Aksi #RektorTakutCerpen: Aksi Solidaritas Pers Mahasiswa Indonesia untuk SUARA USU

0
134

Pada hari Senin, 1 April 2019, B.O. Economica meliput aksi solidaritas terhadap SUARA USU yang dilakukan pers mahasiswa di depan kantor Kemenristek Dikti. Aksi tersebut merupakan reaksi atas SK Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) no.139/UN5.1.5/SK/KMS2019 yang berisi tentang pemberhentian aktivitas pengurus SUARA USU. Adapun latar belakang turunnya SK ini adalah cerpen terbitan SUARA USU. Cerpen yang menceritakan tokoh lesbian ini dianggap mengandung unsur pornografi. Aksi ini berlangsung dengan tertib dan aman dan diakhiri dengan audiensi dari perwakilan aksi dengan Kemenristek Dikti.

Dikutip dari suarausu.co, Pers Mahasiswa USU merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Sumatera Utara (USU). SUARA USU berdiri pada 1 Juli 1995 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat USU. SUARA USU menyediakan portal berita yang dapat mengakses berita seputar kampus dan kota dengan lebih mudah dan cepat dengan suarausu.co.

Tak hanya berita, SUARA USU juga menerbitkan cerpen di portal berita tersebut. Salah satu cerpen inilah yang menjadi penyebab utama pemberhentian pengurus SUARA USU. Cerpen yang menjadi pemicu atas kejadian turunnya SK Rektor USU merupakan cerpen milik Yael Stefani Sinaga. Cerpen yang menceritakan tokoh lesbian ini berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiranku”. Dalam salah satu orasi, aktivis mengutarakan bahwa cerpen ini dianggap mengandung unsur pornografi hanya karena terdapat kata “Sperma” dan “Rahim”.

Dari orasi yang disampaikan, pers mahasiswa secara garis besar menyatakan bahwa tindakan turunnya SK Rektor USU merupakan tindakan represif dari pihak universitas terhadap kebebasan berpikir di kampus. Dikutip dari wawancara dengan Browis (nama samaran), sebagai koordinator lapangan dari aksi tersebut, bahwa, “Kami [pers mahasiswa] menuntut sikap Kemenristek Dikti atas kejadian yang  terjadi di Universitas Sumatera Utara. [Pasalnya] hanya gara-gara cerpen saja, pers mahasiswa USU dibubarkan.”

Dari selebaran yang dibagikan ke peserta aksi, terdapat 3 tuntutan utama:

  • Cabut SK Rektor no.139/UN5.1.5/SK/KMS2019 dan kembalikan pengurus persma USU.
  • Turunkan Rektor USU, Runtung Sitepu, karena kampus tidak selayaknya dipimpin oleh seorang yang miskin intelektual dan literasi
  • Hentikan Diskriminasi terhadap LGBT dan minoritas lainnya.

Aktivis juga menuntut sikap atas audiensi yang telah diberikan dari Kemenristek Dikti selambat-lambatnya 10 hari setelah aksi dilakukan.

 

Kontributor: Adela Pravita Sari

Editor: Vibi Larassati

 

LEAVE A REPLY