[KAJIAN ONLINE] Kenapa Perang Terhadap Narkoba Akan Selalu Gagal?

0
259

 

Perang terhadap narkoba bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita, terlebih setelah negara tetangga kita Filipina mulai melakukannya pada tahun 2016. Di bawah komando presiden  Rodrigo Duterte, Filipina melakukan salah satu perang terhadap narkoba yang paling berdarah sepanjang sejarah. Dalam upayanya memberantas narkoba, Duterte mengeluarkan kebijakan yang membolehkan para polisi dan masyarakat sipil untuk langsung menembak orang yang kedapatan memakai narkoba[1]. Kebijakan ini menghasilkan 7080 korban jiwa hanya dalam waktu tujuh bulan[2]. Sayangnya, strategi Duterte untuk membantai setiap pecandu dan pengedar narkoba untuk menghilangkan penyalahgunaan narkoba di negerinya terbukti tidak sukses; menurut hukum supply-demand, keseuksesan strategi ini seharusnya berimplikasi pada harga narkoba yang meroket akibat berkurangnya supply secara signifikan. Namun, data justru menunjukan bahwa harga narkoba mengalami penurunan dari $24 menjadi $20 untuk satu gram sabu[3]. Hal ini menunjukan bahwa supply narkoba tidak mengalami penurunan dan tetap stabil terlepas dari upaya memerangi narkoba yang sudah berlangsung berbulan-bulan.

Salah satu korban dari kebijakan perang terhadap narkoba di Filipina.

Sumber: CNN

Ternyata upaya untuk memerangi narkoba ini bukanlah hal yang baru. Sejarah mencatat 40 tahun yang lalu Amerika pernah melakukannya dibawah pimpinan presiden Richard Nixon[4]. Nixon mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan nama “Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act of 1970yang berisi pengetatan kontrol terhadap obat-obat yang dianggap rawan disalahgunakan[5] dan secara tegas mengkriminalisasi orang yang menyalahgunakan narkoba. Hal ini memicu meningkatnya jumlah tahanan akibat mengonsumsi narkoba di Amerika hingga mencapai 126% pada tahun 1980an[6], yang mana tentu saja sangat membebani budget Amerika Serikat karena satu tahanan secara rata-rata menghabiskan dana $11.733 per tahun[7]. Tren ini terus berlanjut hingga pada 1994 tercatat setidaknya ada satu juta orang Amerika setiap tahunnya yang masuk penjara disebabkan kasus penyalahgunaan Narkoba[8]. Hal ini membuktikan, memenjarakan orang yang menyalahgunakan narkoba tidak efektif dan hanya menghabiskan dana.

Selain di Amerika Serikat dan Filipina, contoh lain kacaunya kebijakan perang terhadap narkoba juga dapat dilihat di Nigeria. Di negara tersebut jika seseorang kedapatan mempunyai narkoba maka orang itu dapat dihukum hingga 25 tahun penjara, celakanya hukuman ini membuat para praktisi kesehatan di negara itu tidak memberi obat yang pas untuk pasiennya karena takut dianggap dan ditangkap sebagai pengedar narkoba. Akibat ketakutan ini, pada tahun 2013 tidak ada satupun dari 210.000 orang yang meninggal secara menyakitkan akibat komplikasi penyakit AIDS mendapatkan morfin untuk meredakan rasa sakitnya. Hal ini diperparah hukum yang tebang pilih hingga sering kali pengedar narkoba kelas kakap di Nigeria melenggang tanpa hukuman yang berat karena mereka mempunyai uang untuk menyuap penegak hukum di daerah tersebut[9]—uang yang tentu saja dengan mudah mereka dapatkan kembali dengan menjual narkoba secara illegal di negara itu.

Perang terhadap narkoba telah ditabuh dengan korupsi, kekerasan, pelanggaran HAM sebagai dampaknya. Namun, ternyata peperangan terhadap narkoba tidak menunjukan hasil yang menggembirakan meski sudah begitu banyak yang dikorbankan. Mengapa hal ini terjadi?

Balloon effect

Hampir semua usaha yang dilakukan pada beberapa dekade kebelakang hanya berfokus kepada menghilangkan supply dari Narkoba. Namun, sayangnya hal ini mengabaikan pasangan dari supply yaitu demand, menurut teori ekonomi jika kita mengurangi supply tanpa juga mengurangi demand dari barang tersebut maka harga barang tersebut akan mengalami kenaikan. Kenaikan harga mungkin akan membuat penjualan barang berkurang bagi banyak jenis barang, tapi hal ini tidak berlaku bagi narkoba. Pasar narkoba bersifat inelastis. Terima kasih kepada zat adiktif yang dimiliki oleh narkoba, pengguna narkoba akan membeli narkoba berapapun harganya dan bagaimanapun caranya. Jadi, hal ini akan membuat produsen narkoba untuk mencari tempat baru agar dapat memproduksi lebih banyak narkoba dan merekrut pengedar-pengedar baru untuk memasarkannya. Hal ini dinamakan balloon effect; suatu kondisi di mana produsen narkoba berpindah dari tempat di mana dia ditentang secara keras ke daerah yang resistensinya lebih rendah atau produsen dari daerah yang resistensinya rendah melebarkan sayap pemasarannya ke tempat yang sudah tidak mempunyai produsen akibat dihancurkan oleh pemerintah. Balloon effect membuat supply kepada pecandu narkoba tidak berkurang meskipun telah dihancurkannya tempat produksi yang ada di daerah atau negara si pecandu. Contoh dari balloon effect terjadi saat pada akhir dekade 90an narkoba jenis coca diberantas secara intensif di Peru dan Bolivia, hanya untuk digantikan oleh kebun-kebun coca baru di Kolombia[10].

Kebun coca di Kolumbia.*

Sumber: The Washington Post

Harm Reduction

Dengan alasan-alasan di atas maka jelas bahwa kita tidak dapat membendung narkoba dari sisi supply. Untungnya ada pendekatan lain yang tersedia, pendekatan ini disebut harm reduction. Harm reduction adalah kebijakan publik mengenai kesehatan yang didesain untuk mengurangi efek negatif sosial dan konsekuensi fisik yang diasosiasikan dengan banyak perilaku manusia, baik perbuatan legal maupun ilegal seperti penyalahgunaan narkoba. Harm reduction telah terbukti sukses dijalankan di Swiss untuk menanggulangi penyalahgunaan narkoba. Pada tahun 1980 Swiss mengalami krisis kesehatan publik yang terkait penyalahgunaan heroin, penderita HIV naik secara drastis dan kejahatan jalanan menjadi masalah yang serius. Untuk menjawab masalah ini pemerintah Swiss kemudian membuka Heroin-Mantainance Centre gratis untuk para pecandu. Di sana para pecandu akan diobati dan distabilkan, mereka juga diberi heroin dengan kualitas yang baik secara cuma-cuma, jarum suntik yang bersih, akses ke ruangan injeksi, tempat tidur, dan pengawasan medis. Selain itu, para pekerja sosial juga akan membantu mereka untuk berbaur kembali dengan masyarakat. Hasilnya adalah penurunan yang signifikan pada kejahatan yang berhubungan dengan narkoba, dan dua pertiga dari pecandu di HMC dapat kembali mendapatkan pekerjaan tetap karena mereka kini dapat fokus untuk sembuh dan kembali ke masyarakat alih-alih memikirkan cara untuk membeli heroin. Saat ini, lebih dari tujuh puluh persen dari seluruh pecandu heroin di Swiss telah mendapatkan penanganan, infeksi HIV melalui injeksi juga telah turun sebesar lima puluh persen dalam sepuluh tahun, kematian akibat overdosis heroin telah turun sebesar lima puluh persen dalam satu dekade, dan kejahatan jalanan akibat heroin juga telah turun secara drastis.

Salah satu ruangan Heroin Maintenance Centre di Swiss.*

Sumber: swissinfo.ch

Jadi, jelas bahwa ada metode yang tidak saja lebih murah tapi juga telah terbukti sukses menangani penyalahgunaan narkoba alih-alih menciptakan banyak masalah baru. Perang terhadap narkoba menuntun kita ke sistem yang menganggap enteng hak asasi manusia, menghabiskan banyak dana, menciptakan banyak penderitaan bagi manusia, semuanya demi mencapai tujuan yang tidak mungkin tergapai. Setelah banyak lembaran hitam berlumur darah yang tertulis akibat upaya perang terhadap narkoba, sudah saatnya kita menghentikan perang tanpa hasil ini dan bergerak maju ke sesuatu yang lebih baik, humanis, dan plausible yang dinamakan harm reduction.

 

 Daftar Pustaka :

Powell, B. (2019). The Economics Behind the U.S. Government’s Unwinnable War on Drugs – Econlib. [online] Econlib. Available at: http://www.econlib.org/library/Columns/y2013/Powelldrugs.html [Accessed 10 Feb. 2019].

Unodc.org. (2019). [online] Available at: https://www.unodc.org/documents/wdr2015/World_Drug_Report_2015.pdf [Accessed 10 Feb. 2019].

Vancouver, C. (2019). Four Pillars drug strategy. [online] Vancouver.ca. Available at: http://vancouver.ca/people-programs/four-pillars-drug-strategy.aspx [Accessed 10 Feb. 2019].

The Sydney Morning Herald. (2019). Swiss recipe for dealing with drug addiction proves a success. [online] Available at: http://www.smh.com.au/comment/swiss-recipe-for-dealing-with-drug-addiction-proves-a-success-20130622-2opcj.html [Accessed 10 Feb. 2019].

Nebehay, S. (2019). Swiss drug policy should serve as model: experts. [online] U.S. Available at: https://www.reuters.com/article/us-swiss-drugs/swiss-drug-policy-should-serve-as-model-experts-idUSTRE69O3VI20101025 [Accessed 10 Feb. 2019].

En.wikipedia.org. (2019). Harm reduction. [online] Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Harm_reduction [Accessed 10 Feb. 2019].

Campbell, B. (2019). Heroin-assisted treatment in Switzerland. – Transform Drug Policy Foundation. [online] Transform Drug Policy Foundation. Available at: http://www.tdpf.org.uk/blog/heroin-assisted-treatment-switzerland-successfully-regulating-supply-and-use-high-risk-0 [Accessed 10 Feb. 2019].

Catatan kaki :

[1] the Guardian. (2019). Philippines president Rodrigo Duterte urges people to kill drug addicts. [online] Available at: https://www.theguardian.com/world/2016/jul/01/philippines-president-rodrigo-duterte-urges-people-to-kill-drug-addicts [Accessed 10 Feb. 2019].

[2] Bueza, M. (2019). IN NUMBERS: The Philippines’ ‘war on drugs’. [online] Rappler. Available at: https://www.rappler.com/newsbreak/iq/145814-numbers-statistics-philippines-war-drugs [Accessed 10 Feb. 2019].

[3] Baldwin, C. and Marshall, A. (2019). More blood but no victory as Philippine drug war marks its first year. [online] U.S. Available at: https://www.reuters.com/article/us-philippines-duterte-drugs/more-blood-but-no-victory-as-philippine-drug-war-marks-its-first-year-idUSKBN19G05D [Accessed 10 Feb. 2019].

[4] YouTube. (2019). Richard Nixon War On Drugs 1972. [online] Available at: https://www.youtube.com/watch?v=bsrxpVUKUK0 [Accessed 10 Feb. 2019].

[5] En.wikipedia.org. (2019). Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act of 1970. [online] Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Comprehensive_Drug_Abuse_Prevention_and_Control_Act_of_1970 [Accessed 10 Feb. 2019].

[6] Justice.gov. (2019). DOJ: JMD: BS: Budget Trend Data, Federal Prison System Operating Cost Per Inmate. [online] Available at: https://www.justice.gov/archive/jmd/1975_2002/2002/html/page117-119.htm [Accessed 10 Feb. 2019].

[7] Austin J, McVey AD. The 1989 NCCD prison population forecast: the impact of the war on drugs. San Francisco: National Council on Crime and Delinquency, 1989.

[8] Grinspoon, L. and Bakalar, J. (2019). The War on Drugs — A Peace Proposal | NEJM. [online] New England Journal of Medicine. Available at: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199402033300513 [Accessed 10 Feb. 2019].

[9] Obasanjo, O. (2019). West Africa’s Failed War on Drugs | by Olusegun Obasanjo. [online] Project Syndicate. Available at: https://www.project-syndicate.org/commentary/west-africa-failed-war-on-drugs-by-olusegun-obasanjo-2018-09?barrier=accesspaylog [Accessed 10 Feb. 2019].

[10] En.wikipedia.org. (2019). Balloon Effect. [online] Available at: https://en.wikipedia.org/wiki/Balloon_effect [Accessed 10 Feb. 2019].

Kontributor : Ayyas Aulia Hakim

Editor : Miftah Rasheed Amir dan Sekar Sanding K.

Ilustrator : Liana Febrianti Ismail

Kajian Online adalah program kerja rutin Divisi Kajian B.O. Economica berupa tulisan argumentatif berlandaskan keilmuan yang mengangkat dan menanggapi fenomena sosial, politik, ekonomi, budaya dan teknologi dengan tajam, komprehensif dari sebuah sudut pandang.

*Gambar telah ditambahkan pada Sabtu, 16 Februari 2018

 

 

LEAVE A REPLY