UI Film Festival Ditutup dengan Sambutan dan Penghargaan

0
172

Pada hari kamis, 23 September UI Film Festival (UIFF) 2016 resmi berakhir dengan diadakannya Awarding Night dan Closing Ceremony di Ruang Apung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia. Acara penutup yang berlangsung mulai dari pukul 19.00 hingga 20.30  tersebut dihadiri oleh para peserta pembuat film yang telah ditayangkan sepanjang acara festival serta beberapa komunitas dan tamu-tamu lainnya yang diundang, termasuk salah satunya perwakilan dari Lembaga Fotografi Sinematografi (LFS) FEB UI. Dibuka dengan sajian prasmanan dan penampilan musik akustik, Sita Zahra Matarani selaku perwakilan dari UKM Sinematografi UI yang menyelenggarakan UIFF menjadi yang pertama untuk memberikan kata sambutan, dilanjutkan oleh Drs. A. G. Sudibyo, M.Si sebagai perwakilan dari rektorat UI.

Setelah diselingi hiburan musik akustik kembali, diputar pula film dokumenter singkat yang meliput rangkaian acara UIFF 2016 yang digelar sejak hari Selasa, 20 September 2016. Acara dilanjutkan dengan penyampaian testimoni dan hasil diskusi dari peserta Mahasiswa Bicara Film (MBF), salah satu program UIFF dimana wakil-wakil mahasiswa dari komunitas baik di dalam maupun luar kampus berkumpul untuk membahas topik seputar film. Di antara 14 film pendek yang dikompetisikan, A Dinner With Astronaut karya mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara menjadi pilihan favorit MBF.

Acara pun memuncak pada Awarding Session, dimana terdapat tiga kategori penghargaan yakni poster favorit dan film favorit yang dipilih berdasarkan hasil voting di media sosial serta film terbaik yang ditentukan oleh juri. Kategori pertama dimenangkan oleh film Malam Pertama dari mahasiswa Binus International, sementara film A Dinner with Astronaut kembali terbukti mencuri hati penonton dengan memenangkan kategori Film Favorit. Untuk kategori film terbaik, para juri menunjuk film Ngelimbang karya mahasiswa Akademi Komunikasi Indonesia sebagai pemenangnya.

Wregas Bhanuteja, Makbul Mubarak, dan Ninndi Laras, tiga nama besar dalam dunia film pendek yang berlaku sebagai juri UIFF juga diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar mereka terhadap film-film terpilih. “Mencari film-film terbaik di antara film-film yang sudah baik adalah pekerjaan yang paling membebani,” ujar Makbul. Oleh sebab itu, para juri mencoba mencari film yang tidak hanya memiliki cerita baik, tetapi juga berani mengeksplor gagasan baru, dan pilihan tersebut jatuh pada film Ngelimbang. “Terlepas dari filmmaker yang sadar atau tidak, buat kami Ngelimbang bukan hanya sebuah film pendek, tetapi juga sebuah kerja antropologis,” jelasnya.

Closing Ceremony dan Awarding Night malam itu pun diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada para juri.

 

Kontributor: Pieter Hans

Editor: Muhammad Faathir

LEAVE A REPLY