Diskusi Publik 15: Menelisik Konsep Pribumi Sebagai Instrumen Politik Identitas

0
282
Diskusi Publik ke-15 dan empat pembicara, yaitu Ivan Aulia Ahsan (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia), Dr. Dave Lumenta (Dosen Antropologi UI), Pras Dianto (Pengajar Sains dan Founder Akademos Online Learning), dan Tobias Basuki (Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies).

Diskusi Publik merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Badan Otonom Economica Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Tahun ini diskusi hadir dengan topik ‘Menelisik Konsep Pribumi Sebagai Instrumen Politik Identitas’. Acara ini diadakan pada tanggal 9 Mei 2017 di Seminar A, Pusat Sumber Belajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UI Depok. Diskusi Publik yang ke-15 ini mengundang empat pembicara, yaitu Ivan Aulia Ahsan (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia), Dr. Dave Lumenta (Dosen Antropologi UI), Pras Dianto (Pengajar Sains dan Founder Akademos Online Learning), dan Tobias Basuki (Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies).

“Kami mengadakan diskusi publik dengan tujuan agar kita yang hadir dalam acara ini dapat saling bertukar gagasan serta pendapat terkait isu yang sedang hangat yang kami angkat di sini” ujar Nabil Rizky selaku Ketua Umum Badan Otonom Economica saat memberikan sambutan. Diskusi Publik dimulai dengan pemaparan materi diskusi oleh para pembicara. Pras Dianto memaparkan materi tentang genetika dan ras. Kemudian dilanjutkan oleh Tobias Basuki yang memberikan pengertian tentang Politisasi Pribumi, kehidupan kaum Tionghoa di Indonesia, serta mitos ekonomi 4-70 yang dikaitkan dengan kaum Tionghoa. Disambung juga oleh Dr. Dave Lumenta tentang sisi antropologi dari isu Pribumi – Non Pribumi. Pemaparan materi kemudian dilengkapi dengan sisi historis dari isu tersebut yang dipaparkan oleh Ivan Aulia Ahsan. Setelah pemaparan materi selesai, sesi tanya jawab pun dibuka bagi publik yang hadir.

“Justru dengan semakin meningkatnya sentimen agama, Indonesia mengalami kemunduran daripada pendahulunya di awal abad 20.” ucap Ivan Aulia Ahsan pada saat menanggapi salah satu partisipan diskusi. Salah satu partisipan diskusi bertanya mengenai solusi konkrit dari politik identitas ini, namun para pembicara sepakat bahwa sesungguhnya belum ada solusi konkrit untuk permasalahan Politik Identitas ini. “Sebenarnya di dalam permasalah-permasalahan kompleksitas isu pribumi non pribumi tersebut, Politik Identitas tumbuh secara subur.” ungkap Pras Dianto. Diskusi Publik pun akhirnya ditutup dengan rangkuman keseluruhan diskusi oleh moderator.

 

Kontributor: Nadifa Nur Aliza Shafira

Editor: Silvia Adinda Tarigan

LEAVE A REPLY