Eksklusif: Mengenal Lebih Dekat Anggota Independen BPM FEB UI 2016

1
328
Suasana Pelantikan Tiga Lembaga Kemahasiswaan FEB UI 2016. (Siti Nurfaiza / economica.id)
Suasana Pelantikan Tiga Lembaga Kemahasiswaan FEB UI 2016. (Siti Nurfaiza / economica.id)

Bulan Januari adalah masa ketika suasana kampus sedang sepi-sepinya. Ditengah sepi yang menjalar, dapat terdengar langkah-langkah kecil beberapa manusia yang mempersiapkan dirinya untuk mengabdi. Diantara langkah-langkah kecil itulah tercermin sosok Arkan, Arieko, dan Farras.

Di tahun kepengurusan ini, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (BPM FEB UI) memiliki tiga orang anggota independen yang perannya terbagi menjadi Ketua Umum, Ketua Kemahasiswaan, dan Ketua Kelembagaan. Adapun posisi Ketua Umum diisi oleh Arkan Fadhil (EIE 2013), Ketua Kemahasiswaan diisi oleh Arieko Widyastomo (EMA 2013), dan Ketua Kelembagaan diisi oleh Izzudin Al Farras Adha (EIEI 2013). Ketiga anggota independen ini terpilih melalui proses pemilihan raya yang dilaksanakan pada Desember 2015 lalu.

Badan Otonom Economica berkesempatan mewawancara ketiga anggota independen dari lembaga tertinggi di FEB UI ini pada senin (25/01/2015). Wawancara terbagi menjadi dua sesi, yakni sesi interpersonal yang membicarakan kepribadian mereka, dan sesi ‘BPM’ dimana mereka bertiga berbicara dalam satu suara mewakili BPM.

 

Economica: Apa hal pertama yang dilakukan setelah mengetahui hasil pemilihan raya yang menyatakan kalian terpilih sebagai anggota independen?

Arkan    : Kelilingin orang di selasar, tim sukses

Eko         : Ngucapin terimakasih ke temen deket dan tim,

Farras   : Mohon ampun karena memegan amanah baru, mohon dikuatkan oleh Allah

 

Economica: Apa mimpi besar kalian untuk BPM FEB UI?

Arkan    : BPM semakin dirasakan oleh masyarakat FEB. Fungsi berjalan optimal sehingga iklim kemahasiswaan harmonis

Eko         : BPM terus berkembang setiap tahun, ga Cuma BPM saja tapi juga mengembangkan organisasi lain di FEB

Farras   : Mampu mengembangkan lembaga-lembaga di FEB agar bisa mandiri

 

Economica: Bagi kalian, BPM itu apa sih?

Arkan    : BPM itu rumah, orang-orangnya bagai keluarga. Teman cerita pertama adalah teman BPM

Eko         : BPM itu rukan alias rumah kantor, kehidupan dan tugas selama di kampus

Farras   : BPM itu mozaik kecil yang siap gua beri manfaat

 

Economica: Cita-cita dalam hidup kalian?

Arkan    : Mandiri. Dalam artian bukan mencari, tapi memberi pekerjaan. Jangka panjang ingin menjadi pebisnis yang memberikan manfaat

Eko         : Bisa bermanfaat bagi sesama

Farras   : Membumikan nilai-nilai islam dalam perekonomian Indonesia dan menjadi anggota DPR

 

Economica: Apa prinsip hidup atau values yang kalian pegang dalam hidup?

Arkan    : Independensi dan kemandirian. Kita harus merdeka dan menentukan apa yang akan kita berikan pada orang (kebermanfaatan)

Eko         : Kepedulian. Hidup harus selalu mengutamakan kepedulian terhadap lingkungan sekitar

Farras   : “Tak ada yang bisa mengalahkan diri anda kecuali diri anda sendiri” nilai kebaikan universal

 

Economica: Apakah ada kejadian tertentu yang melatarbelakangi nilai yang kalian miliki?

Arkan    : Ketua komisi kaderisasi, banyak orang-orang yang mengemukakan pendapatnya, tapi secara pribadi harus independen menjalankan kepentingan BPM. Mandiri dalam hal menjalankan kegiatan komisi yang gua bawahin. Turning point? Ada pengalaman ketika SMA, ketika menjadi ketua rohis bener-bener banyak kepentingan dari luar yang ingin menyetir rohis yang gua pimpin. Stand gua adalah tetap menjalankan rohis dibawah pimpinan gua dan melakukan apa yang ingin dilakukan.

Eko         : Waktu awal kuliah hanya berpikiran untuk kuliah saja. Ketika sudah masuk, melihat banyak senior yang berkegiatan di FEB menyibukkan diri. Dengan berjalannya waktu akhirnya menyadari bahwa kuliah doang tidak memberikan manfaat untuk orang-orang sekitar. Akhirnya setelah refleksi diri memutuskan untuk lebih berguna. Akhirnya masuk BPM dan maju sebagai calon independen

Farras   : Gaada turning point, semua adalah proses. Ridwah Yusuf (pembicara halal bi halal) mengatakan kalau hidup sekedar hidup buat apa? Kita berbagi banyak hal: kebahagiaan, kenangan, manfaat

 

Economica: Kegagalan terbesar dalam hidup?

Arkan    : Waktu lulus SMP mau naik SMA, gak dapet sekolah yang diinginkan (MAN IC). Peringkat 10 dari 11. Akhirnya orangtua memberikan gambaran alternatif lain. Keinginan ke IC sangat besar, 60% dipengaruhi oleh keinginan menjadi independen (hidup terpisah dari orang tua)

Eko         : Pernah ga naik kelas ketika 11 SMA (ketika masih IPA). Mungkin karena passion yang bukan disitu dan menjadi pelajaran untuk lebih matang dalam menentukan suatu pilihan, sadar kemampuan diri. Gua percaya bahwa kegagalan waktu itu akan membawa sesuatu yang baik

Farras   : Ketika adik kehilangan hafalan qurannya, disitu merasa gagal sebagai kakak. Merasa kurang dalam menjaga bimbingan

 

Economica: Bagi kalian, kegagalan itu apa sih?

Arkan    : Tanda atau pelajaran untuk meningkatkan diri. Sebagai satu momen untuk evaluasi diri

Eko         : Kegagalan itu sarana merefleksi diri untuk melihat sisi mana yang perlu ditingkankan. Belajar untuk percaya bahwa ada cara lain untuk menjapai sesuatu

Farras   : Kegagalan itu jalan menuju sukses

 

Economica: Bagi kalian, apa itu pengorbanan?

Arkan    : Usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu

Eko         : Tindakan yang lo kesampingkan untuk mengerjakan suatu yang lain

Farras   : Sesuatu yang dikeluarkan untuk mecapai tujuan

 

Economica: Sejauh ini, apa yang sudah kalian korbankan untuk BPM?

Arkan    : Banyak, mulai dari awal persiapan waktu tenagapikiran biaya. Waktu yang paling besar, waktu untuk keluarga dan istirahat

Eko         : Waktu belajar,keluarga,temen,pacar,tenaga. Mengorbankan kesempatan matkul pemintal yang harus keluarnegeri

Farras   : Sama kayak yang lain, yang paling terasa waktu bersama keluarga. Mengorbankan naik Gunung Rinjani atau Mahameru

 

Economica: Menurut kalian, pemimpin idel itu yang seperti apa?

Arkan    : Pemimpin yang dilahirkan dari hati nurani para pemilihnya. Yang mau mendengar, lebih banyak berbuat, membawa perubahan untuk diri dan orang yang dipimpin

Eko         : Pemimpin yang bisa menjadi contoh untuk orang sekitar dan bawahan. Mampu memosisikan diri sebagai pemimpin tidak bossy

Farras   : Pemimpin ideal yang menjadi teladan, mamppu dipercaya, mampu menyampakan kebenaran, cerdas, benar

 

Economica: Keputusan tidak populer tapi benar?

Arkan    : Benar itu tetap benar. Katakan kebenaran walaupun pahit.

Eko         : Tetap melakukan kebenaran, mengkomunikasikan dasar-dasar keputusan dan sisi benarnya

Farras   : Retweet

 

Economica: Contoh kasus, jika Dekanat butuh renov audit ketika OPK, bagimana?

Arkan    : Kalau sudah mentok ya lakukan. Karena itu untuk kebaikan jangka panjang. Yang perlu ditekankan mengapa waktunya harus bertepatn

Eko         : Seperti yang diketahui audit sudah mulai rusak, kalau bukan sekarang kapan lagi, cari solusi

Faras     : Pertanyakan ke Dekanat, jaring aspirasi, formulasikan tindakan oleh BPM

 

Economica: Role model kalian dalam hidup?

Arkan    : Nabi Muhammad, BJ Habibie karena beliau bisa memadukan tiga hal penting: ilmu, spiritual, cinta

Eko         : Ahok. Sifatnya yang tegas, tetap berjalan ditengah tntangan masyrkt, punya gaya berbeda

Farras   : Nabi Muhammad. Setelah itu, H. Agus Salim karena beliau mampu diplomasi, cerdas dalam kesederhanaan

 

Economica: Hal apa yang tidak bisa ditoleransi oleh kalian?

Arkan    : Ketidakjujuran

Eko         : Ego, karena kita hidup bersama orang lain

Farras   : Kemalasan. Orang bodoh bisa belajar, tapi orang males gabisa diapa-apain

 

Economica: Adakah contoh kasus di FEB yang tidak bisa kalian beri toleransi?

Arkan    : Yang masalah mencontek itu adalah salah mindset pribadi

Eko         : Masalah parkiran yang seenaknya sendiri, ego dalam berbagi ruang parkiran

Farras   : Gaada

 

Economica: Bagi kalian, image itu apa? Seberapa penting?

Arkan    : Cara pandang secara umum terhadap seseorang. Image itu adalah awal untuk dipercaya

Eko         : Cara pandang oleh orang lain yang terbentuk sejak awal pertemuan dengan kita. Image itu penting bagi pemimpin sebagai contoh dan panutan bagi orang lain

Farras   : Sesuatu hal yan terbentuka atas akumulasi tindakan sehari-hari. Penting karena image itu akan berbalik dalam bentuktindakan terhadap orang lain

 

Economica: Bagi kalian, apa itu apatis?

Arkan    : Harus dilihat dulu alasan dibalik apatis tersebut. FEB itu tidak itu apatis, mereka aktif di hal-hal yang sesuai dengan passion mereka.

Eko         : Apatis ketika peduli diri sendiri. Anak FEB tidak apatis, itu hanya labelling dari jaman dulu yang salah sasaran. Mungkin itu adalah sebuah cambukan untuk aktif, tapi salah diartikan sebagai cap untuk anak-anak FEB

Farras   : Apatis itu tidak peduli, bodo amat. Anak FEB itu engga apatis. Karena semua punya caranya masing-masing dalam bermanfaat buat sesama

 

Economica: Bagaimana kalian melihat anak FEB in general?

Arkan    : Aktif. Semua orang memiliki kesibukan lebih dari satu. Makin ke angkatan bawah makin solid

Eko         : Anak FEB itu tekun di akademis dan non akademis. Kepanitiaan-kepanitiaan dijalani dengan baik, tekun, dan rajin

Farras   : Anak FEB sangat memikirkan masa depannya.

 

Economica: Apa visi BPM yang kalian bawa tahun ini?

BPM      : Pengembangan aktivitas kemahasiswaan dan kelembagaan di FEB UI. Hal ini mencakup terlaksananya amandemen AD ART; Tersusunnya proleg prioritas tiga UU; 95% mahasiswa baru lulus POMB; tercapainya 85% penyerapan blockgrant; terciptanya apps FEB UI yang berisi portal informasi terintegrasi untuk mengenalkan FEB, POMB, BO, dan BSO kepada publik FEB UI; pembuatan SOP internal BPM

 

Economica: Evaluasi paling penting BPM? Highlight kalian

BPM      : Ritme kerja. Paruh pertama dan kedua tidak terdistribusi dengan rata. Kurangnya publikasi hal-hal yang berkaitan dengan BPM itu sendiri

 

Economica: Mekanisme pembagian jabatan?

BPM      : Diskusi bertiga. Alhamdulillah berlangsung cepat

 

Economica: Pandangan masalah isu Social Act?

BPM      : Menjadi pembelajaran bahwa masalah akademik itu penting terutama bagi calon Project Officer (PO) di acara-acara FEB. Ketika bidding meyakinkan namun pelaksanaan ternyata tidak bisa. Perhatikan track record calon PO

 

Economica: Pencegahan?

BPM      : Lihat track record, ambil yang lurus-lurus aja

 

Economica: Target lain untuk POMB?

BPM      : Kita ingin empat acara itu punya satu tema ternetu agar nilai-nilai didalamnyanya bisa disinergikan oleh event ini.

 

Economica: Values yang ingin dibawa di BPM tahun ini?

BPM      : Belum diobrolin lebih jauh

 

Economica: Kalau values BPM tahun lalu?

BPM      : Berbeda-beda, maka dari itu ingin disamakan di tahun ini

 

Economica: Pendapat kalian tentang EIS yang belum dapat menjadi BSO disaat IBEC sudah?

BPM      : EIS masih pendampingan via BEM FEB UI. Keduanya kooperatif dan mau berkembang. Namun IBEC lebih siap dan matang

 

Economica: Advokasi yang ingin dilakukan?

BPM: Kita lebih ingin ke masalah kelembagaan yang ada di FEB UI

 

Economica: UKT itu ranah BPM atau BEM?

BPM      : Itu BEM, tapi kita akan koordinasi

 

Economica: Terkait isu SGRC, pendapat kalian kalau masuk FEB?

BPM      : Hak mereka untuk berkumpul dan bercerita, namun bukan mengucilkan orangnya. Hindari saja perilaku tersebut menular.

 

Economica: Kalau SGRC masuk? Apakah BPM merasa bertanggung jawab?

BPM      : Karena bukan corenya anak FEB, gua prediksi belum akan masuk ke FEB

 

Economica: Evaluasi penyerapan anggaran?

BPM      : Tahun lalu bahkan sudah 87% dengan target 85%

 

Economica: Mekanisme pembagian anggaran dari Dekanat?

BPM      : Selama ini seluruh controller mangajukan RAB, melihat penyerapan tahun lalu. Kalau bagus ada peluang dinaikkan tahun ini. Tahun ini sudah dibatasi Dekanat 1,5 per bulan

Economica: Ada tindak lanjut terkait hal tersebut?

BPM      : Sedengarnya itu aturan dari Rektorat, jadi ya mau gimana lagi. Lebih lanjut badan anggaran yang lebih tahu. Namun badan anggaran masih proses berkordinasi dengan Dekanat dan belum mendapatkan update terbaru

 

Economica: Menurut kalian bagimana reaksi controller se-FEB?

BPM      : Pasti ada reaksi untuk pembatasan per bulan yang diberlakukan

 

Economica: Seberapa dekat BPM dan Dekanat?

BPM      : Sudah dan harus dekat dengan Pak Pribadi, kita kan sebagai penghubung kegiatan dan pusatnya

 

Economica: Aspirasi mengenai Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) bisakah melalui BPM?

BPM      : Mengkomunikasikan dengan PKM, dengar pendapat dengan oraganisasi induk acara terkait mengenai masalah dan alasan Pak Pribadi. Lalu disampaikan kembali ke organisasi.

 

Economica: Pesan untuk anak FEB?

BPM      : Kita ingin seluruh mahasiswa FEB bersama seluruh lembaga berkembang dan bergerak bersama

 

Kontributor: Prisca Lidya Patty dan Emil Muhammad

Editor: Muhammad Faathir

1 COMMENT

  1. Masalah sosact : tau apa kalian tentang masalah yang waktu itu dihadapi PO sosact, bukan masalah akademis doang yang buat dia kaya gitu, tapi tekanan dan ketidak percayaan publik juga ikut berpengaruh termasuk dari bpm yang katanya sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab.
    Pas bidding meyakinkan? Pada liat biddingnya gak? Orang diserang ama dijatohin gitu dibilang meyakinkan. Nilai akhirnya aja mepet banget.
    Jangan sampai justifikasi kalian tentang masalah akademik membuat pembaca berkesimpulan bahwa anak feb yang akademiknya kurang bagus itu gak becus di kepanitiaan. Terimakasih.

LEAVE A REPLY