[KAJIAN ONLINE] Konflik Rusia-Ukraina : Sebuah Konflik Politik, atau Lebih Jauh ?

0
674
Vladimir Vladimirovich Putin, saat ini menjabat sebagai Presiden di Federasi Rusia.

Penulis: Aghna Mahardhika | Editor: Prisca Lidya Patty 

Pada 2014, masyarakat Indonesia terbagi kedalam dua kubu besar, kubu Jokowi (Panastak), dan Prabowo (Panasbung). Konflik antara dua kubu ini, meskipun sudah jelas siapa pemenangnya, tidak berakhir hingga saat ini (setidaknya untuk para simpatisannya). Padahal, konflik berskala besar bahkan perang saudara di suatu negara/region dapat terjadi jika masyarakatnya terbelah menjadi dua kubu besar yang sudah melibatkan pemerintah berdaulat. Di Suriah terdapat perang saudara antara pemberontak dan pemerintah yang lebih pelik.  Amerika Serikat juga pernah terbelah menjadi dua kubu besar (utara-selatan) dan berakhir dengan perang saudara, di mana bekas dari perpecahan dua kubu tersebut mungkin saja menjadi benih dari konflik pada pemilu Amerika Serikat saat ini.

Ukraina adalah sebuah negara bilingual dengan dua latar kebudayaan dan agama yang berbeda. Ketika negara yang sudah sejak awal memiliki karakter yang mencolok di masyarakatnya ini dipicu oleh peristiwa berskala nasional (aneksasi Crimea), patriotisme masyarakat Ukraina secara umum malah tidak terpicu, namun justru terjadi pecahnya perang saudara.

Permulaan

Konflik ini diawali pada 21 November 2013 ketika Pemerintah Ukraina saat itu membatalkan perjanjian Ukraine–European Union Association Agreement dan berusaha menjalin kerjasama dengan Rusia. Peristiwa ini kemudian memicu Euromaidan, yang berlanjut dengan digulingkannya presiden Viktor Yanukovch yang dituduh pro-Rusia.

Konflik pun bertambah pelik ketika wilayah Crimea mengadakan referendum untuk melepaskan diri dari Ukraina, referendum pun dimenangkan dengan mutlak 96%. Vladimir Putin menyatakan referendum itu sah, namun Uni Eropa menyatakan referendum itu ilegal. Presiden Rusia ini kemudian melanjutkannya dengan mengesahkan traktat bahwa Crimea merupakan bagian dari Rusia pada 18 Maret 2013, dan dilanjutkan dengan pengambilalihan Crimea oleh sejumlah pasukan “tanpa identitas”. Perang saudara antara pro-UE dan pro-Rusia pun tidak terelakkan lagi. Pemerintah Ukraina memandang pengambilalihan Crimea sebagai tantangan atas kedaulatannya sedangkan pihak Rusia memandang pengambilalihan Crimea memang diinginkan oleh sebagian besar rakyatnya dan aksi itu dibutuhkan untuk melindungi warga Rusia yang ada di Crimea.

Sebenarnya apa yang terjadi di Ukraina? Apakah konflik di Ukraina merupakan sebuah konflik etnis, politik, pemberontakan, ataukah sebuah perjuangan kemerdekaan?

Ukraina, Sebuah Negara yang Terbelah

Ukrai
Ukraina

Ukraina sendiri baru merdeka pada 1991 lalu ketika Uni Soviet runtuh. Sebelum itu, sejak 1654, selama kurang lebih 300 tahun Ukraina merupakan wilayah dari Rusia. Yang menjadi masalah, sejak kemerdekaannya dari Uni Soviet, negara ini bisa dibilang merupakan salah satu dari sangat sedikit negara bilingual di dunia yang dihuni oleh dua pihak yang memiliki latar belakang bahasa, dan agama yang berbeda dengan populasi dan kekuatan yang kurang lebih sama kuat dan juga terpolarisasi daerahnya, yaitu penduduk di Ukraina Barat yang beragama Kristen Uniate dan berbahasa Ukraina, dan Ukraina Timur yang beragama Kristen Ortodoks dan berbahasa Rusia. Dua latar keadaan masyarakat ini berhubungan dengan fakta historis dimana banyak wilayah Ukraina Barat menjadi daerah kekuasaan Polandia, Lithuania dan Austro-Hungaria, sedangkan Ukraina Timur sudah lama menjadi wilayah kekuasaan Rusia. Sejarah negara yang cukup berbeda ini yang jika disatukan menjadi negara merdeka di masa depan terbukti membawa masalah di masa depan karena masyarakat Ukraina Barat yang  nasionalis dan menginginkan Ukraina yang bersatu terhalang oleh masyarakat Ukraina Timur yang memang menganggap bahwa mereka merupakan bagian dari warga Rusia.

Barat, Ukraina, Rusia, dan Ego Pasca Perang Dingin

Hubungan antara Rusia dan Barat  berlangsung naik-turun . Di masa lalu, Rusia pernah berperang dengan Inggris pada Perang Crimea (1853-1856). Walaupun Rusia kemudian membentuk Triple Entente bersama dengan Inggris-Prancis untuk menghadapi Triple Alliance pada Perang Dunia I dan juga membentuk aliansi pada Perang Dunia II dengan sekutu, kedua pihak bertarung lagi dalam perlombaan supremasi ideologi yang memunculkan Perang Dingin.

Kini, Perang Dingin sudah usai, Uni Soviet sudah runtuh dan banyak negara pecahannya memerdekakan diri. Salah satu negara pecahannya yang terkuat selain Rusia adalah Ukraina.

Ukraina, perlu diingat lagi, sebagian wilayahnya merupakan wilayah Rusia jauh sebelum perang dingin ada dan Uni Soviet terbentuk. Rusia pun yang walaupun saat ini tidak lagi terlibat perang dengan Barat, bukan berarti Rusia dan Barat menjadi satu visi dalam kehidupannya, masing-masing tetap memiliki agenda dan cita-citanya sendiri dan konflik Ukraina ini ternyata menimbulkan konflik kepentingan antara Barat dan Rusia dalam hal ini Uni Eropa yang menginginkan Ukraina bergabung menjadi anggotanya bertentangan dengan Rusia yang ingin kembali menjadi negara superpower di Eurasia dimana masuknya Ukraina ke Uni Eropa bisa mengurangi pengaruh Rusia di wilayah ini.

Adanya konflik kepentingan ini dikhawatirkan akan memunculkan Perang Dingin baru, dimana Ukraina akan menjadi proxy war baru bagi kedua pihak dan memanfaatkan potensi konflik internal yang memang sudah terbentuk semenjak merdekanya negara ini, dan bahkan jauh sebelumnya. Konflik di Ukraina ini, digabung dengan gesekan kepentingan seperti yang terjadi di Suriah, Tiongkok, Iran, dan wilayah lainnya, bukan tidak mungkin perang yang lebih luas akan terjadi melibatkan dua kubu superpower dan bahkan bisa memicu Perang Dunia 3 jika kedua kubu saat ini terlibat perang langsung berskala penuh. Hal-hal sederhana seperti ditembaknya pesawat Rusia di Turki pada 25 November 2015 lalu mampu mengubah keadaan dunia dengan buruk secara cepat jika ego negara-negara yang berkonflik tidak saling dijaga.

Kesimpulan

Ukraina, sebagai negara dengan perbedaan kontras pada masyarakatnya, sudah menjadi potensi konflik tersendiri. Namun, konflik di Ukraina, dari awal dimulainya, juga didukung oleh negara superpower di pihak masing-masing. Konflik yang dimulai pada November 2013 ini akan menjadi berlarut-larut jika kedua pihak superpower tidak mau berkooperasi dalam mendamaikan konflik ini karena pihak primer yang berperang di Ukraina tentu sangat sulit untuk berdamai sendiri.

Mengenai apa itu konflik Ukraina, tentu itu tergantung dari sudut pandang masing-masing pihak. Pihak nasionalis Ukraina akan menganggap konflik ini sebagai gerakan separatis. Pihak masyarakat di Ukraina Timur malah bisa menganggap konflik ini sebagai kesempatan untuk merdeka, dan untuk kedua negara superpower? Konflik ini tidak lain adalah pertarungan akan memperebutkan pengaruh regional (yang bisa disingkat sebagai konflik politik).

Pada akhirnya, apapun konfliknya, rakyat sipil biasanya merupakan pihak yang paling menderita. Untuk itu, kedua belah pihak yang berperang harus segera mencari solusi perdamaian baik itu sementara, lebih baik lagi jika solusi itu berlangsung untuk jangka panjang. Baik itu merupakan gencatan senjata solusi dua negara, daerah otonom khusus, atau solusi lainnya, satu hal yang pasti, harus dilakukan secepat mungkin dengan mengurangi ego dari masing-masing pihak.

Jika ada pelajaran yang bisa diambil untuk bangsa Indonesia, dalam demokrasi, apalagi di saat pemilu, tensi panas karena adanya perbedaan pendapat adalah wajar. Namun, segera setelah kita menentukan siapa yang menang, maka kurangi ego dan mulai membuat konsensus. Jangan sampai konflik yang seharusnya bersifat sementara menjadi berlarut-larut. Sebuah kelompok teror akan sangat sulit untuk menghancurkan suatu negara. Begitupun dengan kelompok separatis yang sedikit pendukungnya. Namun, ketika masyarakatnya sudah terbagi secara umum dan juga berseberangan tanpa menemukan kesepakatan bersama, maka perang saudara bisa menjadi hal yang tidak terelakkan.

Aghna Mahardhika is a Junior Analyst at Badan Otonom Economica. Majoring in Accounting, he has keen interest in history, politic, civilization and humanity. He loves stability and social order in the society, preferring discussion to debate.

Daftar Pustaka

BBC Indonesia. (2016). Pesawat Rusia ditembak jatuh Turki: Marinir Rusia tewas – BBC Indonesia. [online] Available at: http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151125_dunia_rusia_turki_helikopter [Accessed 26 Apr. 2016].

Bbc.co.uk. (2016). What’s happening in Ukraine? Newsround guide – CBBC Newsround. [online] Available at: http://www.bbc.co.uk/newsround/26257865 [Accessed 24 Apr. 2016].

European Parliamentary Research Service Blog. (2015). Timeline: November 2013 – February 2015. [online] Available at: https://epthinktank.eu/2015/03/17/ukraine-after-minsk-ii-the-next-level/ukraine_fig2/ [Accessed 24 Apr. 2016].

Huntington, S. (1996). The clash of civilizations and the remaking of world order. New York: Simon & Schuster.

Tenebrarum, P. (2014). Mapping the Conflict in the Ukraine. [online] Acting-man.com. Available at: http://www.acting-man.com/?p=28941 [Accessed 24 Apr. 2016].

Tsygankov, A. (2005). Vladimir Putin’s Vision of Russia as a Normal Great Power. Post-Soviet Affairs, 21(2), pp.132-158.

LEAVE A REPLY