Menuju Pemira IKM UI 2018

0
80

Jumat, 4 April 2018, telah berlangsung Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) Calon Ketua Pelaksana Pemilihan Raya (Pemira) IKM UI. Terdapat dua calon yang mengikuti uji kelayakan yaitu Fatchurrahman (FH’15) dan Yosepine Christina (FISIP’16). Acara ini diselenggarakan pada pukul 16.30 di Ruang Kantor Pelaksana Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Universitas Indonesia.

Sesi pertama UKK dibuka dengan presentasi selama lima belas menit dari kedua calon. Peserta pertama, Yosepine memaparkan bahwa jika terpilih, ia akan membawa tema “Pesta Demokrasi Bersama” di Pemira UI 2018. Visi Yosepine adalah mewujudkan Pemira IKM UI 2018 yang transparan dan meyenangkan. Peserta kedua, Fatchurrahman, membawa tema Pemira UI 2018 “Nyalakan Asa, Suarakan Cinta.” Ia menyatakan bahwa cukup percaya diri untuk maju sebagai Ketua Pemira IKM UI karena memiliki pengalaman sebelumnya sebagai Project Officer Pemira FH tahun lalu.

Sesi kedua UKK berupa sesi tanya-jawab antara calon dengan panelis, yaitu Mirza Amadea, Icang Khairani, dan Kessa Ikhwanda. Masing-masing panelis diberi kesempatan selama 30 menit untuk mengeksplorasi kedua calon. Mirza Amadea lebih menekankan urgensi dari tujuan dan komitmen mereka sebagai ketua Pemira, Icang Khairani melihat dari sisi teknis dan timeline peserta, sedangkan Kessa Ikhwanda fokus pada teknis penulisan latar belakang.

Tanya-jawab dengan panelis kembali dilanjutkan setelah ishoma dengan sistem yang berbeda, yakni selama 70 menit ketiga panelis bebas untuk bertanya kepada kedua calon. Beberapa pertanyaan yang diajukan pada sesi ini di antaranya adalah seberapa jauh pengetahuan masing-masing calon terhadap undang-undang DPM mengenai Pemira, koordinasi dan hubungan panitia Pemira dengan DPM UI, sampai urgensi dari Pemira itu sendiri.

UKK ditutup dengan sesi tanya-jawab dari publik. Fitra Firma, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FEB UI menanyakan pendapat calon apa saja tiga masalah terbesar yang ada pada Pemira UI tahun lalu. Menurut Yosephine, masalah terbesar adalah eksplorasi gabungan yang kurang efisien, publikasi yang kurang menarik, dan terjadinya miskomunikasi. Sementara Fatchur berpendapat bahwa permasalahan terbesar bersumber pada peraturan dan inefisiensi sistem.

Untuk mengetes independensi kedua calon, Fitra menantang Yosepine dan Fatchur untuk berikrar bahwa mereka tidak terafiliasi dengan golongan politik mana pun baik di tingkat UI maupun nasional. Fitra pun menutup sesi tanya-jawabnya dengan memberi saran bahwa siapapun yang terpilih menjadi Ketua Pemira UI, sebaiknya melakukan penelitian untuk mencari solusi agar seluruh anggota IKM UI dapat berpartisipasi aktif dalam Pemira IKM UI 2018.

Kontributor : Adela Pravita, Cristopher Sipayung

Editor : Emily Sakina, Nur Fajriah

LEAVE A REPLY