukan karena ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Film ini mengandung pesan agar kita tidak mudah percaya dan langsung menelan sesuatu di media sosial tanpa tahu kebenaran yang ada. Dengan berakhirnya film pendek kedua ini, dimulai pula sesi tanya jawab oleh Eti Handayani dari Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat, Candra Aditya selaku sutradara film pendek ‘#Blessed’ dan juga Givo Aulia selaku Ketua KOSMIK UI 2017.

Eti Handayani menyampaikan, “Delapan puluh persen dari 250 juta warga Indonesia tidak mengetahui apa itu korupsi,” pada saat sesi tanya jawab. Creative campaign merupakan bentuk pendekatan kampanye yang dianggap Eti Handayani dapat membuat millennials menjadi peduli dan mengetahui apa itu korupsi serta seberapa pentingnya gerakan anti-korupsi. Gerakan yang disinggung oleh Eti Handayani yang telah dilakukan KPK adalah gerakan melalui media film dan musik. Dengan diadakannya pendekatan tersebut, diharapkan generasi muda tidak lagi memandang ‘korupsi’ sebagai suatu isu yang susah dicerna, melainkan paham dan sadar akan nilai-nilai anti korupsi dan dapat berpartisipasi dalam penegakan anti-korupsi saat ini maupun dalam dunia kerja nanti.

KPK pun telah mengubah pola pikir pencegahan korupsi, dari yang semula ‘terima dulu baru dilaporkan’ menjadi ‘tolak sedari awal’. Tujuan lain diadakannya kegiatan ini adalah untuk menerima gagasan-gagasan baru dari generasi muda mengenai pengemasan kampanye yang akan dilakukan KPK selanjutnya dalam menegakkan kegiatan anti-korupsi.  Harapan-harapan untuk anak muda pun disampaikan oleh Candra Aditya dan Givo Aulia. Candra Aditya berharap generasi muda bisa melihat dan mengerti betul apa itu arti korupsi dan melakukan gerakan-gerakan anti-korupsi di kehidupan sehari-hari pula.

“Tetap dukung agenda pemberantasan korupsi. Jikalau suatu saat aspek penindakan [korupsi] di Indonesia sebesar 0%, aspek pencegahan harus tetap jalan,” tutup Givo Aulia, menyatakan harapan untuk generasi muda dalam sesi tanya jawab Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST). Acara ini pun diakhiri dengan penyajian film ketiga berjudul “Subur itu Jujur” karya sutradara Gelora Yudhaswara yang menitikberatkan pada pentingnya nilai kejujuran karena pada kondisi apapun akan selalu ada godaan-godaan kecil di sekeliling kita untuk melakukan tindak kecurangan agar mencapai atau mendapatkan suatu hal menggunakan cara yang lebih mudah.

Kontributor: Amalia Cahyani
Editor: Vibi Larassati

LEAVE A REPLY