[OPINI] Analogi Seorang Pemimpin

0
237

Beberapa bulan terakhir, Presiden Joko Widodo bersikap dan melakukan beberapa kegiatan yang menurut pandangan sebagian orang tidak biasa dilakukan oleh seorang presiden. Diantaranya ketika presiden memerintahkan Paspampres mengenakan pakaian smart casual berupa kaos berkerah dan jeans ketika sedang bertugas, atau ketika beliau  mengajak ajudannya bertanding setelah melakukan latihan tinju, dan terakhir saat Ia ikut serta dalam lomba kicau burung yang diadakannya di Kebun Raya  Bogor. Ketiga kegiatan tersebut sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang presiden, sehingga hal tersebut  menimbulkan taanda tanya, “Apa maksud dari semua peristiwa yang menyangkut sikap dan kegiatan yang dilakukan oleh presiden?”

Jokowi adalah presiden yang dibesarkan dan dididik  dengan budaya Jawa. Masyarakat Jawa, terutama Solo, dikenal dengan sikapnya yang halus. Karena itu, orang Jawa dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara dan bertutur kata untuk mencegah ketidaknyamanan pihak lain, terlebih ketika yang disampaikan  merupakan hal yang dapat menyinggung sebagian pihak. Meski begitu, cara penyampaian tersebut mengandung kelemahan yaitu kurang dapat menyampaikan pesan secara utuh karena cenderung tidak langsung membicarakan inti pesan. Namun jika diperhatikan dengan baik, pesan yang sebenarnya disampaikan Jokowi dari kegiatan “unik”-nya memiliki suatu makna yang tersirat.

 

Celana Jeans Paspampres

Paspampres identik dengan pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian dengan setelan jas dan kacamata hitam. Mengesankan kesigapan, kewibawaan, dan bersikap selalu siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang mengancam keamanan presiden. Atribut formal dan sikap tegas yang melekat pada image Paspampres, terkadang membuat masyarakat merasa tidak nyaman jika ingin mendekat atau berjabat tangan dengan presiden dalam suatu kunjungan tertentu, karena sikap Paspamres yang terkesan  tidak ramah dan selalu mencurigai tindakan masyarakat.

Untuk mengurangi kesan negatif dan menggantinya dengan kesan positif, Jokowi memerintahkan para Paspampres untuk mengenakan pakaian smart casual berupa kaos berkerah dan jeans. Penggunaan baju kasual oleh Paspampres selain menimbulkan kesan ramah, dapat juga dimaknai sebagai pesan yang ditujukan untuk komunitas masyarakat tertentu yang berpenampilan “ramah”, namun justru menunjukkan perilaku negatif, seperti tidak ramah dan berperilaku kasar. Dari kejadian inilah kepekaan kita sebagai masyarakat yang menganut budaya Timur diuji.

 

Tantangan Tinju Jokowi

Seorang Jokowi yang bertubuh kurus dan tidak memiliki latar belakang olahragawan mengajak ajudannya bertanding tinju. Peristiwa ini dapat diartikan dari berbagai sudut pandang. Bagi pihak yang tak acuh, mereka akan menampik pesan yang sebenarnya ingin disampaikan Jokowi dengan mengartikan bahwa peristiwa tersebut hanya untuk mencari popularitas belaka sehingga pesan yang sebenarnya, tidak tersampaikan dengan baik, dan justru akan berefek negatif terhadap Jokowi sendiri.

Olahraga tinju adalah olahraga yang menjunjung sportifitas tinggi. Kedua petarung dihadapkan dalam satu ring dan dikelilingi oleh penonton yang masing-masing memiliki jagoan yang didukungnya. Semua penonton beriuh rendah, tetapi mereka tidak bersikap anarkis terhadap penonton lain yang mendukung lawan jagoannya. Mereka bisa menonton berdampingan meskipun berbeda dalam pilihan jagoan. Sementara petarung atau petinju yang berhadapan melakukan pertarungan sesuai aturan yang ada, sehingga setiap pihak yang melakukan pelanggaran akan diberikan sanksi secara adil oleh si wasit. Karena aturan yang ada selalu dijunjung setiap pihak, jarang sekali ditemukan kecurangan dalam pertandingan tinju. Hal itulah yang dapat dijadikan contoh oleh setiap warga negara, salah satunya dalam menjalankan program terdekat yakni PILKADA dan PILPRES 2019.

Menjelang acara PILKADA dan PILPRES 2019 yang dilakukan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia, beredar berita-berita tanpa data yang lebih mengarah pada fitnah (Black Campaign) untuk menjatuhkan lawan dengan cara tidak bermartabat, seperti munculnya isu kebangkitan PKI maupun isu SARA. Maka sudah sepatutnya seluruh pihak yang berperan dalam pelaksanaan PILKADA dan PILPRES ini juga menjunjung aturan yang telah ditetapkan dan tidak melakukan kecurangan, seperti yang dianalogikan dalam pertandingan tinju tadi.

 

Kekalahan Sang Presiden

Juri di perlombaan kicau burung yang diadakan di lingkungan Kebun Raya Bogor memutuskan kekalahan presiden. Hal ini mengandung pesan bahwa seorang juri haruslah dapat menilai dan memutuskan perkara secara bijak dan objektif tanpa memandang siapa  peserta pertandingan. Demikian pula yang seharusnya dilakukan oleh seorang hakim dalam memutuskan suatu perkara di pengadilan. Hakim dituntut untuk berlaku bijak dalam memutus suatu perkara agar tercipta suatu keadilan di masyarakat, sehingga tidak ada lagi istilah “hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas”. Keputusan yang bijak yang dilakukan oleh hakim akan berdampak lebih lanjut terhadap ketertiban dalam berpolitik dan kehidupan dalam masyarakat.

Bila masyarakat mencoba untuk lebih peka dan memaknai pesan yang dibawa melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perilaku Jokowi, maka masyarakat sebenarnya dapat mengambil makna tersirat dan patut untuk diterapkan dalam berkehidupan bernegara. Bukannya mengartikan peristiwa tersebut menjadi sesuatu yang negatif maupun bersikap tidak peduli.

 

 

 

Kontributor: Larasati Wardhani

LEAVE A REPLY