Di Ujung Dermaga (part 2)

0
402

Karenanya aku tidak bingung ketika harus melepas kepergian ibu dua tahun kemudian. Toh, tujuan hidup hanya cakap-cakap manusia yang tIat kehilangan nyawanya. Ibu sudah bahagia dengan ayah. Tujuan hidup ibu adalah ayah. Saat ayah meninggal, tujuan hidup ibu adalah kembali bersama ayah. Ibu hanya mengejar tujuan hidup tersebut. Namun ibu berbeda. Ia tak takut pada kematian lagi.

Walikelas dan teman-teman datang ke rumah di hari kematian ibu. Membawa sebuah toples berisi sumbangan kasih – begitu kata walikelasku, sebagai wujud simpati atas apa yang menimpaku. Walikelasku mengatakan bahwa biaya pendidikanku akan ditanggung sepenuhnya oleh sekolah. Namun kutolak secara halus, tak hendak bersekolah lagi kataku. Aku lebih nyaman di lautan. Menjala ikan. Hidup megikuti arus dan angin laut hingga mabuk kebebasan. Memang seperti tidak ada tujuan. Tapi tanpa tujuan hidup pun tak masalah. Yang penting tak menjadi pecundang, begitu kata ayah. Lagipula, tujuan hidupku sudah lama hilang ketika ayah meninggal.

Selepas kepergian orang-orang yang melayat, tinggalah aku dan kedua sahabatku, ramai-ramai kami naik motor Ahong menuju dermaga. Bonceng tiga. Aku duduk duduk di paling belakang, mengapit Hasan yang menenteng kresek putih berisi minuman dan rokok impor milik Ahong. Kami duduk di dermaga, entah sampai jam berapa. Tidak ada lagi Pak RT yang mencari. Hanya kami bertiga, botol-botol minuman, berbelas-belas batang rokok, dan obrolan larut malam. Jujur, apa adanya.

Ahong. Ayahnya pengusaha resor pantai besar. Mungkin orangtuanya orang paling kaya di kota. Sedari dulu paling besar mulutnya. Aku tidak pernah benar-benar menyukainya. Meski begitu, ia sering membuntutiku kemana-mana. Waktu itu, entah karena kesal atau apa, pernah aku dorong ia hingga jatuh terjerembab. Kepalanya bocor. Ibu di panggil ke sekolah. Anak pekerja kapal tanker membuat bocor kepala anak pemilik resor. Syukur keluarganya tidak meminta ganti rugi. Aku mendapat cambuk rotan dari bapak malam harinya.

Meski uang sakunya lebih banyak dari penghasilan ayah, Ahong tak punya teman di sekolah. Lalu Hasan, dengan jenaka mendekati dan menjadikanya kawan. Tidaklah sulit mengambil hati seorang yang tengah terluka. Jadilah kami bertiga: aku-Hasan-Ahong. Tiga sekawan yang menggemparkan dunia. Setelah bapak meninggal dan ibu memutuskan untuk menjadi bisu, mereka berdua menjadi tujuan hidupku. Dermaga tua menjadi sorga untuk meluapkan keresahan dan masalah hidup dalam ironi tawa. Hasan yang jatuh cinta lagi untuk yang kesekian ribu kalinya. Ahong yang di paksa ayahnya meneruskan usaha, padahal ia menyimpan asa menjadi pembalap. Dan aku yang bosan dengan segala kejenuhan abadi semesta. Dermaga tua itu adalah sorga bagi kami. Tempat untuk menjadi gila tanpa ada satu makhluk bumi pun yang mencela. Namun apalah artinya sorga tanpa mereka-mereka yang berarti bagimu. Mereka yang setia memabukkan siang dan menyuntikkan cahaya baskara ke dalam nadimu saat malam tiba.

Namun, apa artinya surga jikalau kau sebatang kara?

Pada sebuah malam yang senyap, Ahong muncul di depan rumah. Nafasnya memburu. Ada gemuruh di matanya. Ombak pasang yang menggulung. Gunung yang meletus. Ada pisau yang menancap dalam di setiap nafas yang ia ambil.
“Hasan hilang dari rumahnya. Kabur.”

Astaga.

Kata warga, Hasan terakhir terlihat keluar bersama seorang wanita – entah siapa. Tentu kami mengetahuinya. Bagian-bagian cerita cinta Hasan yang tidak direstui ibunya, bagian-bagian rencananya hendak kawin lari dengan Jelita – gadis kembang di kota kami, cerita ketika Hasan menelponku tempo hari saat senja, mau minjam uang katanya.

“Untuk apa?” kataku resah. Nada suara Hasan gelisah, nampak terburu-buru.

“Ada keperluan mendesak. Aku harus ke Ibukota. Kau tenang saja, akan kukembalikan secepatnya. Kutunggu di dermaga,” Ia memutus telepon.

Saat aku menyerahkan uangku yang juga seadanya adalah saat terakhir aku melihat wajahnya. Kubekali iya dengan sekotak rokok impor Ahong. Ia tergelak, aku juga, meski tawaku masam. Firasatku sungguhlah buruk, seperti saat hendak melepas ayah bekerja sebelum kapalnya meledak di lautan. Kulepaskan pelukan erat kepadanya. Hasan memelukku lebih erat. Dan aku masih berharap ia tidak akan meledak di lautan. Senja semakin uzur. Hasan pun hilang bersamaan dengan hilangnya jingga dari cakrawala.

Dua hari Hasan tidak kembali. Aku pernah meneleponnya dengan ponsel Ahong. Suara Hasan menyahut dari kejauhan. Ia sedang di kapal, katanya. Menceritakan gairah dan bara api yang menyala penasaran. Kapalku menjadi saksi bisunya. Dua bujang yang terlalu tergesa-gesa. Akal sehat kabur. Nurani menguap entah kemana. Letusan cinta bagai kembang api tahun baru: Meledak-ledak.

Kami akan menetap di Ibukota, kata Hasan. Penyegaran untuk jiwa-jiwa yang hengkang dari realita. Aku masih punya seratus ribu. Cukup untuk makan seminggu. Atau mungkin tidak? Apa aku harus mencari kerja? Berdoa sajalah. Karena dimana ada cinta dan kasih disitulah ada Tuhan, bukan?

Ahong tak lagi kuasa. Dibentaknya Hasan dari seberang.

“Kenapa kau lari lah? Ibu kau nangis-nangis di rumah! Nanya kau ada dimana sama aku! Minta dicariin! Bapak kau sudah tak ada! Masa kau mau biarkan ibu kau sendiri? Buruan balik! Aku ama Daru tunggu kau di dermaga.”

Panggilan terputus. Sinyal hilang. Ada halilintar yang menusuk jauh ke dalam ulu hati. Menampar keras.
Lalu terdengar suara letusan dari gudang kapal. KR Bintang Jatuh karam. Tiga puluh dari empat puluh dua penumpangnya dinyatakan hilang. Ada nama Hasannudin dan Jelita Aksara dalam daftar itu.

 

Penulis: Ruth Artia Heldifanny

 

Part 3 –> Di Ujung Dermaga (part 3)

LEAVE A REPLY