Eksklusif: Ayo Kenal Jambulnya!

1
183
Pelantikan Irsyan dan Alfi sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB UI 2016. (Siti Nurfaiza / economica.id)
Pelantikan Irsyan dan Alfi sebagai Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB UI 2016. (Siti Nurfaiza / economica.id)

Seminggu menjelang dimulainya semester baru, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia mulai tampak berpenghuni. Kampus diramaikan oleh para anggota inti dan badan pengurus harian yang baru saja terpilih dan bersiap untuk masa kepengurusan yang mendatang. Reporter dari Badan Otonom Economica (BOE) sempat bertandang ke kantor Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk berbincang dengan ketua mereka, yang kini menjadi figur publik di kampus FEB. Untuk membantu FEB mengenal salah satu pemimpin mereka di tahun ini, kami mengadakan wawancara singkat dengan Irsyan dan Alfi, ketua dan wakil ketua BEM FEB UI di kepengurusan 2016 ini. Jambul pun menjadi salah satu bahan perbincangan hangat tersebut.

Economica: Hal pertama apa yang kalian lakukan setelah terpilih?

Irsyan  : Berterima kasih, karena kami banyak dibantu orang, mereka yang memikirkan kampanye gue bahkan lebih dari gue sendiri. Dan itu orang-orang yang all out banget buat gue CT CM, dan banyak orang-orang di luar itu. Maksudnya mereka yang bukan CT CM tapi sangat berjasa, sangat-sangat membantu, sangat-sangat memikirkan. Kemudian nelfon orang tua sih. Siangnya gue ketemu orang tua dulu.

Economica: Wah supportive banget. Orang tua seneng banget kalian kepilih?

Irsyan  : Kalo mama seneng. Kalo Papa ya paling “Oh ya selamat ya. Jangan lupa belajarnya”. Karena orang tua gue background organisasinya juga kuat. Dulu Bapak gue ketua senat juga, di UPI, Bandung. Jadi ya mungkin ikutan seneng juga.

Economica: Harapan terbesar lo buat BEM FEB?

Irsyan  : In the long term, gue pengen BEM yang bener-bener responsif, dan kalo bikin acara yang datang banyak. Inklusif, terasa di publik, dan orang ga bilang BEM asik sendiri. Keberadaan BEM harus dirasa semua. Sampe sekarang dan tahun depan, bangun BEM itu kumulatif. Butuh proses.

Alfi     : Ga muluk-muluk. Dirasa publik FEB. BEM FEB bukan milik fungsionaris BEM sendiri, tapi milik publik FEB.

Economica: Cita-cita kalian pribadi?

Irsyan  : Pengen masuk pemerintahan. Jadi sosok di pemerintahan, jadi menteri. Menteri keuangan misalnya, atau jadi menteri yang seperti kementrian desa. Kan menarik juga itu. Ya itu sih, in the long term pengen berkontribusi juga buat negera. Terinspirasi dari orang tua, karena mereka juga berkecimpung di pemerintahan. Itulah kenapa selama ini gue di BEM. Menurut gue BEM itu prototype pemerintahan. Jadi, gue mulai dari sekarang untuk mulai ke depannnya.

Alfi     : Gue hidup dari keluarga wiraswasta. Bokap gue pengusaha. In the long term gue pengen ngembangin usaha keluarga gue yang sekarang.

Economica: Dengan cita-cita kalian yang seperti itu, sebenernya apa sih yang kalian cari dalam hidup?

Irsyan  : Kontribusi. Gimana caranya gue bermanfaat pada orang lain. Itu yang orang tua gue sangat tekankan dan dia praktekan. Bokap gue adalah figur yang meng-inspire gue sampe sekarang.

Alfi     : Di dunia usaha, yang ditekankan abang-abang gue sebagai pengusaha adalah CSR-nya. Kita pengen kalo usaha kita udah gede, CSR-nya bisa bener-bener dijalankan.

Economica: Kalian peduli banget sama FEB dan lingkungan sekitar kalian. Kalo kalian dengar pendapat Oh anak-anak FE itu apatis, pandangan kalian apa? Sebenernya apakah mereka beneran apatis?

Irsyan  : Kadang indikator apatis itu ga terlalu banyak nonton OLIM. Tapi kembali lagi, anak-anak FE itu justru ga apatis. Banyak anak-anak yang aktif. Mungkin dulu SMA-nya ga aktif tapi sejak masuk FE jadi aktif. Aktif kepanitiaan, aktif organisasi. Itu bukan apatis. Banyak banget ranah di FE di mana lo bisa kontribusi, kayak kepanitiaan. Ketika lo, misalnya, kontribusi di UISP atau lo di KOMPEK atau lo jadi staff di mana pun itu, itu sebernya kontribusi buat FE secara ga langsung. Dan bahkan kadang di FE ada judgement sendiri. Mungkin kalo lo ga ikut kepanitiaan mungkin lo ada tendesi untuk (judge) ‘kok gitu sih’. Nah, itu tandanya FE tuh ga apatis. Nah, begitu juga menurut gue, banyak temen-temen yang kalo belajar aja, itu juga ga apatis. Kata apatis itu apa ya, kadang kita ga kontribusi buat fakultas kita. Orang yang belajar pun, ketika sukses nanti, nama dia bagus, nama fakultas juga bagus dong. Orang yang kontribusi buat FE itu orang yang berbuat baik dan sesuai dengan tujuan lo. Menurut gue dengan begitu nama FE akan terangkat.

Economica: Prediksi kalian dalam menjalankan tugas di organisasi?

Irsyan  : Gue udah nge-design gimana gue ambil SKS pas memimpin BEM ini ga terlalu banyak. Jadi mungkin di semester terakhir, saat orang-orang tinggal ambil skripsi, gue masih ambil SKS. Hidup gue akan berubah total, karena dari gue bangun sampe gue tidur lagi itu (diisi dengan) BEM dan FE yang gue pikirin. Karena emang segitunya. Ketika gue melihat Kabem gue yang sekarang, ya itu segitu. Nah, biasanya kita malemnya ada rapat, apalagi karena main ke eksternalnya juga kuat. Apalagi saat UIArt War juga harus hadir.

Economica: Jadi selain jumlah SKS yang lebih rendah yang lo harus ambil, pengorbanan apalagi yang sudah dan akan lo korbankan?

Irsyan  : Kalo IE kan biasanya ambil asdos, gue ga akan. Setahun ke depan gue hanya akan BEM dan belajar aja. Gue ga akan magang atau apa. Karena ya emang sulit ga ada waktu juga.

Alfi     : Karna gue anak rantau, jadwal pulang bakal gue pangkas. Untuk liburan kali ini gue udah fix ga akan pulang. Bener-bener untuk persiapan BEM. Nyari PI, BPH dan persiapan lainnya. Dan pastinya yang bikin berubah, apa pun yang kita lakukan itu bukan sebagai Irsyan dan bukan sebagai Alfi, tapi sebagai ketua dan wakil ketua BEM.

Economica: Kegagalan terbesar apa sih yang pernah kalian alami?

Irsyan  : Pas SMA. Gue pengen banget OSN. 2 tahun itu gue ikut OSN. Gue sempet diunggulin. Wah tahun pertama udah ikut OSN. Terus tahun kedua gagal lagi di Kabupaten. Itu mungkin. Terus selama di SMA banyak gejolak, naik turunnya banyak.

Alfi     : Kalo gue, ini mungkin klise, tapi kegagalan terbesar gue adalah ketika gue lulus SBMPTN undangan. Ketika ada pengumuman undangan, gue lagi bimbel bareng temen-temen gue di Bandung, gue tinggal satu rumah bareng mereka. Kita gue lolos, gue seseneng itu lolos di Manajemen UI. Bener-bener gue ngeluapin gimana senengnya gue. Tapi efeknya apa, 3 temen gue yang belum lolos jadi down dan patah semangat. Gue merasa bersalah ke temen-temen gue. Itu emang temen gue dari SMA dan sampe sekarang masih kontak-kontakan. Saat itu ketika gue seneng temen-temen gue malah makin down. Gue malah matahin semangat mereka. Menurut gue itu kesalahan terbesar gue.

Economica: Pemimpin yang ideal yang bagaimana?

Irsyan  : Dia masuk ke segala kalangan. Dia turun. Dia bukan sosok yang di atas, tapi mudah dijangkau. Kalau di fakultas yang konstituennya cuman berapa ribu, bukan yang kayak negara atau kota, dia harus turun ngelihat masyarakat. Inklusif, ga keras kepala, bisa nerima kritik. Dia bisa asik dengan konstituennya dan di lain sisi dia adalah sosok pemimpin. Ketika dia bisa punya equilibrium di situ, menurut gue itu pemimpin yang bagus.

Alfi     : Dia bisa nempatin diri kapan dia jadi temen, kapan dia jadi sahabat, kapan dia jadi pemimpin. Ketika dia berteman, dia tidak menempatkan diri sebagai sosok, tapi sebagai teman.

Economica: Kalian lebih prefer pemimpin yang apa adanya, terbuka dengan kesalahan dia, atau prefer pemimpin yang composed, jaga image, dan meng-cover kesalahan? Kalian prefer pemimpin yang bagaimana?

Irsyan  : Gue prefer yang pertama. Buat apa juga kita terlalu jaga image. Apalagi di fakultas yang konstituennya banyak, konstituennya temen-temen lo yang seumuran. Jangan nempatin diri terlalu tinggi dengan jaga image atau apa, walau jaga image itu juga penting. Sebagai sosok juga penting. Sebenernya gue milih equilibrium. Tapi kalo gue harus milih, gue akan milih yang pertama.

Economica: Dari pengalaman, kalian lebih condong ke yang mana, pertama atau kedua? Dan proporsinya berapa-berapa?

Irsyan  : Gue condong yang pertama, 70:30.

Alfi     : 70:30.

Economica: Tahun depan kalian akan kerja satu tim. Bagaimana kalian akan membagi tugas?

Irsyan  : Gue akan lebih ke bidang 2, sospol, seni, olah raga, dan eksternal. Dan Alfi sisanya.

Alfi     : Gue pendidikan, internal.

Irsyan  : Itu kalo bidang. Kalo sosoknya seperti apa, gue akan main lebih banyak di eksternal. Gue ga akan main terlalu banyak ke sekre. Alfi yang akan lebih mendiami sekre. Gue akan lebih banyak ke masyarakat, ke luar, ke sana, ke kafe, ke mufe, dan yang di tingkat UI juga gue kan. Jadi lebih eksternal. Kelemahan gue juga ketika pemimpin juga harus memberi perhatian kepada bawahannya, menjadi peka itu kelemahan gue. Gue ngerasa Alfi bisa cover gue di situ.

Economica: Kalo dari segi karakter?

Irsyan  : Gue dari sisi tegasnya ya mungkin.

Alfi     : Gue agak lebih kalem.

Irsyan  : Figur kebapakan di BEM mungkin akan lebih Alfi. Gue bukan tipe yang begitu.

Economica: Hal-hal apa yang tidak bisa kalian toleransi?

Irsyan  : Kebohongan sih. Kalo hal-hal kayak keterlambatan masih bisa ditoleransi, tapi kalo sudah bohong, itu bisa bikin nama BEM jadi buruk dan kinerja BEM jadi buruk. Multiplier effect-nya besar.

Alfi     : Kalo masalahnya ngefek ke dia pribadi ya itu kita balikin ke dia aja.

Economica: Prinsip hidup kalian?

Irsyan  : Selama ini gue ngerasa yang nge-develop gue dan kenapa gue ada di FE ya karena diajarin orang tua tentang pengabdian. Mungkin kesannya klise, tapi orang tua gue tuh bener-bener ngajarin tentang itu. Mereka ngajarin “Udahlah masalah uang itu nanti aja. Pikirin dulu gimana kontribusi kepada masyarakat”. Dan bokap gue bener-bener membuktikan itu dalam pekerjaannya. Itu sih yang menurut gue prinsip yang diajarkan oleh orang tua gue dan yang gue terus pegang, yaitu kontribusi. Gue melihat sosok orang tua gue, gimana Ibu gue yang berkecimpung di dunia sosial dan gimana bokap gue di pemerintahan, itu yang ngajarin gimana gue harus bermanfaat bagi orang lain. Itu yang gue pegang. Dan kenapa gue ada di FE sekarang, itu karena itu, pengabdian.

Economica: Ada ga, satu momen spesial yang lo inget sampai saat ini, yang membentuk prinsip hidup lo?

Irsyan  : Dari orang tua gue sih. Orang tua gue berkarir dari bawah, dari jadi PNS, sampai sekarang dia di Eselon 1. Dia dapet beasiswa untuk keluar, sampe S2 S3 di luar. S3 di University of Chicago. Dengan kelas Chicago, bokap gue itu bisa masuk ke perusahaan-perusahaan atau mungkin World Bank yang menurut gue bisa bikin keluarga kami besar. Tapi dia lebih milih untuk jadi PNS, yang secara keuangan pribadi ga begitu besar gajinya. Saat gue tahu itu gue ngerasa, “Wah gila bange, ternyata bokap gue itu segitunya”. Bokap gue itu bahkan punya chance untuk lebih jadi kaya karena dia lulusan one of the best universities tapi dia milih untuk jadi PNS. Menurut gue itu yang menjadi salah satu yang gue contoh sekarang.

Alfi     : Kalo untuk gue, prinsip hidup yang gue percaya, walau orang bilang itu klise, adalah kalo lo mau sukses harus iringi usaha lo dengan doa. Karena kalo usaha lo tanpa doa, ya lo berarti sombong. Tapi doa tanpa lo berusaha ya sama aja omong kosong. Dan yang gue bener-bener pegang lagi, adalah kejujuran di atas segalanya. Usaha sama doa, balik ke masa SMA sebelum masuk ke UI. Gue udah dari kelas 1 SMA gue cerita pengen masuk UI. Dan ketika gue coba masuk UI, banyak dari temen-temen bahkan guru gue yang bilang “Terlalu jauh lah cita-cita lo. Kita di Riau doang. Emang lu bisa masuk UI?” Dari awal SMA gue usaha banget untuk masuk UI. Dan bener-bener ada hasilnya. Soal kejujuran, sejak SMA gue ga ada yang namanya nyontek apalagi yang UN. Sekolah gue kan asrama, kebetulan pagi-pagi temen-temen gue nge-print contekan itu bareng bareng. Yang nge-print itu di kamar sebelah gue. Gue udah dikasih, tapi gue akhirnya gue usaha dengan kemampuan gue sendiri. Mungkin untuk yang denger, kalian ragu apa ini bener atau nggak. Tapi itu yang emang gue alamin.

Economica: Kalo boleh balik lagi ke soal anak-anak FE, karakter anak FE yang paling kalian inget itu apa?

Alfi     : Anak FE ga bisa ditebak. Kadang kalo lo liat dari luar doang, “Oh orangya begini”. Tapi ketika lo gali lagi lebih dalam, wah anak-anak FE itu luar biasa. Gue awalnya mikir anak FE paling aktif, anaknya gini, oh anaknya biasa aja ya diem. Tapi ketika lo ajak dia ngobrol, ketika lo ajak dia diskusi, wah itu bener-bener ga terprediksi anak-anaknya.

Irsyan  : Anak FE menurut gue juga seperti yang lo bilang, nyambung yang ke apatis lagi. Anak FE sebetulnya banyak yang peduli dengan FE-nya juga. Banyak yang peduli dengan BEM. Misalnya lo lihat anak Kafe sering maen kartu dan ngorokok doang. Ternyata ketika ada masalah BEM, mereka ada harapan buat BEM. Menurut gue, semua anak FE itu punya harapan untuk BEM. Karena BEM seperti pemerintah kan. Eksekutif. Sederhananya ketika kita ngobrol sama tukang ojek dengan tukang warung, pasti dia punya harapan buat ketemu Jokowi kan. Sekecil apa pun. Seperti itu juga BEM. Ternyata tuh, anak FE peduli sama BEM, sama FE. Cuman mereka banyak cara untuk ngungkapinnya. Ada temen gue yang ga gue pikir bisa mikir soal FE, ternyata dia bisa mikir jauh. Seperti kata Alfi, anak FE memang ga bisa ditebak. Mereka punya insight masing-masing. Unik sih menurut gue anak FE tuh. Pinter, semuanya. Yang di sini tuh, tersaring semua. Otaknya tuh semua jalan.

Alfi     : Sepertinya yang orang bilang anak FE tuh beneran terseleksi, ga salah. Anak yang pendiem pun pasti punya pemikiran sendiri.

Economica: Kalo harapan kalian untuk anak-anak FE tahun depan apa nih?

Irsyan  : Lebih aware dengan acara-acara yang dilakukan BEM.

Economica: Okay, BEM aja nih? Hehe.

Irsyan  : BEM dan mungkin kegiatan di sini gitu. Ya lebih aware dengan apa yang terjadi di kampusnya. Karena yang kita lakukan di SC ini kan semua tujuannya baik. Semuanya buat anak FE, buat publik. Ga ada yang kita lakukan di SC itu buruk. Ga ada kan. Semua ke arah yang lebih baik. Ketika itu bisa diutilisasi anak FE, menurut gue itu jadi sesuatu yang keren. Dan kita harus bersyukur. Kemaren gue ngobrol dengan saudara gue (yang sekolah) di (perguruan tinggi) swasta, terus dia bilang dan nanya ke gue “Kalo ada seminar kabarin dong, gue pengen dateng seminar”. Di sana jarang ada seminar. Dan kita tuh seminar sampe tumpah-tumpah. Sampe tumpuk-tumpukkan. Sehari bisa sampe 3 seminar. Nah iitu harus kita syukurin. Ternyata banyak yang asupin kita, ibaratnya. Itu dimanfaatkan.

Alfi     : Kalo gue harapan gue, sama kayak Irsyan, anak FE bisa lebih aware ke kegiatan BO/BSO di FE, lebih pengen bareng-bareng bangun FE. Karena FE ini ga bisa dibangun dengan BEM sendiri, atau BPM sendiri, atau BOE sendiri, atau SPA sendiri, tapi harus bareng-bareng. Walau BEM punya cita-cita ini, BOE punya cita-cita ini, tapi tanpa publik FE, cita-cita itu ga bisa tercapai.

Irsyan  : Kalau kalian tahu gerakan-gerakan seperti 1 FISIP, kita perlu gerakan-gerakan seperti itu, yang bahkan bisa bawa ke isu kontingen sampe dengan isu soal dekannya ngapain. Kalo tahu dekannya sempet ada masalah sama mahasiswa, mungkin masalah jam-jam, masalah satpam, itu yang ngegerakin bukan BEM tapi gerakan 1 FISIP, itu BO/BSO dan mahasiswa FISIP. Itu menurut gue salah satu yang keren dan ternyata tingkat awareness-nya bisa sampe masyarakat FISIP-nya tahu semua. Mungkin ga 100% tapi tingkat awareness-nya itu lho, itu salah satu cara yang patut dicoba.

Economica: Tim yang ideal tuh buat kalian kayak gimana?

Irsyan  : Tim yang ketika lo masuk, lo ngerasa bedanya sebelum dan setelah lo masuk. Jadi visi misi kita ya rumah terbaik untuk mengembangkan staff. Jangan sampe ada satu staff BEM yang setelah keluar dari BEM mikir “Buat apa gue BEM satu tahun ini?”. Jangan sampe kayak gitu. Sesederhana itu. Karena kalo dia udah ngerasa dirinya ter-developed, pasti ngerasa terdorong untuk ngasih ke BEM dan ke FE juga. Soal kekeluarga di BEM, ketua dan staff harus bisa nongkrong bareng. Kita kerja ya kerja, tapi kalo masalah main ya main. Ya, membuat semua yang ada di dalam sana nyaman.

Alfi     : Untuk BEM sendiri, BEM itu diverse. BEM harus diverse untuk mencakup FE yang se-diverse itu.

Economica: Pertanyaan terakhir, ga tau substansial apa ga. Ide kampanye soal klik jambulnya itu dari siapa ya? Boleh diceritain?

Irsyan  : Dari gue hehe. Dari SMA rambut gue emang gini. SMP belum. SMA rambut gue gini. Mowhawk lah. SMA jambul gue udah jadi salah satu maskot. Orang tau gue ya gitu. FYI, gue pernah maju ketua OSIS, dan gue juga pake kampanye itu, pake jambul. Nah, waktu kuliah, jambul gue udah mulai hype nih, habis 2 tahun. Sampe ada yang pernah cerita ke gue soal insiden markir mobil. Waktu itu gue marker mobil agak lama. Ada orang kesel di belakang. Pas dia salip ternyata ada jambul gue dan terus langsung tau gue. “Itu Irsyan ya?”, katanya. Karena mungkin udah segitunya ya, jadi orang langsung tau itu gue. Pasti jadi trademark. Gue sebenernya nanya sama temen gue, “Sebenernya ada lagi ga sih yang rambutnya kayak gue?”. “Kayaknya ga ada deh”. Ya udah gue coba angkat aja.

Economica: Lo pernah kepikiran untuk potong rambut?

Irsyan : Nazar sih sebenernya kalo kepilih. Tapi balik lagi nanti rambutnya. Paling cuman sebulan dua bulan lah ga berjambul, tapi nanti jambul lagi. Gue udah ngerasa pas sih sama rambutnya.

Kontributor: Prisca Lidya Patty, Rifhano Patonangi, dan Silvia Adinda Tarigan

Editor: Muhammad Faathir

1 COMMENT

LEAVE A REPLY