Taman Sastra

1
229

: untuk orang-orang yang menyadarkan saya sastra masih ada

Di antara hak dan kewajiban hidup berlalu begitu cepat,
awan-awan datang lalu hujan kembali tiada, daun dan bukan daun
diterbangkan angin untuk sampai pada tempat yang tak pernah jelas musababnya.
Semua bergerak, bergegas, lambat berarti tamat. Antara masa lalu, masa kini, dan
masa depan saling merapat, jalin-menjalin.

Tapi lalu ada yang bertanya: hidup ini sederhana, kenapa tidak kita nikmati saja?

Dan disitulah kita: gumpalan awan bisa jadi satu hal yang romantis, jatuhnya daun barangkali pertanda hujan akan turun karena angin begitu kencang. Cinta barangkali bisa bertahan. Amarah juga barangkali bisa bertahan.
Tapi setidaknya tak ada yang tergesa-gesa. Semuanya khidmat. Semuanya nikmat.

Karena sebatas kata bukan budaya kami, maka kita mulai memberi makna untuk hidup yang cuma sementara.

Rabu, 4 Maret 2015
Penulis: Ibrohim Abdul Halim

1 COMMENT

LEAVE A REPLY