[Opini] Aleppo

1
350
Ilustrasi Aleppo (Photo Credit: Al Jazeera)
Ilustrasi Aleppo (Photo Credit: Al Jazeera)

Oleh: Ibrohim Abdul Halim

Di utara Suriah, 356 kilometer dari Damaskus, 253 orang (jumlah ini terus bertambah) terbunuh. Aleppo porak poranda. Mayat dimana-mana.

Aleppo sebenarnya bukan kota yang tak dikenal. Unesco mencatat Aleppo sebagai kota warisan dunia. Kota ini telah dihuni manusia sejak lebih dari 8.000 tahun yang lalu, beberapa bangunan bahkan ditemukan berasal dari 13.000 tahun silam. Letaknya yang strategis di persimpangan jalur-jalur perdagangan dunia menjadikan kota Aleppo ramai. Ia merupakan rekam jejak peradaban-peradaban besar dunia, karena tercatat Yunani, Romawi, Arab, Mongol, dan Ottoman pernah menguasainya. Peradaban terus berganti, kerajaan bangkit dan hancur, dan Aleppo tetap hidup.

Namun barangkali Aleppo sudah terlalu tua untuk terus hidup, atau setidaknya begitu yang dipikirkan oleh Assad.

Bashar Al-Assad, diktator yang murah senyum itu, telah menguasai Suriah selama 16 tahun, terhitung sejak pelantikannya di tahun 2000. Ia melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Hafez Al-Assad, yang telah berkuasa di Suriah sejak tahun 1970. Pasangan ayah-anak ini punya karakter yang kurang lebih sama: lembut tapi mematikan. Suriah, termasuk Aleppo, jadi kota tua yang tak lagi tenang dan merdeka. Dalam salah satu puisinya, Bashir al-Aani menggambarkan kehidupan di Suriah sebagai kelelahan yang panjang, “long exhaustion”, hingga ia rela “menukar kekalahan dengan ketentraman”.

Bashir Al-Aani merupakan penyair Suriah yang menonjol dan vokal menentang pemerintahan Assad. Pada Maret 2016, ia dibunuh oleh ISIS.

Al-Aani tidak sendiri. Pada bulan Oktober 2015, seorang dokumenter tim forensik rahasia Assad bersuara dengan cara membocorkan foto-foto korban penyiksaan interogasi militer mereka. Ia tidak tahan dengan “jenazah yang memiliki luka-luka tusukan, ada yang bola matanya dikeluarkan, ada yang giginya hilang”. PBB kemudian memajang foto-foto korban kekejaman tersebut di markas mereka di New York, sebagai bentuk publikasi kepada dunia bahwa Assad harus dihentikan. Ia telah melanggar kemanusiaan.

Tapi kemanusiaan tetap dilanggar. April 2016, Aleppo diserang—lebih tepatnya, diluluhlantakkan. Serangan itu dimulai sejak pagi buta 22 April, di mana rudal dan bom dijatuhkan ke tanah Aleppo yang bersejarah tanpa kenal ampun. Rumah-rumah, gedung-gedung, dan fasilitas publik termasuk rumah sakit hancur. Orang-orang kehilangan keluarga. Dalam salah satu foto yang menyedihkan, seorang pria dewasa menangisi seorang anak kecil dengan latar debu berserakan, wajah penuh dengan darah, dan bangunan yang hancur di belakangnya. Foto lainnya memperlihatkan gelombang besar masyarakat Aleppo yang kehilangan tempat tinggal, berjalan dalam jumlah yang sangat banyak sehingga jalanan terlihat sesak, entah kemana dengan puing-puing bangunan di sekeliling mereka.

Syrian Observatory for Human Rights mencatat hingga 30 April malam, 253 orang tewas, termasuk di antaranya 49 orang berusia di bawah 18 tahun dan 31 wanita berusia di atas 18 tahun. Dalam salah satu serangan udara dari rangkaian serangan yang dilancarkan, 19 anak-anak dan 14 perempuan terbunuh. Serangan lainnya menewaskan 8 orang dan 3 di antaranya adalah anak-anak.

Aleppo dengan demikian banjir darah. Sayangnya tidak banjir pemberitaan.

Padahal kemanusiaan terkoyak. Anak-anak kecil tak berdosa jadi korban. Perempuan dan mereka yang telah lanjut usia tak luput dari sasaran. Pemerintah Suriah berdalih sedang berusaha memutus jalur distribusi para pejuang Suriah, tapi serangan mereka diarahkan untuk Aleppo seluruhnya, tak peduli siapa yang berada di sana. Maka ini bukan perang. Aleppo sedang menjadi ladang pembantaian dan pemusnahan massal.

Genosida—pembantaian manusia melalui berbagai macam cara—dalam sejarah selalu tentang memusnahkan orang karena label. Orang-orang menanggung kebencian yang bukan berasal dari mereka, sekaligus menanggung penderitaan yang barangkali tak mereka tahu sebab-sebabnya. Dalam kondisi seperti itu, benar dan salah praktis terabaikan.

Tapi kemanusiaan seharusnya tak kenal label, sebab ia berangkat dari hati dan bukan dari definisi. Di hadapan wajah-wajah yang beku dan penuh debu, di antara deru kesedihan yang memenuhi langit kota, di depan tumpukan jasad-jasad yang terhimpit puing reruntuhan hanya karena identitas yang beda, hati kita tersentuh. Ternyata ini bukan lagi tentang “kami” dan “mereka”. Aleppo adalah cerita tentang keresahan yang muncul karena sesama manusia dibantai seolah tak ada harganya.

Pemimpin, Raja, maupun diktator seperti Assad seringkali tak sadar, bahwa pembantaian pada hakikatnya justru membebaskan: ketika jiwa-jiwa yang dibantai menyusup ke dalam jiwa-jiwa yang tak terikat pembantaian sama sekali, yang terpisah dari mereka ratusan atau bahkan ribuan kilometer jauhnya. Buktinya, Aleppo kini bukan hanya milik masyarakat Aleppo saja. Aleppo kini ada dimana-mana.

 

Ibrohim Abdul Halim saat ini memegang amanah sebagai Ketua Majelis Pertimbangan FSI FEB UI periode 2016

1 COMMENT

  1. Ini zaman fitnah. Tidak bisa menilai sesuatu hitam putih. Apalagi masalah politik. Wilayah abu abunya sangat dominan. ketika kita membuat opini, sudahkah melakukan cek dan ricek referensi. Coba pelajari sejarah syuriah dan bagaimana perannya di kancah perpolitikan dunia arab khususnya Timur tengah. Minimal sejak tahun 2000 saja. Bagaimana posisi Syuriah dgn Israel. Ada cara berfikir sederhana tentang konflik. Ketika suatu konflik terjadi, siapakah yang paling di untungkan dengan adanya konflik tersebut. Dialah dalangnya. Siapa yang diuntungkan dengan konflik Syuriah??
    Umat Islam?
    Syiah?
    ato Israel?

    Tanya, kenapa Dunia arab sangat bersemangat mengecam dan membom Syuriah sementara dengan Israel damai damai saja.

    Kenapa ormas Islam, NU dan Muhammadiyah [seperti] diam saja. Tidak menyuarakan konflik ini ke masyarakat kita. Apakah ulama ulamanya tidak peduli?. Apakah mereka sudah buta dan tuli? Apakah mereka tidak mengikuti berita konflik ini.

    Yang saya tahu, mereka mngikuti dengan seksama. Tapi, mereka paham konflik suriah begitu rumitnya. Sehingga mereka lebih memilih diam dan mendoakan yang terbaik untuk rakyat Syuriah.

    apakah kita yang bersemangat, bersuara nyaring berarti memiliki keimanan dan pengetahuan lebih dari mereka?

    Saya tidak sedang membela salah satu pihak. Hanya menyarankan berfikirlah lebih kritis dan mendalam.

LEAVE A REPLY