Sri Mulyani Indrawati: Pertumbuhan Ekonomi Dunia Rapuh

0
286
Sri Mulyani saat berpidato di Auditorium FH UI (Rizky Aulya / economica.id)
Sri Mulyani saat berpidato di Auditorium FH UI (Rizky Aulya / economica.id)

Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia tampak ramai. Sekitar 250 orang yang terdiri dari mahasiswa, masyarakat umum, dan media massa memadati bangunan itu. Di atas podium tampak seorang perempuan sedang memberikan pidato. Dia adalah Sri Mulyani Indrawati, ia adalah Managing Director and Chief Operating Officer Bank Dunia dan mantan Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia.

Dalam acara bertajuk “Tatap Muka dengan Sri Mulyani Indrawati” yang dilaksanakan pada 26 Juli 2016 ini, ia memberikan tahap-tahap penting bagi pemuda Indonesia untuk meraih kesuksesan dan berperan dalam perbaikan ekonomi dunia, khususnya Indonesia, sesuai dengan tema acara tersebut yaitu “Yang Muda yang Beraksi: Peranan Pemuda dalam Mensukseskan Pembangunan  Berkelanjutan yang Inklusif.”

Ia memaparkan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi dunia sedang rapuh dan disertai gejolak. Hal ini dibuktikan dari proyeksi pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 2,4% setelah mengalami revisi pada  G20 sebanyak lima dari dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 2,9%.

Dalam papararannya, alumni Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa penyebab dari pertumbuhan ekonomi dunia yang rapuh adalah negara-negara berkembang yang menjadi “mesin” pertumbuhan ekonomi dunia sedang menghadapi perfect storm: melemahnya ekonomi dan perdagangan dunia, rendahnya harga komoditas, menurunnya aliran modal ke negara berkembang, serangan terorisme, dan perubahan iklim global. Namun yang menjadi penyebab utama adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur Tiongkok.

Menurutnya, 40% negara komoditas dengan jutaan penduduk miskin mengalami pukulan paling keras. Indonesia menjadi salah satu negara yang merasakan dampak dan juga menyumbang kepada lambatnya pertumbuhan ekonomi. Ia berkata bahwa kesehatan dan pendidikan menjadi masalah utama di Indonesia. Hanya sekitar 33% remaja Indonesia dari golongan menengah ke bawah yang mampu meneruskan sekolah ke jenjang SMA. Dibutuhkan peran pemuda sebagai generasi penerus untuk menghadapi tantangan global ini.

Tahap-tahap penting tersebut adalah menjadi bagian dunia yang aktif, tidak melupakan masyarakat yang tertinggal, dan berpikiran terbuka. Ia juga berpesan kepada mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi informasi di era globalisasi secara positif untuk terus belajar dan bertukar pandang supaya dapat mengerti berbagai macam ideologi.

 

Kontributor: Rizky Aulya Pratama
Editor: Muhammad Faathir

LEAVE A REPLY