Menyingkap Tabir Poliandri

0
181

Ketika menjalin hubungan dengan seseorang, kebahagiaan baru datang dari hubungan romantis bak hidup hanya milik berdua. Dimulai dari berbagi ucapan selamat malam, sampai komitmen pernikahan, hubungan romantis hanyalah milik anda dan pasangan anda belaka. Hingga pada suatu saat, pasangan anda memilih untuk ‘membuka’ jalur baru, menambahkan orang lain kedalamnya karena ia telah jatuh hati pada yang lain, atau bahkan ‘yang lain-lain’. Kejadian ini tidak terdengar asing lagi sekarang, satu hal yang sepertinya sudah tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap hari fenomena the other woman dimuat di media. Lantas, apakah fenomena ini berakar dari anthropological records yang menunjukkan 85% dari masyarakat memperbolehkan laki-laki untuk memiliki lebih dari satu istri (Henrich, Boyd, & Richerson, 2012)? Atau dari temuan bahwa dari 5000 spesies mamalia hanya 3-5% yang membangun hubungan satu pasangan sehidup semati, seperti dikutip dari Marlene Zuk seorang evolutionary biologist dalam artikel di LiveScience mengenai monogami dalam kehidupan hewan. Lalu bagaimana dengan sang hawa, mengapa fenomena the other man dan hubungan yang muncul di ujung spektrum poliandri, jarang dibicarakan secara terbuka?

Lain halnya dengan poligini, poliandri tidak dilembagakan dalam masyarakat. Walaupun bukan tidak mungkin, wanita–seperti halnya pria–memiliki lebih dari satu pasangan. Dilihat dari kacamata para ilmuwan biologi, selama bertahun-tahun silam, masyarakat masih mengasumsikan kesetiaan wanita secara umum adalah cerminan dari keliaran pria yang sudah diantisipasi sebagai bagian dari jati dirinya. Sedari lama, memiliki banyak istri diasosiasikan berbanding lurus dengan kekayaan, status dan kebangsawanan. Berbeda halnya dalam poliandri, jika wanita terungkap tidak setia, ia akan dihukum seberat-beratnya bersama dengan pria yang menjadi pasangannya. Seperti yang terjadi di al-Shahab, Somalia pada 2014, ketika seorang wanita bernama Safiyo Ahmad Jumale mengaku telah menikahi 4 pria dan dihukum rajam bersama dengan suami-suaminya.

Memang, intoleransi ini mudah dimengerti jika dijelaskan secara biologis karena kesuksesan menghasilkan keturunan dari pria akan terancam oleh aktivitas pasangan wanitanya diluar hubungan tersebut. Poliandri atau wanita memiliki lebih dari satu pasangan memang berlawanan dari sebagian aspek biologis manusia. Adanya perbedaan investasi dalam menghasilkan keturunan, dimana pria berkontribusi lebih kecil sementara wanita memberikan sel telurnya, menyebabkan wanita memiliki taruhan lebih tinggi karena harus mengandung sel telur jika sudah dibuahi, sedangkan pria bisa menghasilkan keturunan lainnya walaupun sudah membuahi sebelumnya.

Ketika kesuksesan pria menghasilkan keturunan akan bertambah dengan memperluas prospek perkawinannya, ini belum tentu terjadi terhadap wanita. Walaupun wanita bisa menambah kesuksesan menghasilkan keturunannya dengan menambah pasangan, ada faktor kecemburuan seksual dari pria karena akan menghambat keberlangsungan keturunannya termasuk rumah tangga yang dibangun.

Dalam kehidupan bermasyarakat wanita dianggap akan mengurangi daya tarik mereka jika mereka tidak menyembunyikan pengembaraan seksualnya. Itulah mengapa poliandri, lain halnya dengan poligini, jika keluar dari persembunyiannya dengan dilembagakan atau disiarkan akan menimbulkan antagonisme. Keberadaan patriarki menekan poliandri menuju persembunyian, walaupun tidak menghilangkannya sama sekali. Wanita dalam menghasilkan keturunan tidak hanya melihat pria yang memiliki gen cemerlang, tetapi juga prospek membesarkan anak bersama dengan rukun. Poliandri bisa terjadi ketika wanita memilih pasangan yang berbeda untuk membesarkan anaknya bersama dengan pasangannya ketika memiliki anak tersebut. Tentunya jika praktik ini dibuka terhadap publik, bayangkan semua tanggapan yang akan muncul dan bandingkan dengan keadaan pria menikah lagi ketika istri pertamanya tidak bisa memberikan ia keturunan. Sangat bertolakbelakang, bukan?

Lantas, sistem poliandri seperti apa yang bisa ditemukan dan diterima oleh masyarakat umum? Di setiap benua, ditemukan setidaknya satu sistem poliandri yang dipraktikkan di suatu unit masyarakat  dengan poliandri fraternal sebagai jenis yang paling sering ditemukan. Istilah ini diartikan sebagai seorang wanita menikahi lebih dari satu pria dimana pria-pria tersebut bersaudara kandung satu sama lain. Poliandri fraternal sebagian besar memiliki tujuan yang sama dengan primogeniture di Inggris pada abad ke-18, ketika anak laki-laki tertua yang akan mendapatkan warisan dan nama keluarga sementara dengan saudara-saudara setelahnya memiliki maksud hidup sendiri diluar kepentingan keluarga. Dalam sistem ini, secara generasi ke generasi, keluarga memastikan keutuhan warisan keluarga dengan satu set pewaris setiap generasi. Poliandri fraternal bertujuan untuk mencapai hal yang sama, tetapi dengan mengikat semua saudara laki-laki dengan satu istri agar menghasilkan satu set pewaris juga setiap generasinya.

Dalam sosiobiologi, eksistensi poliandri cukup dilematis. Memang poliandri fraternal dianggap paling dimungkinkan terjadi karena manusia dianggap tidaklah berinvestasi hanya pada kebugaran reproduktifnya sendiri tetapi juga terhadap kebugaran reproduktif gen. Adanya altruisme atau mengutamakan kepentingan kelompok diantara manusia, terutama pria, memicu sistem poliandri untuk dicanangkan dalam masyarakat tersebut. Untuk pria sepertinya altruisme tanpa pamrih hanya terbatas pada lingkungan kekerabatan semata. Kekerabatan menyediakan jalan untuk ini terjadi karena para kerabat berasal dari leluhur yang sama dan akan memastikan keberlangsungan gen. Dengan asumsi tersebut, bisa dikatakan poliandri kemungkinan besar akan berwujud dalam rupa fraternal karena hanya keberadaan altruisme berbalut egoisme yang menerima poliandri.

Walaupun begitu, ada beberapa contoh poliandri lain dalam data etnografi (Khu, 2016) yang tidak berbentuk fraternal poliandri. Orang Nayar di Kerala Tengah, India misalnya tinggal dalam suatu unit keluarga besar dengan keturunan dari satu leluhur wanita yang sama di satu tempat tinggal. Sistem rumah tangga ini dan bentuk pernikahan mereka tidak lagi dipraktekkan dalam masa kini. Karena mereka menganut matrilianisme, fungsi utama pernikahan adalah untuk memelihara status istri dan keluarganya serta mengesahkan dan mewariskan status ke anak-anaknya. Ketika wanita Nayar dianggap dewasa, mereka akan memiliki suami lagi diluar dari suami ritual yang dinikahkan kepada mereka sebelum mereka masuk pubertas. Adapun tujuan dari suami ritual ini adalah untuk mengiringi masa dewasa wanita dengan penuh kehormatan. Pada masa dewasa mereka, ketika wanita dan pria hidup di rumah terpisah, para pria bisa menjadi suami tamu dan menyambangi wanitanya pada malam hari dan pergi ketika pagi datang. Tentunya pria Nayar tidak diharapkan menjadi kepala rumah tangga dikarenakan fungsi mereka yang diekspektasikan masyarakat adalah untuk unggul dalam kemiliteran dan peperangan. Mereka tidak memiliki waktu untuk anak dan istri, maka dari itu keturunan apapun yang dihasilkan akan dikembailkan kepada tanggung jawab sang istri semata. Ketika ada contoh konsep poliandri yang tidak berbentuk fraternal, itu terjadi karena pria tidak memiliki peran dalam rumah tangga untuk membesarkan keturunan dan keturunan pun ‘ditarik’  dari sisi wanita, maka dari itu altruisme dan pengaruh gen kerabat, tidak selalu menjadi satu-satunya pendorong terjadinya poliandri.

Pada akhirnya, poliandri kerap terjadi diiringi dengan alasan ekonomi, seperti mata pencaharian dan kerepotan karena tinggal di lingkungan alam terpencil dan tidak ramah. Alasan lain dilakukannya poliandri adalah guna menjaga keturunan dalam garis yang sama. Akan tetapi, dari sisi biologis, imbalan dari wanita untuk memiliki suami lebih dari satu tidak setara dengan risiko yang mungkin timbul dari konflik yang dipicu untuk melakukan hal tersebut.

 

Penulis:Nabila Azzahra

Editor: Pieter Hans, Komang Gita P.

Ilustrasi: Nabila Azzahra

 

Referensi:

Henrich, J., Boyd, R., & Richerson, P. J. (2012). The puzzle of monogamous marriage, 657–669. Retrieved from https://doi.org/10.1098/rstb.2011.0290

Khu, S. (2016). Teka-Teki Poliandri : Kritik Antropologi atas Sosiobiologi.

Barash, P, David (2016, Maret 26) Polyandry (One Woman, Many Men). Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/pura-vida/201603/polyandry-one-woman-many-men