Wawancara Eksklusif: Pernyataan MSS Atas Pemberian Sanksi

0
1821

Selasa, 27 Februari 2018, Tim Economica mewawancarai M.Arief Ramadhan selaku Chairman Management Student Society (MSS) 2017 dan Adek Bagus Rangga selaku Chairman MSS 2018 mengenai sanksi yang diberikan oleh Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FEB UI.

Q: Sesuai dengan publikasi yang telah dirilis oleh BPM pada hari Minggu, 25 Februari 2018, sebagaimana kita ketahui bahwa MSS mendapatkan sanksi atas opini tidak menyatakan pendapat dari hasil audit oleh BAK (Badan Audit Kemahasiswaan). Kami ingin bertanya, bagaimana kronologi kejadian yang terjadi kalau dari pihak MSS?

Arief: Jadi, engagement atau semacam kesepakatan awal antara auditor dengan kliennya sebelum audit dilakukan, dalam hal ini MSS dengan BAK, dilakukan sekitar pada bulan Mei 2017. Pas BAK memilih untuk mengaudit MSS, gua kasih tau dulu, bahwa ICMSS dan MIST selesainya sebelum gua menjabat. Oleh sebab itu, mereka harus hearing dengan pihak yang bertanggung jawab di tahun sebelumnya. Dari kondisi seperti yang seperti ini, banyak pula bukti transaksi yang enggak kita simpan, tapi kalau dicatat iya, karena gak semuanya bisa kita simpan dan bakal repotin juga kalau semuanya disimpan. Nah waktu itu gua tanya gimana kan melihat kondisi ini, BAK jawabnya “Yaudah dicari-cari aja”. Gua menganggap bahwa pernyataan BAK yang “kalau ketemu syukur, kalau gak ketemu ya udah” ini kurang tegas diawal, tetapi diakhirnya nyakitin. Akhirnya kita coba cari, yang bisa kita provide kita provide, yang enggak yaudah mau gimana? Masa kita mau bohong?

Q: Kalau untuk permasalahan bukti transaksi yang tidak tersediakan oleh ICMSS dan MIST kenapa bisa terjadi? Memang MSS tidak mewajibkan kedua kepanitiaan tersebut untuk membuat laporan keuangan beserta buktinya?

Arief: ICMSS dan MIST merupakan titik awal BAK ngomong sudah enggak dapat mengeluarkan opini nih. Setelah itu BAK bilang untuk menyediakan sebisa MSS saja, habis di-provide ya gitu hasilnya. Gua sejak awal sebenarnya udah bilang juga ke BAK kalau ICMSS dan MIST udah gak ada bukti transaksinya, kalau mau tetap audit ya harus terima kondisi seperti itu dan jangan dijadikan pengurangan nilai. Alternatif yang kedua itu ga usah dihitung aja karena uang dari ICMSS dan MIST enggak mempengaruhi kondisi keuangan MSS. ICMSS dan MIST itu enggak mempengaruhi kondisi keuangan MSS karena mereka memang udah gak melakukan profit sharing sejak tahun sebelumnya. Alasannya ya karena MSS tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi ICMSS dan MIST, hanya mengawasi tetapi dapat bagian profit, dinilai justru akan memberatkan mereka. Selain itu, ICMSS dan MIST juga dianggap sebagai kepanitiaan yang mandiri oleh MSS karena dapat mengatur dan mendanai kegiatan mereka sendiri. Makanya, profit sharing antara MSS dengan kedua kepanitiaan tersebut tidak dilakukan lagi. Kalau urusan laporan keuangan, ada SOP-nya yang mewajibkan ICMSS dan MIST untuk menulis laporan keuangan yang isinya mengenai profit yg dibagi, LPJ keuangan harus dikumpul, MSS diawal harus ngasih mereka berapa, dan lain-lain. Tapi ketika profit sharing tidak lagi dibutuhkan, artinya MSS gak melakukan investasi ke acara itu lagi. Makanya, MSS tidak minta mereka untuk membuat laporan keuangan. Jadi kalau ada profit ICMSS dan MIST ya udah gunakan untuk kesejahteraan kepanitiaan semacam pembubaran gitu atau turunan ke bawah. Dan mereka melakukan itu.

Q: ICMSS dan MIST kan tetap program kerja MSS, bentuk pertanggungjawabannya kepada MSS gimana?

Arief: Iya, ketika profit sharing tidak dilakukan, maka MSS tidak minta mereka untuk membuat laporan keuangan. Laporan keuangan aja gak diminta, gimana mau mengumpulkan bukti-bukti?. Memang bagaimana pun ICMSS dan MIST tetap bagian dari program kerja MSS. Oleh karena itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban, ICMSS dan MIST tetap disuruh membuat LPJ acara dan memberikan laporan ke MSS setiap pleno, rapat koordinator, dan rapat dengan PI MSS.

Q: Kapan proses audit dilakukan oleh BAK terhadap MSS?

Arief: Gua ngomong nih sama BAK “eh kalau mau mulai intensif wawancara dan audit gitu, tolong secepatnya ya.” karena timeline MSS itu di paruh kedua tahun itu kan akan sibuk banget. Main event aja ada tiga, lagi jaman peak season gitu. Makanya, kalau bisa pas liburan. Tapi akhirnya gak jadi karena BAK bilang tidak bisa pada saat liburan. Gua paham kenapa gak jadi, mungkin orangnya lagi liburan atau segala macam. Lalu mereka minta pas masuk aja, akhirnya baru mulai September atau Oktober. Coba bayangin audit proker (program kerja) se-gambreng divisinya juga proker se-gambreng cuma dalam dua atau tiga bulan itu gimana. 32 juta yang katanya gak ada bukti, itu sebenernya gak ada bukti transaksinya (bon) aja, tetapi keterangan transaksinya ada di laporan keuangan. Nih, jadi dari 15,1 juta yang bener-bener gak ada bukti yaitu sejumlah 14,483 juta terus gue tanya sisanya kemana? Itu tuh perintilan yang orientasi. Jadi MSS tuh ada orientasi kan yah yang kayak awal tahun yang sama staff, semua ke puncak. Nah itu kan ada bayar angkot dan perintilan yang gak mungkin kita dapetin bonnya. Sisa lainnya MSS jalan-jalan tengah tahun, untuk transportasi segala macam. Sebenarnya sih bisa diusahain ada bonnya kalo udah dibilang dari awal oleh BAK.

Q: Memangnya BAK gak bilang kalau perintilan-perintilan disuruh pake bon juga?

Arief: Diomongin yang bakal berjalan aja bonnya dijaga, jangan sampai hilang. Terus yang sebelum-sebelumnya coba dicari, akhirnya gak bisa. Sebenarnya kayak gini, kita kan cari duit sendiri, kita buat laporan keuangan ya untuk Badan Anggaran udah kita maksimalin. Ya maksudnya, lu nyari duit sendiri tapi lu disuruh melapor ke pihak yang bahkan gak ngasih duit ke lu gitu loh. Itu aja perlu effort untuk dapat diterima. Okelah lu nyuruh-nyuruh gua, tapi ya kita cuma bisa kasih maksimal segitu. Pas disclaimer juga kita terima-terima aja kondisinya seperti itu, meskipun sebenarnya gue pribadi bener-bener sedih kalo harus dapet hasil yang sebenarnya bukan sepenuhnya salah kita. Yang root problemnya bukan di kita. Gue gak menyalahkan mereka semua, kita sebenernya juga salah gak menyimpan bukti-bukti transaksi. Tapi kan root problem-nya bukan disitu, root problem-nya kan ketika timeline BAK yang telat itu jadi beruntut kemana-mana. Lets say gini, kan engagement mulai Mei s.d Desember, kalau pun bukti semua ada dari Mei s.d Desember, akan kena disclaimer juga pada akhirnya. Kita usahain yang bisa, yang ga bisa yaudah lah karena bakal dapet disclaimer juga daripada buang waktu di situ.

Q: Masalah apa yang paling memberatkan buat MSS?

Arief: Pertama, mereka gak ngomong apa-apa soal sanksi, mereka cuma ngomong ya itu belum diatur undang-undang, mereka cuma bilang waktu BEM FEB UI tahun lalu kehilangan hak suara bidding OPK. Jadi sebelum engagement itu belum jelas sanksinya. Sanksi terbaru ini baru dibuat setelah engagement berjalan. Lalu ketika gua dan orang-orang membaca postingan BPM, kesannya tuh kayak MSS pemberontak yang korupsi nih. “Ini sanksi terhadap MSS” aduh kalimatnya, gua kan orang marketing, ngerti nih public relation. Perbedaan kata dikit aja tuh bisa membuat orang memaknainya beda banget dan mungkin BPM gak mengerti itu. Itu sangat berdampak negatif buat gua. Dengan kita dapat disclaimer kemarin aja tuh sebenernya udah cukup sedih, ya udah kita terima semua sanksi, lalu dengan di posting lagi dengan kata-kata yang seperti itu tuh semakin kayak membanting sebagian orang MSS, terutama gua. Padahal kan mereka lembaga regulator yang gak perlu banyak gimmick untuk buat ini seolah-olah seru. Ya kalau mau kasih sanksi, yaudah kasih sanksi aja. Buat kata-katanya yang lebih halus. Oke kita dapat hukuman, tapi please dong jangan membuat MSS seolah-olah buruk banget kayak korupsi gitu. Padahal kita sama sekali gak korupsi. Bahkan gua kalo bisa ngasih dari kantong gua sendiri, gua kasih nih untuk proker-proker yang memang butuh banget. Gak ada sama sekali niatan untuk menyeleweng atau ngambil. Cuma kalau keluar dari kantong sendiri itu gak profesional, artinya gak ada intensi sama sekali untuk nyeleweng apalagi korupsi. Ya perlakukan kita sebagai manusia, jangan kayak kesannya lembaga yang benar-benar nyeleweng gitu. Konotasi publikasinya itu buruk. Tapi gue gak nyalahin BPM, itu mungkin hanya sebagian orang aja. Tapi gimana itu kan mewakilkan satu organisasi. Gua kemarin sudah chat Alif, Alif sebagai petinggi BPM FEB UI (komisi pengawasan lembaga) bilang yang kayak gini tuh seharusnya menjadi pembelajaran kalau misalnya sama lembaga apalagi sama isu sensitive, ga boleh sembarangan kalian buatnya tuh plek plek gitu gak mikir dua kali.  Gue kasih saran mereka kemarin, kalian tuh ngawasin lembaga di FEB yang punya effort-nya, kegiatan, dan pikiran masing-masing. Jangan sampai kejadian kayak gini berulang. Engagement sama organisasi harus diberi tau sebelum organisasi itu berjalan, buat timeline yang jangan disamakan dengan organisasi. Maksud gua kalau organisasi yang biasa jalan dari Januari sampai Desember, dibuat perjanjiannya itu dari September tahun sebelumnya gitu misalnya. Jangan membuat seolah masyarakat yang mengikuti hukum, tapi hukum yang mengikuti masyarakat.

—————————————-

Q: ICMSS dan MIST kalau kata kak Arief mereka gak melaporkan laporan keuangan karena sudah gak profit sharing lagi ya?

Adek: Salah satunya itu juga sih, karena udah gak profit sharing. Karena kalo menurut gua, profit sharing itu kalo mereka untung mereka bagi, tapi kalo mereka rugi kita nanggung juga, jadi agak sulit kalo kita harus ikut mengalami kerugian juga. Pas kepengurusan gua kita mencoba punya dana kita yang disimpen. Terus kalo ICMSS sama MIST mengalami kerugian, kita bantu.

Q: Yang tahun ini jadinya tetep profit sharing?

Adek: Insyallah, itu kalo MSS udah bisa nutupin operasional dan lain-lain. Jadi kalo tahun lalu itu karena belum ada dana yang disimpan itu, nah itu diatur di MSS ya.

Q: kalo misalnya gak profit sharing gausah pake laporan?

Adek: Kalo itu kayaknya gaada sih.

Q: Emang budayanya kayak gitu dari atas-atas ya?

Adek:  Iya, kita jarang sih kalo ngasih laporan karena gak profit sharing, dan pertanggungjawaban berdasarkan pencapaiannya apa aja. Soalnya kan keuntungannya untuk mereka sendiri. Kita ngeliatnya yang penting kalian udah mencapai yang ditargetkan.

Q: Kakak lebih enaknya kalo dilakukan penyuluhan gitu gak sih sama BAK nya? Kaya apa aja yang perlu biar semuanya tau

Adek: Iya bener banget sih, sejujurnya gua baru tau pas bulan ke-4 atau-5 kalo bakal di audit, tapi kak Yohan waktu itu strict banget soalnya lagi di audit. Tapi waktu itu ada beberapa yang gak ada bon terus katanya ya udah cari atau buat. Kalau divisi gua untungnya ada bon nya, tapi kayak misalnya kalo divisi HR kan sulit banget nyari bon yang kalo misalnya kita lagi jalan-jalan, kita harus pake bis lah, atau yang pake duit sendiri terus gak bisa di-reimburse.

Q: Tapi sama BAK ada keberatannya juga gak kak?

Adek: Kalo keberatannya paling pas di-publish sih, ketika di-publish ibaratnya gua ngerasa coba deh, kata-katanya dihalusin dikit, ibaratnya jadi kayak eh, MSS berulah kenapa tuh? Orang-orang jadi ngomong eh, MSS duitnya 32 juta kemana tuh? Padahal seinget gua gak nyampe 32 juta deh.

Q: Oh gak nyampe ya?

Adek: Iya seinget gua gak nyampe 32 juta, kalo gasalah 14 juta gitu. Kata kak Arief juga “kok 32 juta ya? seinget gua gak nyampe gitu lagi ya”. Sisanya paling perintilan-perintilan gitu.

Q: Kalo sisanya dari perintilan-perintilan kok bisa jadi 18 juta ya kak?

Adek: Gua gak tau juga sih, kalo misalnya orientasi pun habisnya kayak belasan gitu sih.

Q: Kemaren kalo yang BEM kan di-publish sama hasil auditnya juga ya, kalo MSS ga disertakan itu ya? Terus di OA line BPM yang di-publish cuma TAP BPM nya aja?

Adek: Hasil auditnya dari MSS kita publish kok, Cuma kita ga ngasih tau kalo kena sanksi, kita cuma ngasih tau kita kena disclaimer, jadi bahasanya diperhalus dikit ya, orang jadi mikirnya oh MSS kena ini mungkin gara-gara apa, daripada dibilang “berikut sanksi yang diberikan kepada MSS” itu, aduh, kita kena sanksi lagi apa, padahal menurut kita ini kesalahan yang bisa diperbaiki, dan gak terlalu besar-besar amat sih, cuma kayak pencatatan keuangan bonnya banyak yang kita gak nemu, kemaren kak Arief juga bilang “maaf ya gua ngewarisin ini sama lo”, terus gua juga udah bilang mulai sekarang kita bakal lebih strict lagi, gua percayakan pada Daffa selaku CFO, buat dibenerin laporan keuangannya.

Q: Jadi sekarang MSS udah menyanggupi?

Adek: Iyaa, yang kena sanksi pun ya mungkin biar kita belajar sih

Q: Terus MSS tuh dipilih untuk di-audit gara2 apa? Atau emang random?

Adek: Kayanya random deh, seinget gua random.

Q: Gak ada kayak survei-survey ke organisasi2 gitu?

Adek: Gak ada sih, seinget gua pas kemaren pas gua sama Arief waktu itu ngobrol itu random. Gua gak tau sih yang bakal diaudit abis ini apa, kecuali BEM ya, BEM emang diaudit terus sama BAK nya.

Q: Dikasihtau-nya kapan ya kak kalo bakal di audit?

Adek: Dikasihtau-nya itu kayaknya pas awal kepengurusan deh, Februari gitu. Gua waktu itu Taunya pas bulan April, kalo MSS bakal kena audit.

Q: O iya kemaren BAK juga bilang kalau MSS dikasih opini sama rekomendasi, nah kak Adek sendiri bakal gimana sama opini dan rekomendasi itu?

Adek: Kalo opini nya ya kita gak bisa ini lah, itu keputusan dari mereka. Kalo rekomendasinya sih itu gua baca dan kita udah mulai gimana cara pelaporan keuangan udah kita mulai pake, terus kita udah punya nih SMART goals, biar jelas target pencapaian setiap divisi dan kapan waktu ngumpulin. Kebanyakan rekomendasinya udah kita terapkan.

Q: Jadi MSS bakal menerapkan untuk setahun depan?

Adek: Iya untuk setahun ke depan ada beberapa yang kita terapkan dan ada beberapa yang enggak sih, tapi hampir semuanya kita terapin. Yang paling utama perbaikan laporan keuangan setiap divisi laporan pertanggungjawabannya harus jelas. Per bulan kita buat LPJ, laporan keuangan per bulan juga ada. Dari tahun kemaren juga udah diterapin sih tapi disini gua mau mulusin lagi. Kalo tahun kemaren banyaknya per 3 bulan. Jadi kalo sekarang kalo per bulan gak ada kita masukin kosong nih LPJ nya tidak ada, terus laporan keuangannya pun kalo kosong.

Q: Mereka ngejelasin gak kalo rekomendasinya gak dijalanin bakal ada sanksi lagi?

Adek: Kalo sanksi gua ga nanya ya, tapi karena kemaren mereka fokusnya ke dua itu, gua juga gitu. Gua juga belom dikasih tau sih sanksi-sanksi nya apa. Tapi seinget gua pas gua ngomong sama Daffa, beberapa dari rekomendasinya udah kita terapin sih. Jadi kayaknya gaada keberatan dari kita juga. Gua belom follow up lagi banget sih sama BAK nya. Kalo misalnya ada rekomendasi yang belom ya kita bakal coba terapin.

Q: Berarti kak sebenernya setuju-setuju aja ya di audit?

Adek: Ya gak seneng juga sih, tapi sebenernya bagus buat pembelajaran, gua cuma ga setuju yang dipublish kemaren.

Q: Kakak ngerasain dampak dari publish itu apa?

Adek: Ya ditanya-tanya orang sih, padahal udah gua jelasin terus kata orang-orang oh Cuma gitu aja ya, Cuma gak terlalu… emang opini disclaimer termasuk buruk tapi kita mencoba memperbaiki sih, yaudah lah kita perbaikin aja sih.

 

Kontributor: Archie Flora Anisa, Miftah Rasheed Amir, Aji Putera Tanumihardja

Editor: Aji Putera Tanumihardja dan Pieter Hans P. Siregar

 

 

LEAVE A REPLY