[EKSKLUSIF] Baliho Tanpa Stiker: Terlibatkah PLK UI dalam Pemira IKM UI 2018?

0
355

Lima bulan setelah ajang Pemira IKM UI 2018, yaitu pada bulan April 2019, terdapat dua post di media sosial yang menyita banyak perhatian sivitas akademika Universitas Indonesia. Pasalnya, terdapat dua post yang mengindikasikan keterlibatan pihak kampus dalam Pemira IKM UI 2018 lalu. Salah satu dari post tersebut mengindikasikan bahwa Pengamanan Lingkungan Kampus Universitas Indonesia (PLK UI) memihak ke salah satu calon ketua dan wakil BEM UI 2019. Bagaimana kebenarannya? Pada kesempatan ini, B.O. Economica berupaya untuk menelisik isu ini melalui sudut pandang salah satu pembuat post dan instansi terkait, yakni PLK UI yang diduga pembuat post terlibat dalam Pemira IKM UI 2018.

 

Cuitan dan Video yang Dibicarakan

Post yang pertama berupa cuitan yang di-post di Twitter dengan pseudonim @buanakah. Akun itu menceritakan adanya indikasi andil Wakil Rektor III Universitas Indonesia Bidang Riset dan Inovasi, Rosari Saleh, dalam memanipulasi jumlah suara yang didapatkan ketua dan wakil ketua BEM UI 2019 yang terpilih, yakni Manik dan Fadli. Kesimpulan tersebut didapat oleh pemilik akun setelah mendengar percakapan kedua satpam di kantin Fakultas Teknik UI.  Pemilik akun menceritakan bahwa kedua satpam tersebut bercakap-cakap bahwa manipulasi itulah yang menjadi alasan tidak terlibatnya Pusat Ilmu Komputer UI (Pusilkom UI) dalam Pemira IKM UI 2018.

Menanggapi post pertama, Yuvie Miftah Huda, anggota tim sukses calon ketua BEM UI 2019, Tegar dan Akbar mengunggah sebuah video di media sosial LINE yang menyuarakan indikasi yang senada dengan cuitan @buanakah: indikasi keterlibatan pihak kampus, secara khusus PLK, dalam Pemira IKM UI 2018. Dalam post tersebut, Yuvie menanggapi cuitan pseudonim tersebut, mengutarakan kejanggalan yang ia rasakan, serta mengunggah video yang menunjukkan bahwa baliho kampanye Manik dan Fadli, yang dipasang di seberang stasiun UI, tidak memiliki stiker perizinan PLK.

Post yang menarik perhatian ini membuat banyak pihak menuntut klarifikasi dan sikap Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2019, yakni Manik dan Fadli. Sayangnya, saat B.O. Economica mengajukan permohonan wawancara untuk mencari kebenaran dari kontroversi ini, keduanya tidak merespon.

 

Kejanggalan yang Ditemukan Yuvie

Dalam sesi wawancara singkat melalui pesan teks, Yuvie menjelaskan bahwa pada saat periode Pemira IKM UI 2018, ia hendak mengambil baliho kampanye Tegar dan Akbar yang akan habis masa pemasangannya. Informasi tentang ketiadaan stiker pada baliho Manik Fadli didapatkan dari  seorang temannya, yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2015. “Aku kan mau ambil baliho Tegar-Akbar yang sudah habis waktu [pemasangan]nya, jadi aku ambil ke PLK. Aku nanya ke dia [teman Yuvie yang merupakan mahasiswa FT 2015 — red], ‘Eh, itu Manik-Fadli masang juga tuh,’. Kemudian, dia membalas, ‘Tapi ya, gak ada stikernya gitu.’ “ jelas Yuvie.

Berdasarkan informasi itu, Yuvie pun berusaha mengklarifikasi hal tersebut ke petugas PLK. Dari video tersebut, petugas PLK yang disyuting dalam video itu menyatakan bahwa ketiadaan stiker tersebut merupakan perintah langsung dari Prof. Anondho. Ketika ditanya mengapa ia tidak melaporkannya secara langsung kepada PLK UI, Yuvie mengaku bahwa ia tidak mengetahui mekanisme pelaporan insiden semacam ini.

“Setelah Dhita bertemu Manik dan Fadli, Manik dan Fadli pun mengakui bahwa pemasangan baliho di St. UI tanpa stiker merupakan resmi kesalahan mereka, sebab mereka tidak mengikuti SOP Humas UI,” ujar Yuvie. Lebih lanjut Yuvie menjelaskan, “Fadli menyatakan pemasangan baliho tersebut dilakukan secara kultural dengan pihak PLK.”

Keputusan Yuvie untuk mengunggah video tersebut beserta keresahannya di media sosial mengundang pertanyaan dari banyak pihak, sebab timing-nya yang di luar masa Pemira IKM UI 2018. Terkait timing-nya itu, Yuvie menjelaskan bahwa ia menghargai Dhita sebagai campaign manager tim sukses Tegar dan Akbar untuk tetap berkampanye positif. Niatnya untuk mengunggah video tersebut sehari sebelum masa tenang Pemira IKM UI 2018 diurungkan atas dasar alasan tersebut. Namun, pada awal April lalu, Yuvie melihat post Dhita yang berisikan cuitan akun @buanakah (yang telah dipaparkan di atas). “[Post] itulah yang membuatku gak bisa untuk tidak menyebarluaskan kebenaran ini,” jelas Yuvie. Atas dasar itulah Yuvie memutuskan untuk mengunggah video percakapan dengan PLK yang disensor tersebut pada tanggal 3 April 2019 lalu.

 

Terlibatkah PLK UI?

Menanggapi kedua post tersebut, Ginting, Kepala Bagian Personalia PLK UI mengaku bahwa tak ada laporan yang masuk mengenai masalah baliho tanpa stiker tersebut. Setelah memahami duduk persoalannya, Ginting mengklarifikasi bahwa PLK UI menyediakan sebuah sistem publikasi luar ruang dalam kampus yang tidak menggunakan stiker sebagai bukti perizinan dari PLK. Ginting juga mempertanyakan maksud dari pengunggahan video terkait baliho Manik-Fadli tanpa stiker tersebut. “Kejadiannya telah berlangsung 5 bulan yang lalu. Mengapa baru sekarang diviralkan?”

Ginting juga menyatakan pendapatnya terkait percakapan dua satpam di kantin Fakultas Teknik UI mengenai campur tangan wakil rektor pada Pemira BEM UI. Menurutnya, dua satpam tersebut hanya dijadikan sebagai fake whistleblower untuk menjatuhkan ketua dan wakil ketua BEM UI 2019 terpilih. Memang, di kantin FT UI terdapat dua orang petugas, yang ditugaskan untuk mengawasi ruang untuk merokok (smoking room). Namun, Satpam Koordinator Operasional PLK UI saja sama sekali tidak mengetahui perlobian yang dimaksud dalam Pemira UI. “Jika satpam PLK UI saja sama sekali tidak tahu, mengapa dua orang satpam FT UI dapat mengetahui informasi itu?” tutur Ginting.

Indikasi perlobian yang dimaksud oleh pembuat cuitan tersebut juga disangkal Ginting. Ginting berpendapat jika memang perlobian terjadi, kemungkinannya terjadi di antara Prof. Anondho dan Akbar. “Mungkin ini keluar dari konteks, tetapi Prof. Anondho selaku kepala PLK UI merupakan dosen pembimbing akademik dari Akbar. Mengingat hubungan keduanya, lebih mungkin perlobian terjadi di antara mereka. Namun, sebagai PLK UI harus menjunjung tinggi tingkat profesionalitas, sehingga PLK UI tidak terlibat dalam perpolitikan kampus,” ujar Ginting.

Ginting juga mengklarifikasi perihal absennya satpam dalam penjagaan kotak suara di FT UI. “Saat itu seorang pria nekat memanjat tiang lampu di Stadion UI dan tidak mau turun, sehingga fokus petugas keamanan beralih sebentar,” jelasnya. Dengan tegas, Ginting menyatakan bahwa kisah percakapan dua satpam FT UI yang dibuat dengan pseudonim itu merupakan opini semata. “Sah-sah saja untuk beropini, namun apabila ada pihak yang dituduh tanpa kebenaran, tentu opini tersebut harus diluruskan,” ujar Ginting.

 

Pandangan Humas UI

Selayaknya organisasi pada umumnya, kampus UI memiliki prosedur tetap terkait publikasi di luar ruangan. Rifelly Dewi Astuti, selaku Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) UI memastikan bahwa setiap publikasi yang dilakukan oleh kegiatan internal UI sudah sesuai prosedur dan mendapat persetujuan dari Humas UI. “Semua prosedur [publikasi] sudah dimasukkan ke dalam UI Update,” jelasnya. UI Update sendiri merupakan website resmi di bawah Humas UI tentang perkembangan kampus. “Prosedur publikasi luar ruang juga telah menggunakan sistem online (by system), sehingga campur tangan pihak-pihak tidak bertanggung jawab bisa dipastikan tidak ada sama sekali karena semua sudah diatur/diproses oleh sistem,” jelas Rifelly.

Adapun prosedur daripada pemasangan baliho di lingkungan UI terdapat pada tata cara publikasi luar ruang yang diatur oleh humas UI terutama tercantum dalam UI Update. Secara sederhana, prosedur dari publikasi luar ruang tersebut adalah mengisi formulir yang telah disediakan dalam website UI Update, kemudian mengirimkan formulir beserta berkas-berkas tambahan kepada Humas UI sesuai dengan permintaan formulir tersebut. Setelah mengirimkan formulir, pihak yang ingin melakukan publikasi mengirimkan desain kepada pihak Humas UI, lalu menunggu persetujuan dari Humas UI atas publikasi tersebut. Apabila publikasi tersebut disetujui, maka Humas UI akan memberikan surat persetujuan yang kemudian dapat dibawa ke PLK UI untuk meminta stiker pemasangan publikasi.

Terkait isu ini, Rifelly berpesan untuk melakukan pelaporan pada pihak UI segera setelah menemukan kejanggalan. “Jika ada dugaan pelanggaran publikasi, baik dalam maupun luar ruang, seharusnya dilaporkan saja kepada kampus melalui call center yang tersedia, sehingga tidak perlu melakukan sebuah aksi yang diviralkan 5 bulan setelah kejadian,” tegas Rifelly.

 

Penutup

Independensi mahasiswa dalam berpolitik dan berorganisasi dalam kampus tentunya menjadi sesuatu yang harus selalu dijaga. Tentu isu independensi mahasiswa menjadi hal yang selayaknya dikawal oleh seluruh sivitas akademika Universitas Indonesia. Berdasarkan pernyataan resmi dari representasi PLK UI dan Humas UI, dapat disimpulkan bahwa indikasi keterlibatan PLK UI dan Humas UI dalam Pemira IKM UI 2018 tidak terbukti. Namun, patut disayangkan bahwa indikasi keterlibatan pihak kampus, khususnya Wakil Rektor III, dalam Pemira IKM UI 2018 kemarin tidak sepenuhnya dapat ditelusuri karena ketiadaan narasumber yang reliabel, setidaknya sampai saat liputan ini ditayangkan.

 

Referensi

[1] Intrik dan Ambisi Warek III UI, Dimana Independensi Mahasiswa? https://chirpstory.com/li/424070

[2] Yuvie Miftah Huda – Satu dari Sekian ‘Puzzle’ Keraguan Tergambar

https://timeline.line.me/post/_df7fOleaqK39N0zaVyfLpimW7vakVk6Rcx3LYMU/1155426960808029760

[3] Pria 50 Tahun Nekat Panjat Tiang Lampu Stadion UI, Hampir 24 Jam Belum juga Turun https://www.merdeka.com/peristiwa/pria-50-tahun-nekat-panjat-tiang-lampu-stadion-ui-hampir-24-jam-belum-juga-turun.html

[4] Registrasi Publikasi via UI Update http://uiupdate.ui.ac.id/content/registrasi-publikasi

 

Kontributor: Roufan Hirqoni, Muhammad Daffa Nurfauzan

Editor: Vibi Larassati

Tim Penulis telah melakukan beberapa revisi, yaitu:
1. Tulisan Pemira BEM UI 2019 direvisi menjadi Pemira IKM UI 2018 (Rabu, 17 April 2019 pukul 18.50.)
2. Paragraf“Setelah Dhita bertemu Manik dan Fadli, Manik dan Fadli pun mengakui bahwa pemasangan baliho di St. UI tanpa stiker merupakan resmi kesalahan mereka, sebab mereka tidak mengikuti SOP Humas UI,” ujar Yuvie. Lebih lanjut Yuvie menjelaskan, “Fadli menyatakan pemasangan baliho tersebut dilakukan secara kultural dengan pihak PLK.” ditambahkan atas permintaan Yuvie Miftah Huda, sebagai itikad baik B.O. Economica untuk menyajikan berita yang mencakup sudut pandang semua pihak yang terlibat. (Rabu, 17 April 2019 pukul 20.20)

 

LEAVE A REPLY