ESPRESSO: Online Movie Platform, A New Hope For Indonesian Movie Production?

0
286

Masuknya Online Movie Platform seperti Iflix, Hooq, Genflix dan Netflix di Indonesia baru-baru ini meramaikan Industri Perfilman di Indonesia. Tingkat melek teknologi yang terus bertumbuh ditambah dengan jumlah penduduk berusia di bawah 30 tahun yang mencapai 50% adalah alasan  maraknya platform online sebagai tren yang baru-baru ini muncul.

Di satu sisi, kehadiran Online Movie Platform dapat dikatakan sebagai jawaban terhadap maraknya pembajakan film. Walaupun aplikasi streaming film tersebut mengutip bayaran, asumsikan 50ribu rupiah per bulannya, imbalannya adalah mendapatkan akses film yang lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik dan tidak membuang waktu dan tenaga karena dapat diakses di manapun. Hal ini telah dibuktikan di negara-negara maju di mana Online Movie Platform telah masuk lebih dahulu. Di Amerika Serikat, pengguna Netflix yang hanya mencapai 1,4 juta pada tahun 2003 menjadi hampir 70 juta pada kuartal kedua tahun 2015. Hal yang serupa juga terjadi di negara-negara maju lainnya dan beberapa negara berkembang seperti Tiongkok dan India. Sandro Simanjuntak, Head of Digital Marketing HOOQ Indonesia mengatakan bahwa biaya berlangganan dari Online Movie Platform yang terbilang cukup murah ini juga dapat mengurangi pembajakan film. Bila dikalkulasi akan lebih murah bila dibandingkan dengan membeli CD bajakan. Dengan adanya Online Movie Platform juga akan mendorong kesadaran masyarakat untuk menonton film secara legal.

Akan tetapi di sisi lain, Online Movie Platform berpotensi merugikan industri film konvensional. Kemudahan untuk mengakses film di manapun berarti orang-orang tidak harus datang ke bioskop untuk menonton film. Hal ini juga dapat merugikan film-film konvensional karena adanya potensi untuk meninggalkan bioskop dan beralih ke Online Streaming Platform utamanya bagi generasi muda. Namun, menurut Iman Brotoseno, sutradara film komersil Indonesia, potensi penonton film di tanah air tahun 2016 mencapai 25juta pasang mata, namun jumlah yang besar itu belum tentu menjadi penonton film lokal, khususnya di Online Movie Platform, karena ironisnya penonton tersebut kebanyakan penonton film-film buatan luar negeri. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bioskop-bioskop high-end di Indonesia sangat jarang memutar film-film buatan dalam negeri, sehingga film lokal kebanyakan hanya dapat ditemui di bioskop tertentu.

Berbeda halnya dengan film indie, perbedaan segmentasi dan target pasar dapat membuat dampak yang berbeda dari adanya Online Streaming Platform yang hadir di Indonesia. Hal ini, dapat membuka kesempatan baru bagi film indie untuk berkembang. Garin Nugroho mengatakan bahwa Online Movie Platform dapat berperan sebagai ‘lubang tikus’ dalam gerilya film alternatif (red. indie). Dengan platform ini, karya-karya film indie akan semakin mudah menembus pasaran. Namun, karya dengan kualitas yang buruk akan sangat mungkin bermunculan di Online Movie Platform. Oleh karena itu, Online Movie Platform sangat bisa untuk menjadi sebuah terobosan, namun harus tetap didukung oleh masyarakat yang selektif dan tidak buta akan kualitas sebuah film.

Dari pandangan sutradara film Soegija ini, Online Movie Platform merupakan sebuah paradoks yang dapat menimbulkan banyak dampak positif namun disertai dengan banyak risikonya pula. Distribusi film melalui Online Movie Platform akan sangat cepat untuk menyebar, namun ketimpangan kualitas akan terjadi karena akan banyak pula film-film dengan kualitas rendah yang ikut tersebar. Dengan adanya terobosan platform film ini, kesempatan untuk berkarya semakin terbuka. Online Movie Platform masih harus dikembangkan lagi dengan dukungan sistem organisasi yang jelas, serta perlindungan hukum yang pasti mengingat sistem seperti ini masih sangat rentan tersandung masalah registrasi dan diplomasi.

Diskusi Publik ESPRESSO yang diselenggarakan oleh Badan Otonom Economica, pada Sabtu malam, 3 Desember 2016 kemarin mengangkat tema Online Movie Platform, A New Hope For Indonesian Movie Production?. Auditorium Conclave Wijaya, yang dipilih sebagai venue ESPRESSO tahun ini dipenuhi oleh antusiasme 100 orang peserta diskusi dan ditemani tiga orang pembicara yang berkaitan dengan tema yang dibahas, yakni Garin Nugroho (sutradara dan produser film Indie), Iman Brotoseno (sutradara film komersial), serta dari pihak Online Movie Platform sendiri yaitu Sandro Simanjuntak (Head of Digital Marketing HOOQ Indonesia).

Oleh: Divisi Kajian Badan Otonom Economica FEB UI 2016

LEAVE A REPLY