[ME 55] Musim Panas di Negeri Matador dan Kota Romantis Praha

0
336

Penulis: Tiara Amalia Puteri

Editor: Bertha Fania Maula

 

Berawal dari Misi Budaya FEB UI 2015 saya berkesempatan mengunjungi tempat-tempat dengan arsitektur bersejarah, budaya yang kental, dan mencicipi makanan khas di kota-kota besar Eropa: Barcelona, Madrid, Sevilla, dan Praha. Berikut kisah perjalanannya.

Hola, Barcelona!

Siang bulan Agustus 2015, saya terbangun oleh teriknya matahari musim panas di langit Spanyol. Pesawat mendarat di sebuah bandara yang memiliki desain modern dan unik dengan kaca sebagai komponen utamanya. Di bandara internasional El Prat Barcelona, saya spontan menyapa, “Hola, Barcelona!”.

Barcelona memiliki julukan “The City of Counts”, terkenal dengan budaya kental yang tertuang dalam seni musik dan tari, arsitektur modern, pantainya yang indah, serta makanan dan minuman khas yang akan membuat mood bahagia dalam seketika. Jangan lupakan tim sepak bola ternama di dunia, Barcelona Football Club, yang menaungi pemain-pemain yang berbakat seperti Messi, Neymar, dan Suárez. Keunikan Barcelona menjadikannya sebagai salah satu kota yang harus dikunjungi di dunia dan mampu menarik sekitar 60 juta turis untuk datang berkunjung setiap tahunnya.

Kami mengunjungi Museu Nacional d’Art de Catalunya. Museum ini memiliki kompleks yang sangat luas dan bangunan utama yang megah. Terdapat tiga tingkat utama dengan bangunan museum terdapat di tingkat ketiga. Dari jalan raya, kami perlu menaiki eskalator untuk mencapai tingkat satu kompleks museum. Di tingkat satu terdapat empat pilar tinggi besar dengan kolam dan air mancur. Dari tingkat satu ke tingkat dua, terdapat anak tangga dan eskalator dengan pemandangan air mancur utama yang sangat besar dan bentuknya bertingkat (layer). Di tingkat kedua, banyak ditemukan pengamen yang bermain alat musik dan penjual souvenir yang menggelar dagangannya di lantai. Di tingkat ketiga, terdapat bangunan museum dan kafe. Di tingkat ketiga inilah pemandangan Barcelona dapat dinikmati dari ketinggian.

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Camp Nou, tempat pelatihan tim sepak bola Barcelona FC. Saya memang bukan fans berat sepak bola, namun karena teman-teman saya menyukai Barcelona, saya pun ikut penasaran dan mengikuti tur museum. Dengan kartu pelajar internasional, diskon yang diberikan untuk tiket masuk mencapai 30 persen. Tur museum dimulai di sebuah ruangan yang cukup gelap dengan penerangan hanya berasal dari pajangan foto-foto yang menyala dan lampu di sisi jalan. Di ruangan ini terdapat informasi mengenai sejarah, penghargaan yang dicapai, pemain-pemain, dan foto perjalanan Barcelona FC hingga saat ini. Di ruangan tersebut terdapat pintu yang mengarah ke stadion lapangan sepak bola tempat tim berlatih. Sayang sekali pada hari itu tim Barcelona FC tidak ada jadwal latihan, padahal seringkali pengunjung dapat langsung menyaksikan rangkaian latihan tim di Camp Nou.

Madrid: The Capital City

Beranjak dari Barcelona, kami menuju ibu kota Negeri Matador. Madrid terkenal sebagai kota yang tidak pernah tidur dengan budaya dan arsitektur yang dapat membuat takjub karena keindahannya. Madrid juga terkenal akan tim sepak bola mendunia Real Madrid dan Atletico Madrid yang selalu membuatnya dibanjiri oleh para turis. Salah satu obyek wisata utama dari Kota Madrid adalah Plaza Mayor, yang sering disebut sebagai jantung hati Madrid.

Plaza Mayor layaknya alun-alun yang berbentuk persegi panjang dikelilingi bangunan dengan gaya arsitektur klasik bernuansa merah. Bangunan terlihat sangat indah saat terkena cahaya lampu malam hari. Di bagian utara, terdapat lukisan tubuh wanita pada dinding  Casa de la Panadería (toko roti) yang sekarang berfungsi sebagai pusat budaya dan informasi pariwisata Madrid. Plaza Mayor didirikan pada masa kepemimpinan King Philips III, diabadikan tepat di tengah-tengah Plaza Mayor dalam patung King Phillips III sedang menunggangi kudanya. Seperti fungsi alun-alun pada umumnya, Plaza Mayor seringkali digunakan sebagai pasar dan pusat kegiatan pertunjukan seni.

Melewati Plaza Mayor, terdapat jalan menuju Puerta del Sol, tempat kunjungan utama paling sibuk di Madrid. Nama Puerta del Sol yang berarti gerbang matahari, menandakan bahwa bangunan sejak abad ke-15 yang berfungsi sebagai gerbang dan menghadap ke timur ini selalu dihiasi oleh sinar matahari terbit. Terdapat jam besar klasik yang desain loncengnya menunjukkan tradisi makan “dua belas anggur” yang biasanya dilakukan saat Natal dan tahun baru. Terdapat patung Raja Carlos III dan air mancur di tengah Puerta del Sol serta patung beruang yang sedang memakan buah karena dahulu banyak ditemukan beruang di wilayah tersebut. Di sekitar Puerta del Sol terdapat banyak toko dan kafe serta sering ditemukan seniman jalanan hingga dan pedagang kaki lima.

Setelah puas menikmati keindahan Madrid, kami memutuskan untuk memburu makanan khas Spanyol. Tepat di pintu keluar Plaza Mayor, terdapat sebuah pusat jajanan makanan yang disebut sebagai paradise for street-food hunters” bernama Mercado de San Miguel. Tempat ini salah satu tempat yang selalu dikunjungi banyak orang. Fungsinya yang seperti food court, menjual berbagai jenis makanan seperti seafood, makanan Jepang dan Italia, makanan khas Spanyol seperti paella (nasi rempah berwarna kuning khas Spanyol) dan tapas (makanan porsi mini yang beragam, must try!), hingga kue cokelat lezat sebagai pencuci mulut.

Selain Mercado de San Miguel, salah satu tempat makan favorit kami adalah Chocolatería San Ginés, salah satu kafe churros tertua dan terpopuler di Madrid. Kafe yang terletak tidak terletak terlalu jauh dari Plaza Mayor ini telah menjual minuman cokelat panas dan churros sejak tahun 1894. Dengan desain ala tempo dulu berhias cermin, panel kayu hijau, kursi beludru hijau, dan meja marmer, membuat tempat yang berukuran tidak terlalu besar ini sangat nyaman. Kami yang kelelahan melihat pemandangan Madrid kembali ceria setelah menikmati churros dan kue tart cokelat yang lezat. Tidak lupa kami memesan minuman cokelat panas andalan kafe ini. Churros memiliki tekstur garing di luar tetapi lembut di dalam, fresh from the oven, disajikan dengan celupan cokelat dan gula pasir. Tempat ini juga menyediakan air mineral gratis untuk para pengunjung. Sangat cocok untuk tempat mengobrol dan beristirahat sejenak dari lelahnya berjalan jauh.

Sevilla, Andalusia: Kota Permata Tersembunyi

Setelah mengunjungi Kota Madrid, kami menuju Kota Sevilla di bagian selatan Spanyol. Sevilla terletak di dataran Sungai Guadalquivir, adalah kota tua yang sangat indah dan merupakan kota ketiga terbesar di Eropa menurut UNESCO. Sevilla menjadi tempat favorit saya di Spanyol. Hampir di setiap pandangan mata akan terlihat bangunan dengan arsitektur indah seperti gereja, monumen, maupun bangunan pertokoan. Transportasi seperti metro, trem, maupun bus di Sevilla terlihat lebih modern dari kota-kota di Spanyol lainnya. Walaupun bukan tujuan utama turis di Spanyol, Sevilla memberikan keindahan yang belum saya rasakan di kota-kota sebelumnya. Dalam benak saya, Sevilla wajib dikunjungi jika suatu hari saya ke Spanyol lagi.

Di kota tua Sevilla, terdapat  Gereja Katedral terbesar ketiga di dunia, “The Cathedral of Saint Mary of The See”. Gereja Katolik Roma ini menjadi salah satu tujuan utama turis di Sevilla dan merupakan salah satu UNESCO World Heritage. Dari stasiun metro, jalan menuju gereja ini adalah pertokoan dan kafe dengan gaya bangunan klasik dan indah. Bagaikan istana, dengan gaya gotik dan detail ukiran yang sangat rumit serta ukuran yang sangat besar, kemegahan gereja ini jauh lebih indah terlihat pada malam hari dengan lampu bernuansa kuning yang membuat semua sisi gereja bercahaya.

Tidak jauh dari gereja, kami berjalan menuju Alcázar, sebuah istana dengan gaya budaya Islam yang letaknya menghadap ke gereja. Istana ini didirikan oleh Raja Islam Moor dan memiliki taman yang sangat indah dengan kolam, air mancur, dan tanaman yang indah. Desain interior dari istana ini juga sangat memukau dengan gaya ukiran khas timur tengah di dinding maupun langit-langit dan pilar-pilarnya.

Dari istana Alcázar, kami menuju Plaza de España dengan trem (transportasi umum seperti bis dengan rel di jalan raya). Tempat ini juga salah satu tempat must-visit karena keindahannya. Didirikan pada tahun 1928, Plaza de España yang berlokasi di Taman Maria Luisa memiliki kompleks yang sangat luas dengan air mancur yang megah di bagian tengah dan sungai buatan untuk tempat penyewaan perahu di sepanjang bangunan. Sepanjang sungai buatan ini terdapat tanaman dan bunga-bunga yang indah, menimbulkan rasa asri dan nyaman bagi pengunjung. Selain perahu, terdapat juga kereta kuda yang dapat disewa untuk berkeliling kompleks.

Bangunan utama Plaza de España memiliki arsitektur khas Spanyol dengan bangunan bernuansa cokelat muda kekuningan dari bata dengan hiasan keramik warna-warni dan bermotif yang mengesankan tempat ini adalah tempat untuk berbahagia dan menikmati pemandangan sekitar. Kemegahan bangunan dan bendera Spanyol yang gagah berkibar di puncaknya, menunjukkan kejayaan Spanyol. Tempat ini juga merupakan tempat favorit saya karena memiliki nilai artistik yang sangat tinggi. Tempat ini pada tahun 2002 pernah dijadikan lokasi syuting film ternama Star Wars Episode II karena kemegahannya.

Tempat makan favorit kami di Sevilla adalah sebuah restoran kecil yang cukup terkenal di Spanyol, yaitu Cerveceria 100 Montaditos. Restoran ini menawarkan makanan yang enak seperti tapas khas Spanyol dengan harga murah berkisar €1-2. Menu yang paling recommended adalah spicy wings dengan warna cokelat keemasan, crispy dan sangat juicy dengan bumbu yang kaya rempah dan taburan keripik kentang di atasnya.

Praha: Kota Romantis di Eropa Timur

Praha adalah ibu kota Republik Ceko yang terletak di Eropa Timur, dikenal sebagai “Kota Seratus Menara”. Alasan dari julukan tersebut adalah banyak ditemukan bangunan-bangunan dengan arsitektur berbentuk menara yang indah dengan gaya klasik Eropa. Biaya hidup di Praha seperti makanan, transportasi, serta akomodasi cukup murah jika dibandingkan dengan kota-kota Eropa lainnya. Mata uangnya, Koruna, memiliki nilai sekitar Rp560 per 1 Koruna.

Walaupun musim panas pada bulan Agustus, udara di Praha cukup dingin sehingga perlu memakai baju hangat terutama di malam hari. Pada hari pertama di Praha, kami mengunjungi Museum Nasional Praha. Museum ini memiliki sekitar 14 juta koleksi sejarah dan seni dalam sepuluh bangunannya. Museum ini tepat terletak di Wenceslas Square, dengan sisi kanan dan kirinya terdapat pertokoan, kafe, maupun restoran yang cukup ramai dan menjadi tempat favorit untuk berjalan-jalan sore. Banyak juga terdapat money changer dan toko souvenir bagi turis.

Wenceslas Square akan berujung pada Old Town Square Praha yang terkenal dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Old Town Square yang berada di antara Wenceslas Square dan Charles Bridge memiliki daya tarik akan gaya bangunan yang klasik dan beragam, dengan gereja utama Praha sejak abad ke-14 yaitu “Gothic Church of Our Lady before Týn”. Di Old Town Square, terdapat jajanan makanan untuk cemilan saat menikmati pertunjukan musik jalanan atau sekadar mengobrol dengan teman sambil mengagumi keindahan bangunan kota Praha.

Di Old Town Hall, terdapat Prague Orloj, yaitu jam astronomi ketiga tertua di dunia yang masih beroperasi. Jam ini pertama kali dipasang tahun 1410. Fitur jam dapat berputar saat jam menunjukkan angka-angka tertentu, seperti jam 12 tepat. Berjalan melewati jam, terdapat pertokoan, kafe, tempat souvenir dan kios yang menjual barang-barang khas Praha seperti kerajinan kayu. Harga yang ditawarkan bervariasi namun tetap terjangkau.

Setelah berkunjung ke Old Town Square, pada malam hari, kami pergi menuju Charles Bridge. Charles Bridge adalah tempat wisata terkenal di Praha yang melintasi Sungai Vltava. Charles Bridge adalah koneksi paling penting antara Prague Castle dan Old Town Square serta daerah sekitarnya. Koneksi ini membuat Praha sebagai penghubung rute perdagangan Eropa Barat dan Timur. Charles Bridge di malam hari sangat indah dengan gemerlap lampu yang membuat bangunan jembatan bercahaya.

Berkunjung ke Kota Praha adalah pengalaman yang mengesankan dan membuka mata akan indahnya pesona Eropa Timur. Kota Praha tidak kalah indahnya dengan kota-kota tujuan turis utama Eropa, misalnya Paris. Keindahan dan kenyamanan yang ditawarkan serta mudahnya transportasi di Praha membuat turis nyaman menghabiskan waktu di Praha.

Spain vs Prague?

Pada musim panas, cuaca di Spanyol lebih hangat dan matahari terasa lebih terik, akan lebih nyaman untuk menikmati pantai maupun berjalan jauh. Cuaca di Praha termasuk dingin pada musim panas, terutama di malam hari. Di Spanyol, makanan dan budayanya begitu beragam tercermin pada keseniannya yang terkesan berani dan juga dalam bentuk arsitektur dan serta corak desain bangunannya yang berwarna-warni. Bagi orang yang senang memburu makanan, Spanyol adalah tempatnya. Sementara itu, Praha memiliki budaya cenderung sama/kurang beragam di setiap wilayahnya. Desain bangunan di Praha lebih bergaya Eropa klasik dengan gaya gotik dan ukiran. Hal yang terpenting, orang-orang di Spanyol maupun Praha cukup ramah kepada turis.

 

Tips: Dalam berjalan-jalan, di mana pun kita berada, kita perlu waspada dengan pencopet atau tindak kriminal lainnya. Do research tentang cuaca, budaya, rute perjalanan, tempat atraksi turis, hingga karakter penduduk lokal, sehingga orang yang berniat jahat tidak bisa membohongi kita. Selain itu, salah satu upaya untuk melindungi uang yang kita punya adalah dengan membaginya ke beberapa tempat. Jika satu tempat diambil oleh pencopet, maka masih ada uang cadangan di tempat lain. Hal yang tidak kalah penting adalah cara berpakaian kita. Ada pepatah mengatakan, “act like locals”, bersikaplah seperti orang lokal dengan sopan santun dan berpakaianlah layaknya orang lokal. Seringkali, penampilah turis yang terlalu mencolok menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan.

LEAVE A REPLY