[RESENSI] Film Pulp Fiction: Sebuah Karma Kehidupan

0
99

Honey Bunny     : “This place? A coffee shop?”

Pumpkin              : “Why not? Nobody ever robs restaurants. Bars, liquor stores, gas stations… You get your head blown off sticking up one of them. Restaurants on the other hand, you catch with their pants down. They’re not expecting to get robbed. Not as expectant anyway.”

***

Honey Bunny     : “I love you, Pumpkin.”

Pumpkin              : “I love you, Honey Bunny.”

 

Pumpkin              : [berdiri dengan senjata] “All right, everybody be cool, this is a robbery!”

Honey Bunny     : “Any of you fucking pricks move, and I’ll execute every motherfucking last one of ya!”

***

Dua puluh empat tahun silam, Quentine Tarantino merilis film keduanya setelah “Reservoir Dogs”, yaitu “Pulp Fiction” di acara New York Film Festival (NYFF). Mengusung gaya neo-noir, film “Pulp Fiction” mengantarkan sang penulis, bersama rekannya Roger Avary, memboyong Piala Oscar untuk kategori The Best Original Screenplay atau Naskah Asli Terbaik pada tahun 1995. Berbeda dari film-film Hollywood pada masanya, “Pulp Fiction” menyuguhkan kisah dari mafia yang menjalankan tugas dengan perjuangannya sendiri, lengkap dengan guyonan-guyonan renyah dan aksi komedi. “Pulp Fiction” memiliki alur cerita yang non-linear namun sangat rapih terhubung satu sama lain yang menjadikanfilm ini unik dengan daya pikatnya sendiri. Selain alur yang menarik, film tersebut juga memaksa penonton untuk menafsirkan sendiri apa yang disaksikannya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan film-film Hollywood pada eranya yang cenderung mudah ditebak. Berdasarkan judulnya sendiri yang mengandung kata pulp—yang dalam Bahasa Indonesia artinya adalah majalah murah, tidak heran jika sebagian penonton menganggap tidak adanya moral ataupun menganggap film ini hanya angin lalu. Tetapi menurut penulis, film ini mempunyai moral yang cukup tersirat. Pulp Fiction mempunyai moral, yang tidak lain ialah tentang karma kehidupan.

 

(Warning: Spoiler Alert!)

Vincent Vega and Marsellus Wallace’s Wife

Pada awal film dimulai, diceritakan Vincent Vega yang harus menjaga istri dari bos mafianya, Marsellus Wallace yang merupakan seorang pecandu. Ia memutuskan untuk membawanya ke sebuah club yang akhirnya menunjuk mereka menjadi Pasangan Dansa Terbaik malam itu. Jika film Hollywood kebanyakan menyajikan pasangan bercumbu setelah pesta, “Pulp Fiction” menghadirkan plot-twist yang sangat menghibur. Diceritakan sesampainya di rumah, Mia harus terkena overdosis akibat candunya.

 

Gold Watch

Pada bagian kedua film, yaitu Gold Watch, dikisahkan seorang petinju, Butch Coolidge yang disuap oleh Wallace untuk mengalahkan pertandingan tinjunya. Tetapi, Butch berkhianat dan tetap memenangkan pertandingan bahkan hingga membunuh lawannya. Singkat cerita, Butch harus kembali ke apartemen lamanya untuk mengambil jam tangan warisan Sang Ayah yang tertinggal. Adapun jika ia kembali ke area apartemen tersebut, Wallace dan anak buahnya dapat menangkap Butch dengan sangat mudah. Kendati demikian, ia tidak gentar dan tetap memutuskan mengambil barang peninggalan tersebut. Mereka saling kejar mengejar hingga tersesat di toko peralatan bekas. Ternyata, toko tersebut dimiliki oleh kedua orang pemerkosa sesama jenis. Butch dan Wallace terpaksa ditahan pada basement toko tersebut.

 

Bonnie Situation

Pada bagian terakhir film, yaitu Bonnie Situation, menceritakan seorang rekan mafia yang tidak sengaja tertembak di dalam mobil oleh Vincent, rekannya sendiri. Diawali dengan rasa panik dan tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan, Vincent dan Jules memutuskan untuk meminta bantuan temannya, Jules Winnfield, untuk membersihkan mobil tersebut dan membuangnya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk pergi sarapan di restoran tempat Pumpkin dan Honey Bunny berencana merampok, Hawthorne Grill.

 

Sebab-Akibat yang Terjadi

Vincent Vega

Vincent diceritakan memberikan obat-obatan terlarang kepada istri dari bosnya hingga mengalami overdosis. Selanjutnya, Vincent tidak sengaja membunuh rekannya sendiri, Bonnie, setelah berhasil lolos dari tembakan peluru bertubi-tubi yang ditembakkan saat ia dan Jules melabrak mantan rekan bisnis bosnya yang berkhianat. Vincent menanggap hal tersebut hanyalah keberuntungan belaka dan mengabaikan pendapat Jules, yaitu hal tersebut adalah mukjizat dari Tuhan. Setelah semua ‘keberuntungan’ yang terjadi, Vincent menerima akibatnya, yaitu ditembak hingga mati bertubui-tubi dengan peluru oleh Butch yang sedang kembali ke apartemennya untuk mengambil jam tangannya yang tertinggal.

 

Butch Coolidge

Butch diceritakan adalah seorang petinju yang mengkhianati Wallace, seorang mafia, karena ia tidak mau berurusan lagi dengan kasus kejahatan. Butch harus menghampiri apartemen lamanya yang dijaga oleh Wallace lengkap dengan anak buahnya untuk mengambil jam tangan warisan Sang Ayah. Padahal, ia dan pacarnya, sudah nyaman pada tempat persembunyian untuk meninggalkan kota. Singkat cerita, Butch bertemu dengan Wallace yang akhirnya menempatkan mereka di basement toko yang dimiliki oleh pemerkosa sesama jenis. Dengan bekal kemampuan tinjunya, Butch dapat melepaskan diri dari ikatan kursi di basement. Tetapi, Butch memutuskan untuk tidak langsung pergi dan menolong Wallace (yang sudah ia khianati) yang sedang diperkosa oleh pemilik toko. Setelah semua hal tersebut, Butch pantas untuk menerima ganjaran atau karma yang baik sehingga berhasil pergi keluar kota bersama pacarnya.

 

Jules Winnfield

Jules diceritakan bahwa ia percaya akan keberhasilannya menghindari peluru tidak lain adalah karena mukjizat dari Tuhan. Pada pagi hari yang sama, Jules dapat mengatasi dan tidak melaporkan aksi perampokan yang dilakukan Pumpkin dan Honey Bunny. Bahkan, Jules dapat membuat mereka berdua kapok dan tidak akan merampok kembali. Setelah itu juga, Jules memutuskan untuk keluar dari keanggotaan mafia dan menghindari kejahatan. Setelah semua hal tersebut, pada akhirnya Jules menjadi manusia yang lebih baik dan hidup bahagia selamanya.

 

 

 

 

Kontributor: Arga Taufiq Fairuza

 

LEAVE A REPLY