Balada Biaya Kuliah

0
153
Ulasan Diskusi Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Taman Lingkar Perpustakaan Pusat UI

Di bawah pohon rindang Taman Lingkar Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, sekumpulan mahasiswa tampak ramai seusai sholat Jumat. Sound system yang disiapkan mengumandangkan antisipasi atas kehadiran masa yang cukup signifikan. Ketika layar proyektor dinyalakan, terpampang jelas agenda di siang tersebut. “Misteri Biaya Kuliah?”, ujarnya.

Massaid Bimo selaku Ketua Badan Audit Kemahasiswaan FEB UI 2015 dan Ahmad Alhamid, Ketua BEM FISIP terlihat seliweran di depan layar yang mengumumkan diadakannya diskusi siang itu. Pada Jumat tanggal 29 Januari 2016, Kastrat dan Adkesma se-UI membuka kesempatan kepada publik mahasiswa UI untuk bertukar pikiran dan memberikan respon terhadap wacana kenaikan batas atas Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampus tersebut.

Diskusi dimulai sekitar pukul 13.40 WIB dengan kehadiran sekitar mahasiswa dari hampir seluruh fakultas di Universitas Indonesia. Acara tersebut dimoderatori oleh Ahmad dan dimulai dengan presentasi dari Bimo. Selaku bagian dari Tim 6, Bimo secara garis besar melaporkan kinerja mereka sebagai representasi dari mahasiswa untuk membantu Rektorat dalam menetapkan batas atas biaya UKT.

Ia menjelaskan bagaimana Tim 6 dibentuk dengan tujuan demikian, namun beberapa kali pertemuan dengan Rektorat ternyata jauh dari yang diharapakan. Awalnya Bimo menuturkan beberapa alasan yang disampaikan Rektorat terkait mengapa batas atas UKT harus dinaikkan. Salah satunya adalah cita-cita UI untuk menjadi world class university, di mana kualitas dirasa membutuhkan kuantitas yang besar dalam bentuk dana. Lebih lagi, uang kuliah belum naik selama beberapa tahun terakhir di saat inflasi terjadi setiap tahunnya.

Bimo menyatakan bahwa Tim 6 yang sempat berdiskusi dengan pihak Rektorat memiliki berbagai kendala dalam prosesnya. Walau pihak Rektorat berusaha untuk menyampaikan alasan dan teknis kenaikan batas atas UKT, belum ditemukan alasan kuat untuk melakukan hal tersebut. Hal yang dirasakan oleh Tim 6 adalah kesan terburu-buru dari pihak Rektorat untuk mengesahkan keputusan baru terkait UKT, berhubung hal ini perlu untuk dituntaskan sebelum mahasiswa baru 2016 mendaftar. Alhasil, diskusi yang dilaksanakan oleh pihak Rektorat dan Tim 6 berlangsung tanpa arah yang jelas.

Terlepas dari efektifitas diskusi antara Tim 6 dan pihak Rektorat, beberapa mahasiswa mengungkapkan keberatannya jika UKT dinaikkan. Memang, kenaikkan batas atas secara teknis tidak akan mempengaruhi asas keadilan yang merupakan semangat awal hadirnya BOPB. Selama ini pun tidak ada mahasiswa yang terbukti di-drop out karena masalah keuangan. Di diskusi kemarin juga ada yang memberikan testimoni soal pihak Rektorat yang tidak pernah menyulitkannya dalam masalah uang kuliah.

Namun begitu, hal ini dibantah oleh kesaksian dari banyak mahasiswa lainnya. Rifqi, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FEB 2015, menyampaikan bahwa dalam pelaksanaannya seringkali fakultas membebankan mahasiswa dengan biaya melampaui batas atas oleh sebab target pemasukan fakultas. Mereka yang terbebankan dengan UKT yang tinggi memiliki kemungkinan telat membayar, dan akhirnya dianggap mengundurkan diri setelah dua kali berturut-turut tidak membayar. Hal yang disesalkan ini pernah terjadi sebelumnya.

Selain itu, pertanyaan paling besar dari wacana kenaikan UKT tersebut adalah transparansi aliran dana jika UKT memang benar dinaikkan. Di saat dana abadi Universitas Indonesia yang dapat dibilang besar belum dimanfaatkan dengan maksimal, kebutuhan dana yang belum jelas untuk apa tersebut kini dibebankan kepada mahasiswa. Opsi lain dari kenaikan UKT adalah proyek ventura UI untuk semakin dikembangkan.

Diskusi pun diakhiri dengan masukan para peserta diskusi sebagai perwakilan mahasiswa UI untuk dengan bulat menolak kenaikkan batas atas UKT. Kesimpulan ini akan di bawa ke rapat selanjutknya antara Tim 6 dengan pihak keuangan Rektorat.

LEAVE A REPLY