Di Ujung Dermaga (part 3)

0
160

Dua minggu berlalu, satu persatu penumpang berhasil ditemukan. Namun mereka belum juga menemukan Hasan. Aku hanya bisa sholat, mendoakan keselamatannya, mendoakan jasadnya diterima di sisi Allah, bersama dengan jasad ayah dan ibu yang kudoakan setiap hari. Ahong berdoa di kelenteng tiap pagi. Aku dengar kalau ibu Fahmi tidak tinggal di rumahnya lagi. Lolongan-lolongan dari rumahnya terdengar semakin panjang dan parau. Kemudian ada sanak saudara dari Bukit Tinggi yang datang menjemput. Rumahnya sudah kosong selama 2 minggu.

Kota ini padahal indah. Pecinan di dekat pasar dipenuhi semburat warna warni dalam arsitektur kuno: Jeruk, hio, barang elektronik, kembang api, es cendol, barongsai, dan kelenteng kecil yang menarik. Di tepi laut, kerap ada pertunjukan tradisional Melayu: tari-tarian semarak, nyanyian yang mendayu-dayu, ditemani angin laut dan hawa tropis. Kota kecil ini menggemaskan. Seratus sembilan puluh ribu wajah yang tak akan membuatmu bosan. Kudapan yang menggugah selera, tergambar pada brosur-brosur promosi. Kota ini riang gembira tanpa berpesta pora.
Namun mengapa hati kami tengah terbenam? Maut datang tanpa sambutan hangat. Satu-satu di ambil. Apakah aku giliran selanjutnya? Ataukah Ahong?

Suatu sore, aku dan Ahong duduk di dermaga. Hanya kami, dan sekotak rokok impor miliknya. Papanya semakin sakit. Ia masih bergumam tentang investasi, warisan, dan kompetisi bahkan ketika tidur. Katanya waktunya sudah dekat. Ahong harus bersiap-siap. Menjadi ahli waris. Penerus. Harapan keluarga. Kebanggaan.
Aku tahu, Ahong sayang sekali dengan papanya. Namun ia nampak tak peduli semua itu. Tujuan hidupnya bukanlah bisnis. Membelah angin. Menjadi yang terdepan. Ini kompetisinya, balap. Intrik dunia bisnis rasanya kurang cocok. Salahkah seorang bodoh di kota kecil yang bahkan tidak ada di atlas, mempunyai mimpai menjadi seorang pembalap? Ujarnya.

Kutepuk pundaknya. Kucoba tenangkan ia yang nampak gelisah dan muram. Refleks ia menangis. Tangisan yang terbendung berbelas tahun, tumpah ruah, berisi depresi dan kesedihan yang sudah menumpuk sekian lama. Aku Aku refleks memeluknya. Ia memelukku lebih erat. Kegelisahanku datang, seperti kegelisahanku saat melepas ayah, lalu Hasan. Aku mencoba tidak menghiraukannya.

“Aku berharap yang terbaik untuk kau,” ujarku sore itu. Ia tersenyum. Menyelipak sebatang rokok terakhir ke mulutnya – tidak dibakar. Ia memacu motornya dan pergi. Menyisakan aku dan kegelisahanku bersama dengan semburat jingga senja di dermaga.

Sore itu Ahong melaju kencang. Membelah angin. Melarikan diri dari realita. Menuju tikungan tajam itu. Eksekusi yang sempurna! Sampai Sebuah truk tiba-tiba berbelok kencang dari balik tikungan.

BRAK!

***

Lelaki itu masih tertegun bisu di dermaga tua itu. Bertanya-tanya, kemanakah jiwa mereka semua pergi setelah sewindu lamanya. Apakah ada kehidupan selanjutnya. Apakah cinta dapat mengalahkan maut. Semua orang yang ia cintai telah tiada. Sebatang kara adalah konsepsi paling pilu dan dingin di semesta. Hidup tanpa rasa hangat yang membuncah di dada. Kemana perginya nurani? Apakah sudah terbawa oleh mereka-mereka yang menelan senja lebih dulu?
Toh cinta tidak terbatas pada dimensi eros pada sepasang sejoli. Mereka-mereka yang engkau doakan tiap malam, yang membuatmu terpukul ketika mereka tidak dapat hadir di saat engkau hendak hancur, bukankah mereka orang yang engkau cintai?
Ini batang rokok yang ke dua belas. Cahaya mulai pudar perlahan di horison. Seakan berlari, mengejar bola jingga yang tengah menyelesaikan kalimat penutupnya.

Pukul lima tiga puluh.

Baginya, dermaga ini tetap selalu menjadi tempat baginya untuk pulang. Senja di dermaga tua itu tidak pernah lebih menawan dari semburat bola jingga yang sudah hamper tenggelam. Seperti sebuah lantunan pantun yang asing bagi retorika. Layaknya kunang-kunang yang menjadi manifestasi jiwa-jiwa kesepian dan akhirnya meraup asa. Kota itu memang kecil, namun asa menjelma sebagai sumber resistensi akan stagnasi dan kekelaman. Dan bahwa maut bukanlah akhir dari cinta. Maut hanyalah pemisah temporer, sampai kita mencari satu hal yang kita cari bersama: Kedamaian abadi. Dan biarlah dermaga tua itu menjadi saksi indahnya bola pijar yang turun panggung itu, senja ini.

Terlampau banyak asa di sana.

Rokok yang sedari tadi hanya diselipkan pun ia bakar akhirnya. Deburan ombak memecah pantai. Hujan menetes di pelupuk mata lelaki itu.

 

Penulis: Ruth Artia Heldifanny

LEAVE A REPLY