Ritual Turun Hujan

0
193

Ritual Turun Hujan, begitu aku menyebutnya. Ritual nan sakral dan seakan wajib diikuti oleh anak-anak di kota yang tinggal di perkampungan sekitar jalan raya saat turun hujan. Titik-titik air hujan yang jatuh menjelma keceriaan yang memancar dari raut muka mereka. Canda tawa mereka menghiasi trotoar jalan ibu kota sore itu, menghibur pengendara kendaraan yang akan mengakhiri hari bersama keluarga tercinta. Sebenarnya tempat yang tepat untuk menyaksikan ritual itu adalah saat berjalan di sepanjang jalan layang halte Transjakarta. Tapi terkadang titik hujan yang terbawa angin menampar wajah dan mengganggu pandangan.

Pemandangan itu masih terlihat hingga sebuah taksi yang melaju dengan kencang, kemudian melambat dan tiba-tiba berhenti. Seketika itu aku tertegun mengamati dengan saksama apa yang terjadi. Seorang bocah lelaki berdiri tepat di depan taksi dan membawa sebuah botol berisi cairan. Tidak tampak cairan apa yang dibawa, segera si bocah menyemprotkan cairan ke kaca depan taksi. Suasana yang tadinya ceria bertambah gaduh.

Dua bocah lainnya berdiri di pintu mobil tepat disamping pengemudi, memaksa si pengendara untuk membuka kaca pintu dan meminta beberapa keping atau lembar uang receh. Beberapa detik, baru terlihat di kaca depan taksi ada busa-busa yang menempel, kalau begitu cairan itu adalah air sabun dan ketika bertemu dengan air hujan akan berkonversi menjadi busa. Setelah busa bermunculan, barulah si bocah mengelap kaca mobil dan menunggu busa habis oleh guyuran hujan. Si sopir taksi membuka kaca taksi dan memberi beberapa receh uang, lalu melaju kencang diiringi sorakan bocah-bocah lain dari trotoar jalan.

Tepat dua minggu sebelumnya kejadian serupa kualami ketika aku dan dua teman lainnya menuju Museum Kebangkitan Nasional. Saat itu kami menggunakan jasa bajaj. Layaknya bajaj lain, bajaj yang kami tumpangi melaju dengan pelan dengan gaya dan bunyi khasnya. Kebetulan hari itu juga turun hujan, untunglah sesaat setelah kami berada di bajaj. Saat melewati jalan pintas sebuah perkampungan, tiba-tiba ada segerombol bocah mendekati bajaj yang kami tumpangi dan menyemprotkan cairan sabun. Alangkah kagetnya kami, terutama aku yang memang baru menyaksikan pertama kali. Apa maksudnya ini? Apa yang bocah-bocah ini inginkan? Tanyaku dalam hati.

Si sopir bajaj menyuruh mereka menyingkir dari bajaj, akan tetapi mereka berteriak dan memaksa meminta uang. Saking geramnya sopir bajaj menjanjikan mereka uang setelah mengantar kami, dan membunyikan klakson keras-keras. Dengan wajah putus asa dan kesal bocah-bocah menjauh dari depan bajaj. Bajaj pun tunggang langgang seketika. “Maaf ya neng, itu mah sudah biasa disini apalagi di jalan-jalan yang agak sepi kayak gini,”tutur sopir bajaj tiba.

Fenomena yang jarang bahkan tidak ditemui di kota-kota kecil atau bahkan hanya ada di ibu kota. Satu pertanyaan yang masih mengganjal benakku adalah latar belakang dibalik aksi nekat anak-anak tersebut. Apakah karena keterbatasan ekonomi keluarga, mereka berlagak seperti penodong di jalan dengan senjata botol berisi air sabun? Ataukah justru keterbatasan ruang bermain seperti halaman rumah dan lapangan hijau yang jarang ditemui di ibu kota, sehingga untuk melampiaskannya mereka memilih bermain di jalan raya dan mengganggu pengendara kendaraan yang melintas? Sungguh ironi, jika penyebabnya demikian. Atau ada penyebab lain? Tidak ada yang tahu pasti, sebelum dilakukan penelitian dan pengamatan lebih lanjut kepada pihak terkait. Namun satu harapanku, semoga Ritual Turun Hujan tetap ada dengan keceriaan dan canda tawa anak-anak yang bermain di lapangan luas nan hijau.

 

Penulis: Siti Nurfaizah

LEAVE A REPLY