Bincang Bersama: Pemuda dalam Pemilu 2019

0
90

Pada hari Jumat, 15 Maret 2019 seminar dan diskusi oleh Suara Mahasiswa Universitas Indonesia, Youth IGF (Youth Internet Governance Forum) Indonesia, Google, dan Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) diselenggarakan. Seminar yang dilaksanakan di Gedung 1103 Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya ini mengangkat tema Menjadi Pemilih Berkualitas yang bertujuan meningkatkan kesiapan pemilih muda dalam menghadapi pemilu 2019 di era digital. Seminar ini dimoderatori oleh Ellen Kusuma selaku perwakilan dari Youth IGF (Youth Internet Governance Forum) Indonesia.

Sesi pertama diisi oleh beberapa pembicara diantaranya Puadi selaku Komisioner Bawaslu DKI Jakarta, Pangeran Siahaan selaku co-founder Asumsi.co, dan Ryan Rahardjo selaku Tim Kebijakan Hubungan Pemerintah Google Indonesia. Puadi menjabarkan syarat yang harus dipenuhi apabila ingin melaporkan pelanggaran terkait pemilu yang terdapat dalam UU No. 7 tahun 2017, diantaranya laporan harus jelas dan memiliki bukti yang valid. “Data pelapor dan terlapor juga harus lengkap. Laporan yang dilaporkan tidak boleh lebih dari tujuh hari setelah peristiwa terjadi,” tutur Komisioner Bawaslu DKI Jakarta tersebut.

Selanjutnya, seminar diisi oleh Pangeran Siahaan yang menekankan generasi muda harus kritis dan pantang menyuarakan pendapatnya. “Kebisingan dan kericuhan yang ada saat pemilu merupakan indikator demokrasi yang sehat,” tutur Pangeran Siahaan. Di akhir sesi, Pangeran Siahaan menegaskan kepada partisipan agar menggunakan hak pilihnya dengan bijak. Sementara, Ryan Rahardjo memaparkan visi misi Google terkait pemilu 2019. “Google berharap informasi terkait pemilu dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang,” tutur Ryan Rahardjo. Ryan menegaskan bahwa tiap informasi yang diterima harus dapat divalidasi agar meminimalisir hoaks.

Sesi kedua diisi oleh Titi Anggraini selaku Direktur Eksekutif Perludem yang membahas mengenai platform Pintar Memilih. Platform ini adalah platform pendidikan pemilih berbasis web yang menyediakan informasi terkait Pemilu 2019. Titi menjabarkan bahwa semua orang dapat mengakses informasi calon legislatif yang ada. Sebagai penutup, Titi berpesan kepada partisipan untuk mengenal siapa pilihannya. Selanjutnya, Astari Yanuarti selaku Co-Founder Redaxi membahas gerakan anti hoaks yang bertujuan agar hoaks yang terjadi di Indonesia dapat diminimalisir. Astari menjabarkan langkah mudah tangkis hoaks, “Tahan jempolmu, saring sebelum sharing, cari klarifikasi dari mesin pencari, dan yang terakhir perbanyak konten positif,” tutup Astari di akhir perbincangannya.

Kontributor: Maritza Ayu

Editor: Vibi Larassati

LEAVE A REPLY