Bahas Isu Kesehatan Mental Lewat Film

0
219

Diadakan pada hari Jumat, 11 Mei 2018, acara “Mental Health Awarness: Eliminate the Stigma, Support for Inclusions” diselenggarakan di Auditorium Juwono Sudarsono Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UI). Acara ini terdiri dari Screening dan Movie Discussion terkait film “The Bird Dancer” dan “Shadows and Illumination”. Diadakan pada hari Jumat, 11 Mei 2018, diskusi ini menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, di antaranya Rhino Ariefiansyah S.Sos., MEAP (Akademisi Antropologi), Erna M. Dinata Ph.D (Akademisi Ilmu Kesejahteraan Sosial), Bagus Utomo (Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia), dan Uchikowati (Ketua Dialita).

Menurut Indra, Mahasiswa Jurusan Antropologi, acara ini diadakan sebagai tindak lanjut dari mata kuliah Antropologi Psikiatri, yang mengangkat kesehatan jiwa dalam lingkup sosial budaya, serta mata kuliah Kesejahteraan Sosial. Sebelumnya, topik terkait kesehatan jiwa berbasis komunitas sudah banyak dibahas di dalam forum kecil, namun belum menghasilkan dampak yang cukup. Lantas, melihat adanya urgensi mengenai isu tersebut, Himpunan Mahasiswa Antropologi memutuskan untuk mengangkat diskusi terkait kesehatan jiwa ke forum yang lebih besar.

Acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari para anggota Paduan Suara Dialita yang menyanyikan sebuah lagu orisinal yang merupakan karya buatan sendiri. Pemutaran film “The Bird Dancer” dan “Shadows and Illumination” tersebut digunakan sebagai media dalam penyampaian permasalahan kejiwaan.

Film “The Bird Dancer” menceritakan tentang Gusti Ayu Ketut Suwartini, seorang penderita gangguan kesehatan mental, yang tertekan karena mendapatkan ejekan dan perkataan yang kurang baik dari tetangganya. Sementara film “Shadows and Illumination” yang diputar pada urutan kedua bercerita mengenai Pak Kereta, seorang penderita gangguan mental yang mengalami gangguan jiwa setelah ditinggal istrinya yang mengalami pendarahan dan anaknya yang meninggal dunia.

Diskusi tersebut membuahkan kesimpulan yakni dalam upaya penyembuhkan gangguan mental, dibutuhkan beberapa faktor yang harus saling berdampingan. Yaitu adanya keinginan untuk pulih dari diri sendiri serta adanya dukungan, baik moral maupun materiil, dari komunitas dan masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga harus mulai bersikap open-minded dan tidak mengganggap gangguan mental sebagai hal yang tabu. Dibutuhkan pula support system dari kerabat dekat sehingga apabila seseorang sudah merasakan adanya gangguan yang berhubungan dengan kesehatan mental, ia akan merasa mendapat bantuan dan segera diarahkan untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

 

Kontributor : Fasya Nurfiranda, Nadhifa Zahra, Trivonda Fensha

Editor : Emily Sakina, Nur Fajriah

LEAVE A REPLY