Dirute BEM FISIP UI, Student Loan: Utang Demi Masa Depan

0
143

Kamis, 12 April 2018, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berkolaborasi dengan BEM Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya mengadakan Diskusi Rutin Terbuka (Dirute) berjudul “Student Loan: Utang Demi Masa Depan”. Diskusi ini bertempat di Gedung H.305 FISIP dan dimulai pada pukul 17.00.

Sesi pertama dibuka dengan pemaparan dari Kevin Nobel, mahasiswa Sosiologi angkatan 2013 tentang konsep student loan melalui pendekatan sosiologi pendidikan. Menurutnya, student loan sendiri melibatkan tiga kelompok yaitu pemerintah, bank, dan masyarakat. Konsep student loan tidak harus ditolak secara keseluruhan, tetapi harus diiringi dengan adanya student job seperti menyediakan pekerjaan sebagai petugas administrasi, riset, dan lain-lain. Selain itu, keberadaan bank sebagai penyedia jasa keuangan juga mengharuskan pemerintah menciptakan suatu mekanisme perlindungan bagi mahasiswa apabila terjadi hal tak terduga di kemudian hari. Setelah pemaparan sesi pertama, moderator membuka sesi tanya jawab dan diskusi. El Luthfie, mahasiswa jurusan Manajemen angkatan 2014, berpendapat bahwa student loan memiliki sunk cost yang diperlukan untuk mendorong peningkatan PDB. Namun, ia pribadi merasa tujuan pendidikan bukan untuk memenuhi pasar melainkan untuk mencerdaskan bangsa.

Setelah sesi pertama, diskusi dijeda sementara waktu untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk istirahat dan sholat. Sesi kedua dimulai kembali dengan pembicara Dra. Suzie Sudarman, M.A., Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia. Beliau memaparkan materi dengan tema “Balancing Public Goods with Private Participation”. Dalam sesi ini dibahas mengenai Amerika Serikat yang dianggap sebagai role model bagi pelaksanaan student loan di Indonesia.

Usai pemaparan dari pembicara kedua, acara dilanjutkan dengan pembicara ketiga yaitu Radhiyan Pasopati Pribadi, mahasiswa jurusan Ilmu Politik angkatan 2014. Ia membahas mengenai tahapan pengajuan student loan di Amerika Serikat beserta jenis-jenisnya. Selain itu, ia memberikan data total pinjaman dana pendidikan di Amerika Serikat pada tahun 2017 sebesar 1,3 triliun dollar Amerika. Setelah seluruh pembicara menyampaikan materi masing-masing, sesi tanya jawab dan diskusi peserta dibuka kembali. Rendra Saputra, mahasiswa Ilmu Politik tahun 2015, menganalogikan kondisi Indonesia saat ini seperti dalam keadaan sakit karena terlalu banyak obat. Ia juga berpendapat bahwa sebenarnya ada banyak beasiswa yang tersedia namun tidak terserap karena kurangnya informasi. Terakhir, menurutnya isu student loan ini harus dikawal bersama oleh mahasiswa seusai bidang masing-masing.

Dirute ditutup dengan closing statement dari pembicara kedua dan ketiga karena pembicara pertama telah meninggalkan acara terlebih dahulu. Ibu Suzie menegaskan bahwa mahasiswa sekarang harus lebih banyak membaca dan menjadi lebih kompetitif serta tidak melulu menyalahkan perguruan tinggi terkait masalah perguruan tinggi. Radhiyan sendiri berpesan kepada seluruh mahasiswa yang menolak konsep student loan agar menyiapkan mekanisme lain. Ia pribadi memberikan solusi bahwa pemberian student loan harus dilakukan secara selektif sehingga student loan dapat lebih optimal dalam hal sasaran penerimaan dana.

 

Kontributor: Adela Pravita

Editor: Nur Fajriah J. S., Emily Sakina Azra

LEAVE A REPLY