Di Ujung Dermaga (part 1)

0
409

Lelaki itu memarkirkan mobilnya tidak jauh dari dermaga. Semburat jingga senja, hembusan angin lembab berbau sedikit masam, menyambut langkah lelaki itu seraya keluar dari mobilnya. Dermaga tua itu masih berdiri disana. Nampak kokoh, meskipun sudah kusam termakan usia. Namun tak sekalipun hempasan ombak sanggup memecah belahnya. Punggung lelaki itu tegap di ujung dermaga. Setelannya tidak cocok dengan tempat ini. Kemeja slim fit biru muda perpadu dengan celana panjang hitam dan pantofel mengkilat, serta bau parfum kayu manis maskulin, terlalu kontras dibandingkan kaus gombor berlubang dan celana pendek yang dikenakan beberapa nelayan di pinggir dermaga. Dikeluarkannya sebatang rokok impor dan diselipkannya di bibir, tapi tidak dinyalakan. Mungkin ia tidak ingin liatan api mengganggu keintimannya dengan dermaga, gelombang, dan senja.

Entah sudah berapa puluh ribu kali ia memandang matahari yang hendak terbenam dari dermaga ini. Semuanya selalu berbeda. Kini, hanya dirinya seorang menatap senja dengan tatapan lelah yang tidak berubah. Ia lapar – oleh karena pekerjaannya yang menumpuk, tak sempatlah ia makan. Gumpalan bola jingga berpijar lemah itu terlihat menggiurkan untuk batin yang merengek kesepian. Tersendat-sendat turun ke peraduan, namun tetap memaksa anggun. Parameter bagi kadar asa yang kian menipis dan sekarat. Mata lelaki itu tetap tertuju pada senja lekat-lekat. Tidak membiarkan sedetikpun senja luput dari padanya.

Sewindu itu delapan tahun. Lucu memang, apa yang terjadi selama delapan tahun yang lampau bisa tetap membawanya kembali kesini. Lucu memang, jika mereka menggadang-gadangkan istilah konspirasi alam semesta untuk menjelaskan segala kejadian dalam hidup manusia. Pertanyaannya, semesta yang mana? Baginya, semesta terlalu kejam. Takdir mengalahkan simpati yang telah bertahun-tahun menggunung: hasil manifestasi adalah obsesi. Tak percaya takdir, katanya. Toh katanya tujuan hidup hanyalah cakap-cakap manusia yang takut kehilangan nyawanya. Dan ketika kebenaran konsepsi tujuan itu memang non-sense, mereka yang percaya pelak kehilangan nurani. Dilema moral hanyalah cakap-cakap lain yang kontradiktif. Lain-lainnya juga hanya imaji.

Satu-satunya yang nyata hanyalah dermaga tempatnya berdiri. Dermaga inilah yang selalu menjadi tujuan lelaki ini ketika hidupnya dirasa tidak punya tujuan. Ia hanyalah kapal kecil ditengah lautan luas, dan satu-satunya konspirasi semesta yang dapat masuk akalnya hanyalah: semesta selalu menuntunnya pulang ke dermaga ini.

“Beri aku waktu sejenak,” bisiknya kepada senja.

***

Aku masih berusia empat belas tahun ketika ayah dinyatakan meninggal setelah jasadnya tidak berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat setelah hampir sepuluh jam mereka mencari. Kapal tanker tempatnya bekerja meledak – salah satu tragedi terbesar di kota, bahkan mungkin masuk berita nasional. Semuanya terasa fana. Aku melihat jelas pemandangan itu dari pinggir dermaga, ada api yang meliat-liat di tengah lautan. Ayah ada disana, terbakar, lalu karam bersama kapalnya dan puluhan pekerja lain. Meski jasadnya tidak ditemukan, namun aku yakin ayah sudah menyatu bersama laut.

Selepas menaburkan kembang di laut, aku tetap tinggal di dermaga. Melepas segala pilu dan kesedihan yang tidak tertahankan kepada deburan ombak dan awan kelabu pekat. Laut tidak akan berkhianat, ia tidak pernah membicarakan kesedihan kepada orang lain, maupun lautan lain. Entah berapa lama aku duduk di dermaga saat ada tangan kokoh yang tiba-tiba menarik dan membuyarkan keintimanku dengan lautan dan dermaga. Rupanya Pak RT dan beberapa warga mencari. Kata mereka, ibu meraung dan melolong-lolong di rumah, lalu sempat pingsan namun sudah siuman. Mereka menyuruhku menjaga ibunya baik-baik, menggantikan posisi ayah. Aku hanya manggut-manggut, tidak sungkanlah melawan petuah Pak RT. Meski aku sungguhlah tahu, betapa sang ibu sangat mencintai ayah. Seluruh tujuan hidup ibunya adalah untuk ayah.

Karenanya aku tidak bingung ketika harus melepas kepergian ibu dua tahun kemudian…

 

Penulis: Ruth Artia Heldifanny

 

Part 2 –> Di Ujung Dermaga (part 2)

LEAVE A REPLY