Hidup di Krisis Privasi

0
332

Dalam pemilu, calon pemimpin saling berlomba memenangkan singgasana. Layaknya seorang pembalap, kemampuan mengemudi di rumitnya sirkuit pesta demokrasi bukan faktor utama menjadi pemenang. Mesin pun turut memiliki andil yang besar. Dalam pemilu, suara rakyat adalah motor utama seorang calon bisa berdiri di podium. Upaya mengoptimalkan kinerja mesin, dalam hal ini dengan mengenali dan memengaruhi suara rakyat, adalah pokok dari delik Cambridge Analytica. Peran Facebook dalam Pemilu Amerika Serikat 2016 semakin nyata dengan berkembangnya fakta baru bahwa sebuah lembaga riset dari Inggris yang bernama Cambridge Analytica telah menyedot 50 juta data pengguna Facebook secara ilegal. Cambridge Analytica sendiri ditunjuk Donald Trump untuk mengurusi kampanyenya dalam pemilu.

Cambridge Analytica merekrut seorang profesor peneliti untuk mengumpulkan 270.000 profil pengguna Facebook guna menentukan pemilih potensial pada pemilu 2016. Aleksandr Kogan membentuk app bernama “thisisyourdigitallife”. Aplikasi ini bisa diakses dengan menghubungkan ke akun Facebook, jika pengguna tidak mau membuat username dan sandi sendiri dalam proses registrasi. Kebijakan data Facebook kala aplikasi itu diperkenalkan, tahun 2015, tidak hanya memberikan informasi personal ke pengembang aplikasi tersebut, melainkan juga seluruh informasi personal teman dan koneksi pengguna tersebut. Dengan 270.000 pengguna memiliki rata-rata 200 teman, aplikasi ini bisa mendapatkan 50 juta data dalam jangka waktu singkat. Seluruh aktivitas ini sebenarnya masih legal kebijakan Facebook. Permasalahannya adalah Kogan menjual data tersebut ke Cambridge Analytica. Pada saat inilah pelanggaran terjadi.

Bagaimanakah data tersebut bisa terkumpul? Pada saat mendaftarkan diri di Facebook, pengguna akan diminta untuk memberikan nama depan, nama belakang, nomor seluler atau email, ulang tahun, dan jenis kelamin. Kemudian, pengguna selalu diminta untuk bersedia, atau lebih tepatnya dipaksa bersedia, untuk menyetujui ketentuan pengguna dan menyatakan telah membaca kebijakan data Facebook. Persetujuan ini memberikan keleluasaan Facebook untuk mengetahui segala aktivitas pengguna selama berselancar di sosial media tersebut.

Dilansir dari Hackernoon, Facebook memberikan pengguna kemudahan untuk mengunduh arsip seluruh interaksinya. Laporan ini membeberkan bahwa pengguna telah menyerahkan seluruh privasinya kepada Facebook, termasuk semua profil, status, pesan, teman, colekan, foto, video, komentar, dan kegiatan. Facebook juga tidak pernah menghapus data penghapusan teman, hubungan, tempat kerja, dan nama yang pernah pengguna hapus selama menggunakan jejaring ini. Waktu pembukaan, lokasi, alamat IP, browser dan perangkat yang digunakan juga direkam Facebook. Data dari penggunaan Facebook secara rutin cukup untuk menentukan pola hidup pengguna dengan sangat tepat: alamat rumah dan tempat kerja, perjalanan sehari-hari, waktu bangun tidur, durasi perjalanan dan tujuan, dan sebagainya. Seluruh data yang dimiliki Facebook juga cukup untuk mengenali wajah seseorang pada satu dari 800 juta gambar dalam waktu kurang dari lima detik dengan tingkat akurasi 98%.

Apakah data yang kita berikan ke Facebook sebanding dengan pelayanan yang kita dapatkan? Semua tergantung dari kita sebagai pengguna. Facebook memberikan kita kemudahan untuk terhubung dengan orang lain. Dibalik akses gratis yang kita dapat, Facebook mengumpulkan data personal pengguna dan menjualnya ke perusahaan. Kita mengenal “big data” sebagai alat yang dipakai perusahaan untuk mencapai target konsumennya. Facebook berhasil mendekatkan pengguna ke perusahaan-perusahaan, dengan keuntungan sebagai objektif  utamanya.

Pasca skandal Cambridge Analytica, berbagai pihak mulai menarik kepercayaannya dari Facebook. Salah satu penemu WhatsApp, yang dibeli pada tahun 2014 senilai 16 miliar USD, Brian Acton, menyuarakan kampanye #deletefacebook melalui akun Twitternya. Elon Musk juga telah memutuskan untuk menghapus seluruh akun media sosial Facebook perusahaan-perusahaannya. Namun demikian, skandal ini belum menunjukkan dampak signifikan bagi masa depan produk Facebook yang lain, yaitu WhatsApp dan Instagram. Bahkan, Instagram sedang dalam masa emasnya dengan berkurangnya ketertarikan pengguna terhadap aplikasi pesaing, yaitu Snapchat. Aplikasi-aplikasi ini juga mengumpulkan data personal demi kepentingan perusahaan. Privasi pengguna menjadi komoditas bagi yang berani membayar mahal. Kelak, definisi privasi sebagai keleluasaan pribadi akan usang.

 

 

Kontributor: Yosia Kenneth Manurung

Editor: Komang Gita P.

 

 

LEAVE A REPLY