[Kajian] Procrastination

3
768
Ilustrasi meme tentang procastination (Internet)
Ilustrasi meme tentang procastination (Internet)

Penulis: Khizbul Kurniawan | Editor: Prisca Lidya Patty

Procrastinate

verb /proʊˈkræs.tə.neɪt/

to keep delaying something that must be done, often because it is unpleasant or boring:

I know I’ve got to deal with the problem at some point – I’m just procrastinating.

 

19.00Sekarang gue mau ngerjain makalah Makroekonomi yang harus dikumpulin besok. Udah seminggu sih tugas ini dikasih, tapi gimana lagi baru dapet inspirasi sekarang. Ayo mulai kerjain! Hmm, gue nonton youtube dulu deh 1-2 video biar mood-nya enak.”

Hai kalian yang berniat membaca tulisan ini, apa karena benar-benar ingin baca atau kalian sedang procrastinating tugas-tugas yang harusnya kalian kerjakan saat ini? Atau sedang  menikmati long weekend dengan niat awal persiapan UAS namun berakhir wacana? Tidak dapat dipungkiri, hampir semua orang melakukan procrastination. Kita menunda untuk melakukan tugas-tugas penting dengan melakukan kegiatan lain yang memiliki urgensi rendah, atau bahkan yang nonsense dengan anggapan tugas-tugas penting tersebut masih dapat dilakukan di waktu mendatang. Penundaan kemudian berlanjut dan terus dilakukan padahal kita sudah tahu apa yang harus dilakukan, tapi masalahnya tidak ada kekuatan yang cukup dan mampu mendorong kita untuk mulai melakukannya.

 20.05Wah alig, leh uga videonya ZAYN-PILLOWTALK. Oke, sekarang gue mau ngambi makalah. Duh, tapi laper banget, keluar cari makan dulu kali ya, sekalian warkop dulu buat cari inspirasi.”

Mungkin kalian mempertanyakan apakah hal ini ‘normal’ untuk dilakukan. Nyatanya, ya, kalian tidaklah sendiri. Sebuah tes pernah dilakukan oleh Laura J. Salomon dan Esther D. Rothblum, University of Vermont, untuk mengetahui frequency of procrastination. Tes ini dilakukan terhadap 342 mahasiswa yang mengambil suatu mata kuliah yang sama. Tes dilakukan dilakukan dengan metode kuesioner mengenai tugas mata kuliah tersebut, dan hasilnya 46% mengaku melakukan procrastination dalam tugas menulis paper, 27.6% procrastinate belajar untuk menghadapi ujian, dan 30.1% procrastinate dalam tugas bacaan mingguan. Selain itu, didapatkan pula data procrastination dalam pengurusan administrasi (10.6%), attendance tasks (23.0%), dan kegiatan perkuliahan secara umum (10.2%). Kemudian sekitar 20% dari mahasiswa tersebut mengakui bahwa procrastination hampir selalu menjadi masalah utama bagi mereka. Dari data tersebut ditemukan bahwa procrastination cenderung banyak dilakukan terhadap tugas-tugas penting, yaitu menulis paper, persiapan ujian, dan membaca. Sedangkan tugas-tugas yang memiliki urgensi lebih rendah cenderung tidak banyak yang melakukan penundaan. Sounds familiar? Saya yakin kita semua pernah melaluinya. Lalu apakah yang harus kita lakukan untuk melawan sifat procrastinating yang seolah-olah sudah menjadi karateristik natural dari mahasiswa?

22.30Kenyang boos. Kuy, sekarang ngerjain makalah.  . . . Eh apaan nih! Kejanggalan kasus JIS di line news digest, gue baca dulu ah, penasaran..”

Sebelum saya memberi solusinya, saya ingin berbagi tentang satu jurnal lain yang pernah saya baca tentang procrastination. Dalam tulisannya, Joseph R. Ferrari pernah melakukan percobaan dengan membawa sekelompok siswa ke laboratorium. Para siswa diberikan beberapa materi, kemudian pada akhir sesi para siswa diberikan tugas untuk mengerjakan math puzzle. Para siswa dibagi menjadi dua kelompok, dengan kelompok pertama diberitahu bahwa tes ini merupakan tes yang memiliki arti signifikan terhadap kemampuan kognitif mereka. Sedangkan, kelompok kedua diberitahu bahwa math puzzle ini tidak berarti apa-apa dan hanya sebatas permainan untuk bersenang-senang saja. Sebelum mulai mengerjakan tes, siswa diberi waktu bebas yang bisa mereka gunakan untuk mempersiapkan tes ataupun untuk hal lainnya. Beberapa siswa yang sebelumnya terindikasi sebagai chronic procrastinator pada kelompok pertama lebih memilih untuk melakukan hal-hal lain terlebih dahulu dibanding mempersiapkan tes. Sedangkan procrastinator pada kelompok kedua cenderung berperilaku sama seperti siswa yang tidak terindikasi sebagai procrastinator.

22.45Anjiiirrr parah bet dah ini hukum di Indonesia tidak adil dan menyudutkan masyarakat kecil. Eh, ada tulisan investigasi @kurawa tentang JIS di kaskus. Wah, gue harus cari tau nih kebenarannya, keadilan harus ditegakkan!”

Dari hasil di atas, argumen kemudian condong kearah bahwa procrastination ini bisa disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengatur prioritas karena time management yang buruk. Argumen Piers Steel, profesor di Universitas Calgary dalam Psychological Bulletin, menganggap bahwa seorang procrastinator sebenarnya melakukan perhitungan utilitas untuk kegiatan yang dilakukannya; kegiatan yang menyenangkan memiliki nilai utilitas yang besar di awal waktu, sedangkan kegiatan atau tugas yang harus dikerjakan baru akan semakin penting dan bernilai tinggi ketika semakin dekat dengan deadline. Akan tetapi, argumen ini masih belum cukup untuk menjelaskan procrastination. Saya kemudian menemukan fakta lain di dalam Journal of Social Behavior and Personality. Di situ dikemukakan bahwa individu yang sedang melakukan procrastination akan diiringi dengan perasaan bersalah, tegang, dan gelisah dengan keputusan mereka yang memilih untuk menunda. Dapat ditarik sebuah hipotesa bahwa procrastinator mengetahui efek dan dampak negatif dari kegiatan penundaan tersebut, namun seakan-akan tidak bisa melakukan perlawanan terhadap kemauan diri sendiri untuk mendapatkan kepuasan sementara atau gratification. Mungkin kita semua pernah mengalami hal ini. Seperti contohnya saat sedang dikejar deadline laporan akhir. Kita menyadari kemajuan pengerjaan tugas kita masih 10% sehari sebelum deadline. Namun, alih-alih mengerjakan tugas, kita justru lari dari masalah dengan menonton satu episode Game of Thrones dengan alibi untuk menurunkan tingkat stres (atau mungkin dua episode, atau bahkan tiga). Dan seolah-olah, kita tidak punya kuasa untuk melawan desakan tersebut. Terdengar tidak asing?

Namun begitu, untuk beberapa orang lain, kasusnya berbeda. Ada dari mereka yang justru memilih secara sadar untuk selalu melakukan procrastination sebagai pola hidup. Dalam buku Still Procrastinating? The No Regrets Guide to Getting It Done, dikemukakan bahwa seorang procrastinator yang melakukan penundaan-penundaan sebagai gaya hidup, lebih berkenan untuk membuat orang berpikir bahwa hasil pekerjaannya adalah karena usaha yang kurang, bukan karena faktor kemampuan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa seorang procrastinators mendapat kepuasan tersendiri di saat melakukan penundaan dengan keyakinan yang bersifat misleading bahwa mereka akan lebih siap secara mental untuk mengerjakan pekerjaan di waktu mendatang atau di kemudian hari, padahal belum tentu. Konsep ini memperkuat argumen bahwa procrastination juga terbentuk karena komponen perilaku, kognitif, dan afektif seseorang. Atau bahkan merupakan gangguan mental? Hati-hati.

23.50Mind blown! Gila emang nih Pipit, kasian gue sama cleaning service dan guru JIS-nya! Capek juga ya baca-baca kasus. Ohiya, makalah makro, hmm sans-lah begadang deh gue. …. Tapi ini kok berantakan amat ya kamar, gue beres-beresin dulu lah biar ga ganggu konsentrasi.”

00.25Yay udah bersih! Sekalian toilet udah bersih juga abis gue sikat. Sebelum ngerjain makalah, rebahan di kasur dulu kali ya, pegel juga ternyata.”

Lalu apakah yang dapat menyelamatkan kita dari kebiasaan buruk tersebut? Jika di awal saya sudah mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatur prioritas sebagai sebab dari procrastination, ini berarti  hal sebaliknya – pengaturan prioritas yang baik –  dapat melepaskan kita dari belenggu jahanam itu. Hal kedua yang mungkin membantu kita untuk menyelesaikan tugas tepat waktu adalah deadline. Procrastination terhadap hal-hal yang memiliki deadline, seperti tugas karya limiah, skripsi, atau laporan yang harus diserahkan kepada dosen atau atasan di perusahaan masih memiliki peluang yang lebih besar untuk dikerjakan. Keberadaan deadline membuat efek panik terhadap procrastinator sehingga hal yang telah tertunda selama ini akan cenderung dikerjakan dan diselesaikan sebelum waktu deadline. Akan tetapi, penundaan terhadap hal-hal yang tidak memiliki deadline akan sangat berbahaya jika sering dilakukan. Hal-hal seperti memulai bisnis baru, memulai olah raga rutin, atau membuat keputusan untuk berhenti merokok tidak memiliki deadline sehingga efek dari kepanikan tersebut tidak akan pernah muncul, yang pada akhirnya membuat hal-hal demikian akan tertunda, tertunda, terus tertunda, dan selamanya akan tertunda. Berakhir naas, sebagai suatu wacana. Hal ini tentunya sangat merugikan diri kita sendiri mengingat waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas. Well oleh karena itu mari berhenti menunda-nunda sesuatu mulai dari sekarang! Hmm, atau mungkin mulai dari waktu yang dekat ini.

00.35Aduh, pewe nih, udah ngantuk juga gue. Tidur dulu aja dah biar fresh pikirannya, subuh gue bangun ngerjain ini makalah, dikumpulinnya sesi 2 kok. Bisalah. I believe in the POWER OF KEPEPET.”

 

Referensi dan bacaan lanjutan:

Cambridge Online Dictionary. http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/procrastinate

Ferrari, J. R. (2010). Still Procrastinating? The No Regrets Guide to Getting It Done. Hoboken, N.J.: Wiley.

Jaffe, Eric. Why Wait? The Science Behind Procrastination. 13 April 2013 http://www.psychologicalscience.org/index.php/publications/observer/2013/april-13/why-wait-the-science-behind-procrastination.html (diakses tanggal: 25 April 2016)

O’Donoghue, Ted & Rabin, Matthew (2001). The Quarterly Journal of Economics: Choice and Procrastination. Oxford: Oxford University Press.

Steel, Piers (2007). Psychological BulletinThe Nature of Procrastination: A Meta-Analytic and Theoretical Review of Quintessential Self-Regulatory Failure.  Alberta: University of Calgary.

Solomon, J. L. & Rothblum, E. D. (1984). Journal of Counseling Psychology-Academic Procrastination: Frequency and Cognitive-Behavioral Correlates. Vermont: University of Vermont.

Urban, Tim. Why Procrastinators Procrastinate. 18 Januari 2016 http://waitbutwhy.com/2013/10/why-procrastinators-procrastinate.html (diakses tanggal: 25 April 2016)

 

Khizbul Kurniawan (Management 2015), affectionately called Wawan, is a Junior Analyst at B.O. Economica. Outspoken and outgoing, he is passionate about almost anything when it comes to finding topics for discussion #jempolan

3 COMMENTS

  1. Procrastinator’s problem: reading writings or infographics about procrastination because you want to solve your problems (yet you procrastinate your work while reading those) :’D

LEAVE A REPLY