Evaluasi Paruh Tahun BEM UI: Kurang atau Cukup?

0
303

Pada tanggal 12 September 2016 lalu, seluruh sivitas akademika UI diberi kesempatan untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban paruh waktu dari tiga Lembaga IKM UI, yaitu BEM UI, DPM UI, dan MWA UI UM. Acara ini berlangsung di Aula Lantai 2 ILRC dan dimulai pada 16.30, mundur satu jam dari jadwal.

Bu Anna, selaku perwakilan dari Kemahasiswaan UI membuka acara ini dengan apresiasi singkat kepada tiga lembaga IKM tersebut. Beliau mengurai beberapa problema dilematis yang terjadi dan bagaimana hal tersebut bisa diselesaikan secara diplomatis oleh para perwakilan mahasiswa. Setelah dibuka secara resmi oleh Ketua Sidang, BEM UI menjadi lembaga pertama yang mempresentasikan laporan pertanggungjawabannya. Arya Adiansyah sebagai Ketua BEM UI hanya datang selama kurang lebih 10 menit karena harus menghadiri jadwal interview shooting di salah satu saluran televisi nasional.

Arya menyampaikan beberapa poin penting terkait dengan kinerja BEM selama setengah periode kepengurusan. Dalam bidang sosial politik BEM UI telah menyelesaikan isu UKT dan mensosialisasikan BOPB dan BOPP. Oleh karena isu ini tidak hanya menjadi masalah UI seorang melainkan hampir seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia, isu biaya pendidikan diambil alih oleh Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) dan dirundingkan dengan pihak Ristek Dikti dan menghasilkan keputusan dipertahankannya beasiswa PPA BPP. Selain itu, isu lainnya yang telah berhasil digarap yaitu Revisi UU KPK, Reklamasi, Tax Amnesty, dan isu lokal Depok terkait Margonda.

Dalam bidang kesejathteraan sosial masyarakat, BEM UI telah membentuk tim tanggap yang dikenal luas sebagai UI Care. Pada presentasi kali ini, Ketua BEM UI juga menyebutkan bahwa advokasi mahasiswa telah dilakukan dengan sistem case per case-yang tidak dijelaskan secara detil kasus apa yang telah diselesaikan dan bagaimana prosesnya.

Partisipasi aktif dalam Aliansi BEM SI sebagai Koordinator Isu Korupsi juga menjadi salah satu keputusan strategis yang diambil oleh BEM UI. Keputusan ini bisa dibilang masih abu-abu dalam pertimbangan cost and benefit. Tidak bisa dipungkiri bahwa keikutsertaan BEM UI dalam Aliansi BEM SI akan membentuk pergerakan yang lebih masif namun perlu diingat cost yang harus dibayar pun tidak murah.

Mundurnya perwakilan kepanitiaan besar BEM UI menjadi tinta merah di rapor tengah semester ini. Tidak hanya itu, branding BEM UI yang kurang dan ikatan internal yang masih renggang menjadi catatan buruk di setengah periode kepengurusan.

BEM UI mengakui bahwa kinerjanya memang belum maksimal dan akan banyak ‘pekerjaan rumah’ yang menunggu di paruh kepengurusan berikutnya. Dalam melaporkan pertanggungjawaban, BEM UI tidak menyertakan parameter keberhasilan dalam bentuk kuantitatif. Mengenai hal ini, Arya mengatakan bahwa hal itu disebabkan belum selesainya pengolahan data secara valid. Arya menyebutkan estimasi pribadi yaitu sebesar 60%-75% ketercapaian berdasarkan parameter keberhasilan.

Lantas, bagaimana menurut Anda? Kurang, atau cukup?

 

Kontributor: Ries Lawren

Editor: Muhammad Faathir

LEAVE A REPLY