[RESENSI] Sebuah Esai Tentang Keluarga Cemara

0
381

“Kalau Abah sih, maunya di rumah…”

Dialog tersebut diucapkan dalam film Keluarga Cemara, ketika Abah—diperankan Ringgo Agus Rahman—berhasil membawa pulang sertifikat rumah yang sebelumnya hendak dijualnya, sekaligus mengurungkan niat untuk beranjak ke sebuah rumah susun di Jakarta.

Perkataan Abah tentang rumah di atas membawa persoalan lain. Bukankah tempat tinggal mereka sebelum pindah ke rumah Aki di Kabupaten Bogor juga sebelumnya mereka sebut rumah? Begitu halnya dengan rumah susun di Jakarta yang sempat mereka rencanakan untuk ditempati. Dari namanya, kita tahu bahwa tempat itu tidak lain memiliki kandungan kata “rumah” yang membentuknya.

Lantas, apa sebenarnya yang Abah maksud dengan sebutan rumah? Dan mengapa ia mengatakannya?

Saya jadi teringat di sebuah pelajaran sewaktu Sekolah Dasar. Bahwasanya fungsi dasar rumah tidak lain: meneduhkan diri dari hujan dan panas, berlindung dari binatang buas, dan menjadi tempat beristirahat.

Zen R.S, dalam esainya yang berjudul Memahami Rumah, berujar bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan rumah dengan begitu sederhana dan nyaris tanpa emosi, yakni: [1] Bangunan untuk tempat tinggal serta [2] Bangunan pada umumnya (seperti gedung).

Bolehlah dihafal. Akan tetapi, bagi Anda yang menolak pemaknaan otoritatif berdasarkan kamus, apalagi LKS bikinan pemerintah, film Keluarga Cemara merupakan pengecualian. Keluarga Cemara melampaui pemaknaan-pemaknaan itu.

Film ini, dengan pendefinisiannya yang khas akan rumah, mengingatkan saya akan novel berjudul Pulang karya Leila S. Chudori. Terkhusus ucapan dari salah satu tokoh dalam novel itu, Dimas Suryo, seorang eksil politik yang menetap di Paris selama puluhan tahun serta tidak dapat kembali ke Indonesia akibat gonjang-ganjing politik pasca Gerakan Satu Oktober. Ia berkata:

“Rumah adalah tempat keluargamu menetap. Rumah adalah tempat dimana aku merasa bisa pulang.”

Apartemen di Paris yang ditinggalinya selama puluhan tahun rasanya tidak memenuhi definisi yang dibuatnya. Dalam bentangan jarak ribuan kilometer dan ingatan samar-samar akan negeri asalnya, hati Dimas Suryo masih begitu terpaut dengan Indonesia. Dalam sebuah reminisensi yang kelam, Dimas menyimpan setoples cengkeh dan kunyit untuk merawat ingatannya akan aroma negara dimana ia lahir dan dibesarkan.

Dalam penantian panjangnya, Dimas tetap mendamba kepulangannya Indonesia. Kepada anaknya—sembari mengutip Charil Anwar—Dimas berujar, “Di Karet… rumahku yang akan datang.”

Pasca kejatuhan Orde Baru, keinginannya terpenuhi. Ke Karet, TPU Karet tepatnya: sebuah tempat yang tanahnya ia kenal bau dan teksturnya serta kelak, seiring waktu yang terkikis, menjadi satu dengan tubuhnya. Akhirnya Dimas Suryo benar-benar pulang ke rumah.

Itu Dimas Suryo, lantas bagaimana dengan Keluarga Cemara? Rasanya kita bisa mulai dari Ara.

Si kecil Ara—diperankan Widuri Sasono—yang baru berusia tujuh tahun, memunculkan sebuah oase di tengah kegetiran yang dialami keluarganya sekaligus memberi pemaknaan lain terhadap kegetiran itu sendiri. Anak berusia tujuh tahun yang belum mengerti konsep orang dewasa seperti kata “bangkrut” sebagaimana ia bersorak-sorai ketika mendengar kabar buruk itu, Ara justru bersyukur.

Mengapa tidak? Abah menjadi sering berada di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga, Emak memiliki kesibukan berjualan opak, dan Ara bisa sekamar dengan Teh Euis—diperankan Adhisty Zara—sehingga bisa mendekatkan diri layaknya saudara.

Abah yang sebelumnya seringkali dilanda kesibukan pekerjaan, pasca dilanda cobaan mulai dari menjadi tukang bangunan, kemudian patah tulang, hingga menjadi supir ojek online menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah sekaligus lebih mengenal anak-anaknya. Ia pun kemudian dapat merayakan ulang tahun Ara dan Euis. Secara sederhana memang; tetapi tetap dengan penuh kesyahduan, kebahagiaan, dan tentunya: tanpa terlambat.

Emak sebagai istri dari Abah dan ibu dari Euis dan Ara, tetap tabah menghadapi segala cobaan yang dialaminya. Emak tidak berpangku tangan, ia bahkan menawarkan Abah untuk menjual emas-emas perkawinan yang Emak miliki, meski Abah menolaknya. Emak akhirnya tanpa sungkan dan gengsi berinisiatif untuk berjualan opak—meski dalam kondisi hamil—guna menambah pemasukan.

Begitu juga Euis, perubahan kondisi ekonomi keluarganya membuatnya mendapatkan cara pandang lain. Sahabat-sahabatnya dulu sewaktu ikut kompetisi menari, ternyata telah menemukan personel penggantinya. Ia pun tergantikan dan seketika menjadi si liyan dari lingkaran pertemanan itu. Sebuah pertemanan dalam kesementaraan.

Di lain sisi, di sekolah barunya, Euis menemukan kawan-kawan baru yang tulus dan menemaninya di titik terendah hidupnya. Mereka membantu Euis berjualan opak guna menopang ekonomi keluarganya serta membela Euis dan bersedia dihukum berdiri di lapangan bersama-sama. Mereka adalah kawan sejati di kala kesusahan yang didera Euis.

Kebangkrutan ini tidak lain merupakan moment of truth bagi Keluarga Cemara. Rumah yang jauh lebih sempit dari rumah yang dulu ini justru semakin mendekatkan orang-orang di dalamnya sebagai sebuah keluarga, untuk lebih saling mendengar serta saling memahami.

Film ini kemudian ditutup dengan adegan Abah, Emak, dan Euis menghadiri pertunjukan Ara yang memerankan Pohon Cemara. Mereka menyambut Ara dengan tepuk tangan gemuruh, penuh kebahagiaan, dan datang tanpa terlambat.

Syahdan, setelah Abah kehilangan uang miliaran rupiah akibat ditipu kakak ipar sendiri, kemudian kehilangan pekerjaannya yang mapan dan banting setir menjadi supir ojek online, Emak terpaksa menjajakan opak agar dapur tetap mengepul, rumah beserta harta benda miliknya disita debt collector, hingga berakhir menempati sebuah rumah tua di Kabupaten Bogor; Keluarga Cemara tiba dalam sebuah penyadaran:

“Harta yang paling berharga adalah keluarga.”

Kontributor: Fadhil M. Firjatullah

Fadhil M. Firjatullah (Economics 2016), is a former Senior Analyst at Badan Otonom Economica. Though some people may consider him belongs to some extreme ideological spectrum, he prefers to call himself a flâneur. He currently suffers from a disease called golden-age thinking.

Editor: Vibi Larassati

LEAVE A REPLY