Fanatisme Buta Berujung Petaka

0
192

Animo penonton sepak bola di Indonesia terhitung sebagai yang terbesar di Asia, terbukti dari jumlah suporter terbanyak pada saat Piala AFC grup Z yang mencapai 60.157 penonton. Luis Milla, eks pelatih tim nasional sepak bola Indonesia sekaligus eks pemain salah satu raksasa sepak bola dunia, Barcelona, pun mengakui atmosfer dan gairah suporter sepak bola Indonesia adalah hal terbaik tentang sepak bola Indonesia. Meski tingginya animo suporter sepak bola Indonesia belum diiringi dengan prestasi yang sebanding, hal tersebut tak lantas mengurangi antusiasme dan fanatisme mereka.

Antusiasme dan fanatisme, terutama di ranah sepak bola, seringkali menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, hal ini dapat menjadi keindahan di luar lapangan, melihat peran suporter sebagai “pemain ke-12” yang acap kali mampu mengubah permainan di dalam lapangan. Namun, tidak jarang pula antusiasme disertai fanatisme berlebihan, dengan menghalalkan segala cara misalnya, justru memakan korban.

Sejak tahun 1995, sejarah mencatat sudah ada 69 korban jiwa akibat kekerasan antarsuporter dalam dunia sebak bola Indonesia. Beberapa hari yang lalu, seorang Jakmania bernama Haringga Sirila menjadi korban ke-69. Korban tidak menghiraukan imbauan Kepolisian Jawa Barat untuk tidak datang ke pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta Minggu, 23 September lalu. Nahas, korban yang tidak memakai atribut Persija Jakarta, diketahui identitasnya oleh oknum suporter Persib. Terbakar oleh fanatisme buta, kerumunan langsung mengeroyoki korban menggunakan alat-alat seperti papan kayu, pipa besi, dan piring hingga korban tewas. Beberapa kerumunan lainnya merekam kejadian tersebut, tanpa ada satupun yang mencoba membantu korban. Dalam video rekaman penganiayaan yang tersebar, salah satu dari kerumunan hanya berteriak tanpa aksi lanjutan untuk menghentikannya.

Imbasnya, Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI) mengeluarkan pernyataan untuk tidak melakukan pertandingan pada minggu ke-24 gelaran Liga 1 apabila para suporter tidak membuat nota damai. Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) membekukan Liga 1 per 26 November 2018 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Sebuah langkah yang harus diambil untuk memberikan efek jera kepada oknum-oknum suporter fanatik sepak bola. Beberapa solusi lain yang lebih berani perlu diberlakukan untuk mencegah adanya korban jiwa. Denda terhadap klub dan pelarangan suporter tandang untuk datang terbukti tidak efektif untuk meredam kekerasan dalam sepak bola. Bambang Pamungkas melontarkan ide hukuman agar klub terkena pengurangan poin apabila suporternya terbukti melakukan kekerasan. Hukuman tersebut dapat membuat suporter fanatik untuk berpikir dua kali dalam memuaskan ego fanatiknya yang dituangkan dalam kekerasan kepada suporter tim lawan.

Fanatisme merupakan hal yang lumrah dan wajar adanya ketika dilakukan tanpa merugikan diri sendiri, terlebih pihak lain. Fanatisme sendiri dapat diartikan sebagai sebuah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap suatu hal secara berlebihan. Adapun, fanatisme tidak sama dengan anarkisme yang menghalalkan segala cara, tidak terkecuali kekerasan untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap suatu hal. Peristiwa tragis yang menewaskan Haringga Sirila tentu saja bukan merupakan wujud rasa cinta terhadap sepak bola. Jika dibandingkan dengan permainan pun bahkan pemain di atas lapangan akan kembali berdamai dengan siapapun lawannya diatas lapangan. Hal ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri tentang cermin sepak bola di Indonesia yang dikenal dengan atmosfer penontonnya yang luar biasa. Banyak suporter sepak bola Indonesia yang bertanya-tanya “Kapan tim nasional Sepak bola Indonesia bisa berlaga di piala dunia?”, seharusnya para suporter inilah yang bertanya kepada dirinya sendiri “Apakah citra sepak bola seperti ini yang ingin ditunjukkan Indonesia kepada dunia?”.

Referensi

Shufi, Ardy Nurhadi. “Tentang Haringga Dan Keganasan Suporter Di Indonesia.” Pandit Football Indonesia, 24 Sept. 2018, www.panditfootball.com/editorial/211966/ANS/180924/tentang-haringga-dan-keganasan-suporter-di-indonesia.

Pradigdo, Benediktus Gerendo. “Ide Bambang Pamungkas Untuk Hentikan Kekerasan Di Sepak Bola Indonesia.” liputan6.Com, Liputan6, 25 Sept. 2018, www.liputan6.com/bola/read/3652101/ide-bambang-pamungkas-untuk-hentikan-kekerasan-di-sepak-bola-indonesia.

Rida, Muhammad Ivan. “Suporter Persija Tewas, PSSI Bekukan Liga 1 2018.” liputan6.Com, Liputan6, 25 Sept. 2018, www.liputan6.com/bola/read/3652322/suporter-persija-tewas-pssi-bekukan-liga-1-2018.

Djumena, Erlangga. “Kronologi Pengeroyokan Ricko, Bobotoh Persib Yang Meninggal Dunia.” KOMPAS.com, Kompas.com, 28 July 2017, regional.kompas.com/read/2017/07/28/07535911/kronologi-pengeroyokan-ricko-bobotoh-persib-yang-meninggal-dunia.

Kontributor: Anugerah Tryandi Wiratama, Vincent Gunawan

Editor: Emily Sakina Azra, Komang Gita P.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY