DID: Trauma based, Fad or Possession?

0
141

Suatu hari anda mendapati kejanggalan pada kerabat anda. Ia bersikeras bahwa ia adalah seseorang yang lain. Identitas yang diyakininya berubah, dari nama, ingatan, perilaku, lengkap hingga hobi dan makanan kesukaannya. Mulanya anda mengira ia hanyalah berakting sebagai sebuah kelakar semata, akan tetapi seiring waktu kesungguhannya semakin menjadi-jadi hingga mengganggu kehidupan pribadi dan orang-orang di sekitarnya. Pun ketika ia kembali normal sewaktu-waktu, ia mengaku tidak mengingat apa-apa. Keanehan seperti dalam sebuah cerita fiksi, namun demikian fenomena ini dapat terjadi di dunia nyata dan tidak melibatkan unsur supernatural apapun. Lantas, apa yang telah terjadi?

 

Dissociative Identity Disorder (DID) merupakan salah satu kelompok gangguan disosiatif; amnesia, fugue, depersonalisasi dan gangguan identitas, di mana kepribadian atau identitas seseorang ‘terpecah’ menjadi dua atau lebih dan paling sering ditemui pasien memiliki delapan sampai tiga belas kepribadian. Pada beberapa kasus langka, seseorang bahkan mengaku memiliki 100 kepribadian. Setiap Alter ego atau kepribadian lain muncul silih berganti secara terus menerus. Alter ego yang mengambil alih memiliki keunikan masing masing. Bisa jadi alter ego satu dan lainnya mengklaim memori masa lalu yang berbeda beda. Dalam merespon lingkungan sekitar, tindak tanduk, kemampuan kognitif, fungsi motorik hingga religiusitas memiliki versi nya masing masing.

DID adalah akibat dari kegagalan seseorang mengintegrasikan beberapa aspek (identitas, memori, dan kesadaran) menjadi satu kesatuan yang padu. Biasanya identitas utama orang tersebut bersifat inferior, sensitif, pasif, dependen, rendah diri dan mudah stres. Alter ego mengambil alih untuk menambal celah kepribadian utama tersebut. DID berbeda dengan gangguan kepribadian lain seperti bipolar, borderline, dan depresi. DID menitikberatkan pada kepribadian atau identitas seseorang, sedangkan bipolar adalah perubahan suasana hati yang ekstrim sehingga menimbulkan persepsi bahwa pengidapnya berkepribadian ganda.

 

Faktor Penyebab DID

Faktor paling umum yang dapat mendisosiasi seseorang  adalah kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Seperti dipaparkan dalam buku Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders, kenaikan kasus pelecehan seksual dan kekerasan pada anak di bawah umur mengimplikasi bertambahnya laporan kasus DID. Di Amerika dan Kanada, prevalensi anak di bawah umur yang mengalami kekerasan sekaligus menderita kepribadian ganda mencapai 90%, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan kausalitas antara interpersonal abuse dan Dissociative Identity Disorder.

DID diduga merupakan salah satu bentuk self defense mechanism individu dalam menghadapi trauma. Munculnya DID disebabkan oleh otak yang mencoba untuk beradaptasi agar individu dapat bertahan hidup dengan trauma yang ia miliki. Apabila timbul pertanyaan dalam benak kita mengapa kekerasan pada anak zaman sekarang acap kali menimbulkan gangguan mental, sedangkan bila disandingkan dengan pola asuh orang tua zaman dulu yang relatif lebih keras dari sekarang tapi jarang ditemui gangguan mental yang berarti? Itu karena yang menjadi masalah adalah tindakan abusive nya, bukan pola asuh yang keras.  Mungkin pada zaman itu orang tua mengasuh anaknya dengan keras tapi konsisten dengan kekerasan itu, bukan melakukan tindakan tarik ulur yang menggerogoti mental sang anak. Alasan lain yaitu pada masa lalu kekerasan dibutuhkan untuk bertahan hidup. Sedangkan sekarang, di mana semuanya serba instan, kekerasan seperti itu tidak lagi dibutuhkan, sehingga seorang anak dengan mental tidak tahan banting akan langsung breakdown setelah mendapatkan perlakuan kasar.

Individu yang menderita gangguan identitas disosiatif kerap merasakan bahwa mereka tiba-tiba menjadi pengamat yang ter-depersonalisasi dari ucapan dan tindakan mereka sendiri. Mereka tidak berdaya untuk menghentikannya atau dapat dikatakan kehilangan sense of self. Penderita juga melaporkan mendengar persepsi suara, misalnya suara anak, tangisan, atau makhluk spiritual yang menggaung dalam kepalanya. Dalam beberapa kasus, suara-suara yang didengar adalah aliran pemikiran independen dan penderita tidak memiliki kontrol akan hal tersebut. Selain itu, penderita dapat merasa seperti ada yang tiba-tiba berbeda dengan tubuh mereka, misalnya jadi seperti anak kecil, lawan jenis, atau lebih besar dan berotot. Perubahan dalam arti diri dan hilangnya agensi pribadi dapat disertai dengan perasaan bahwa sikap, emosi, perilaku, dan bahkan tubuh mereka saat itu  adalah “bukan milik saya” dan/atau “tidak di bawah kendali saya.” Meskipun sebagian besar hal ini bersifat subjektif, diskontinuitas di atas diperkuat oleh kesaksian keluarga, teman, atau dokter.

Dalam penelitian berkurun waktu 12 bulan, prevalensi kasus Dissociative Identity Disorder pada kalangan orang dewasa di Amerika Serikat adalah 1.5%. Prevalensi dari masing-masing gender adalah 1.6% untuk laki laki dan 1.4% untuk perempuan. DID memang cukup langka. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 1% populasi dunia yang diduga mengidap DID. Persentase tersebut diprediksi mengalami akselerasi apabila merujuk pada hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan tindak kekerasan terhadap anak.

 

Sepenggal Kisah Penderita DID

Polaritas antara satu kepribadian dengan lainnya yang berbeda 180 derajat tentu mempengaruhi kehidupan sosial individu pengidap DID. Sesuai dengan salah satu kriterianya, seseorang dapat dinyatakan DID apabila individu tidak menyadari beberapa identitas yang mereka miliki sehingga ia tidak mampu mengingatnya. Dalam sebuah jurnal yang mengangkat kasus DID di India, misalnya, seorang gadis berusia 14 tahun terpecah kepribadiannya menjadi seorang laki-laki dewasa. Sifat keduanya bagaikan bumi dan langit. Ketika menjadi ‘laki-laki’ ia tidak mengenali orang di sekitarnya dan tidak merasa memiliki barang yang menggeletak di kamarnya Ketika ditanyai sejarah masa lalunya, ‘lelaki’ itu hanya terdiam dengan tatapan penuh tanda tanya. Anomali lain seperti tumbuhnya minat melukis dan preferensi terhadap makanan tertentu turut menyertai alter ego tersebut. Anak yang beberapa hari sebelumnya dikenal manis dan pemalu menjelma menjadi seseorang berwatak tegas, banyak bicara, pandai bergaul, serta berkarakteristik pria dewasa lainnya yang menjadi stereotip umum. Menyaksikan perubahan mengejutkan dari sang anak, kedua orang tuanya terpaksa memutus sekolah gadis malang itu untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Pada eksplorasi data historis lebih lanjut, diketahui bahwa sekitar 2 tahun sebelumnya, ayah dan kakak perempuannya meninggalkan rumah dan tinggal secara terpisah darinya. Tidak ada hubungan lagi sejak perpisahan, begitu juga dengan komunikasi di antara mereka. Pasien yang sangat dekat dengan saudarinya pun merasa sangat terpukul. Kesedihan yang terus menerus ini semakin parah hingga mencapai titik individu tersebut kehilangan minat akan hidupnya. Setiap hari ia menulis akan kegundahan hatinya dalam sebuah surat namun tidak pernah ditujukan pada siapapun. Kondisi gadis itu kian memilukan dan dalam satu tahun terakhir, ia dilaporkan sering mengalami episode ‘pingsan’ yang berulang ulang, hilang kesadaran,  inkontinensia dan sering menggigit lidah sendiri. Episode ‘kumat’ itu biasanya berlangsung 30 menit dalam frekuensi sekali dalam 10-15 hari hingga 10-15 kali dalam sehari.

Lantas di suatu pagi setelah episode depresif tersebut, ia ditemukan dalam keadaan terdisosiasi menjadi laki-laki. Semenjak momen itu keadaan serupa terus berepetisi dengan siklus 10-15 hari alter ego memegang kontrol, setelah itu secara tiba tiba kembali ke kondisi normal selama 1-2 hari sebelum esoknya terdisosiasi lagi dan begitu lagi seterusnya. Dalam kondisi identitas normal, ia tidak akan mengingat apa saja yang telah dialami alter ego-nya. Berdasarkan penelusuran lebih lanjut dari catatan masa lalunya, tidak ditemukan riwayat kejang, trauma atau penyalahgunaan zat, pun riwayat kelahiran dan masa kecilnya dinilai normal. Sejarah keluarga tidak ada kontribusi yang berarti, hasil tes neurologis mendetail, Laporan CT scan (otak) dan EEG pun ditemukan normal.

 

Kriteria dan Penanganan

Dissociative Identity Disorder bukanlah fad atau possession. DID adalah gangguan psikologi yang terbukti secara empiris. ‘’Meskipun terlihat seperti kerasukan, namun DID tidaklah sama dengan fenomena possession.‘’ ujar Savira Anjani, asisten psikolog klinik Psikologi UI. Untuk dinyatakan sebagai gangguan identitas, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi lantaran DID adalah kasus yang kompleks. Kriteria tersebut yaitu, pertama, adanya 2 atau lebih identitas dalam seorang individu. Perbedaan yang signifikan antara identitas harus terlihat pada aspek perilaku, kesadaran, memori, persepsi, kognisi dan fungsi sensorimotor; kedua, individu tidak menyadari beberapa identitas yang dimiliki sehingga ia tidak mampu mengingatnya. Biasanya kehadiran identitas lain disadari oleh orang terdekat terlebih dulu; ketiga, simtom yang disebabkan menghasilkan stres yang signifikan lantas mengganggu aspek sosial, okupasi atau area penting lainnya; keempat, gangguan bukanlah bagian dari praktek religius atau budaya; dan kelima, gangguan tidak diatribusikan oleh efek obat-obatan atau kondisi medis lainnya.

Lebih dari 70% pasien dengan DID melakukan percobaan bunuh diri. Jumlah yang lebih banyak lagi adalah self-harm yang dilakukan oleh penderita. Kegelisahan individu tersebut akan penyakit yang diidapnya memang belum dapat dituntaskan sepenuhnya, lantaran DID memang tidak dapat disembuhkan.

Savira menjelaskan lebih lanjut bahwa dapat diberikan intervensi untuk simtom-simtom DID. Dengan teknik psikoterapi untuk individu, keluarga, atau grup dapat membantu individu meningkatkan kualitas hubungannya dengan orang lain dan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tidak nyaman, sehingga individu mampu mengekspresikan perasaan dan kejadian traumatis yang pernah dialaminya. Cognitive behaviour therapy juga dapat meningkatkan mindfulness dan mengurangi respon negatif terhadap stressor.

Untuk meminimalisir gesekan yang terjadi sekaligus meringankan beban individu yang mengidap DID, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyikapi seorang individu yang menderita gangguan tersebut. Pertama, adalah tidak judgemental. Coba edukasi diri tentang DID, salah satunya dengan mengenali simtomnya apa saja dan akui bahwa DID memang sebuah gangguan. Kedua, bantu individu untuk menghindari stressor yang membuatnya tidak nyaman. Hal ini berguna untuk mencegah ‘’switch’’ identitas. Ketiga, jika individu terlanjur diambil alih oleh alter ego, just go with the flow. Keempat, dukung individu untuk mendapatkan bantuan profesional; dan terakhir, jangan terlalu banyak bertanya. Jika individu menunjukkan ketidaknyamanan, hentikanlah pertanyaan dan pembahasaan lebih lanjut.

 

Penulis: Salsabila Raki

Editor: Pieter Hans

Referensi:

Coons, P. M. (1988). Psychophysiologic Aspects of Multiple Personality Disorder: A Review. Dissociation, 1(1), 47-53.

Piper, A., Merskey, H. (2004). The Persistence of Folly: A Critical Examination of Dissociative Identity Disorder. Part I. The Excesses of an Improbable Concept. The Canadian Journal of Psychiatry, 49(9), 592-600.

Gupta, A., Kumar, D. (2005). Multiple Personality Disorder – A Case Report From Northern India. German Journal of Psychiatry, 8, 98-100.

Brand, B. L., Sar, V., Stavropoulos, P., Krüger, C., Korzekwa, M., Martínez-Taboas, A., & Middleton, W. (2016). Separating Fact from Fiction: An Empirical Examination of Six Myths About Dissociative Identity Disorder. Harvard Review of Psychiatry, 24(4), 257–270.

American Psychiatric Association, 2013, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5).

LEAVE A REPLY