RUANG HAMPA

0
178

“Di, mau kuambilkan bintang?”

Aku, menggeleng

“Atau mau kuambilkan bulan?”

Aku menggeleng, lalu kemudian tertunduk.

Lantas kami sama-sama diam dalam ruang hampa tanpa batas, hanyut dalam bintang dan bulan yang berbeda.Bulan dan bintang dengan definisi yang berbeda, bentuk dan rupa yang berbeda, dan guna yang berbeda pula.

“Mau kuambilkan…”

Buru-buru aku menatapnya lesu, sebelum ia sempat mengakhiri kalimatnya. Bukan, bukannya aku tak mau, hanya saja… kita berpikir mengenai satu bahkan dua hal dalam konsep yang tak sama. Lantas bagaimana aku mengiyakan sesuatu yang tak pernah aku pikirkan bahkan inginkan.

Kini ia yang menundukan kepalanya, menelungkupkan kedua tangannya, lalu membiarkan jari-jarinya saling memeluk, erat.

Sendu dapat kubaca raut mukanya yang bahkan tak tampak, tapi aku tahu, sendu.

Sepi, aku mendengarnya, mendengar sesuatu yang tak bersuara, aku tahu, aku tahu kamu merasa sepi.

Ingin sekali aku peluk sedihmu, hingga ia kelak berubah menjadi sekeping bahagia. Ingin sekali aku peluk sepimu hingga ia berubah menjadi ramai yang menenangkan, seperti cerita sebelum tidur yang dibacakan ibu kepada tiga orang anaknya, atau seperti kamu yang tak berhenti meracau, tapi mampu membuatku bahagia.

“kamu tak mendengarkan aku Di”

Tiba-tiba pecah kesunyian ruang itu, katanya aku tidak mendengarkan.

Setetes air mata jatuh, buru-buru aku hapus, “Aku mendengarkan Ke”

Lagi, untuk kedua kalinya, kami sama-sama tenggelam dalam sunyi, sepi, sendu, di ruang hampa tanpa batas ini.

“Harusnya aku peluk kamu sejak tadi” aku berbisik, berharap kamu mendengarnya.

***

Angin sepoi menerpa rambut hitam tipisku yang basah, aku berdiri terdiam, membiarkan angin ini menerpa rambutku dan menerbangkannya sesaat. Aku memejamkan mataku, mencoba meresapi angin-angin kecil yang mendatangiku sejak tadi, menikmati sentuhannya, menghayati rimanya.

Tesss… setetes air langit asin tiba-tiba mengenai pipi dinginku, aku menyapunya perlahan. Dulu aku suka hujan Ke, kamu tahu persis. Hujan menyamarkan air mataku, hujan membawa pergi gelisahku, membawanya sampai ke hilir lalu berlalu dan menyatu dengan samudera luas tempat hujan membuangnya.

Aku melihatmu disana, berdiri tegap namun tertunduk, mengembangkan payung hitammu di udara.

Aku hampir menangis.

Aku mau kedua-duanya Ke, bintang dan bulan, tapi apa keduanya mampu menerangi ruang sempitku yang gelap dan pengap. Apa mereka mampu?

Ke, biara kupeluk kamu, biar habis sudah semua sunyi dan senyap ini, biar lenyap sudah sendu dan sepi ini. Ruang hampa ini sudah membentuk kita menjadi berbeda, menjadi Di dan Ke yang baru, entah baik entah buruk. Ruang hampa ini telah menghantarkan kita pada cabang-cabang persimpangan berbeda yang mustahil sama-sama kita lalui di jalan yang sama.

Ruang hampa ini…. Ahhh Ke, biara ku peluk kamu lebih lama, biar hilang semua sunyi, senyap, sendu, dan sepi itu. Ruang hampa ini Ke, biar sesukanya sajalah membawa kita ke jalan ini lalu ke jalan itu, ke cabang ini, lalu berbelok di cabang itu, biar ruang hampa ini berkerja, seperti apa seharusnya ia bekerja.

Simpan bulan dan bintang itu Ke, biarkanlah ia jadi teman setiamu di cabang ruang hampamu yang baru, biarkan ia jadi kompas, biarkan ia jadi cahaya, biarkan ia jadi pemberi makna. Biarkan ia ikuti kamu perlahan dari belakang tanpa suara, tanpa menganggu kamu yang jatuh bangun membaca peta, biarkan ia menjadi tempat buat kamu Ke, tempat untuk sesekali menengok dan bertanya sudah berapa jalan, cabang, dan belokan yang kamu lalui, hingga tiba di sisi lain ruang hampamu.

Simpan saja Ke, karna aku punya bulan dan bintang kusendiri. Aku punya kompas, cahaya, dan pemberi makna kusendiri, yang mungkin berbeda dengan punyamu, namun beginilah caraku membaca, caraku membaca petaku yang berbeda, caraku membacamu.

Ke, kulepas pelukanku disini.

Semoga bulan dan bintangmu menjauhkan kamu dari sendu itu, semoga petamu menunjukkan jalan-jalan yang membuatmu bahagia, semoga ruang hampamu sebaik dan seindah ruang hampaku.

Terima kasih sudah menawarkan aku bulan dan bintangmu yang benderang, sampai jumpa Ke.

 

Semoga ruang hampa berbeda ini kelak mempertemukan kita lagi di salah satu jalan, cabang atau belokannya.

Sampai jumpa Ke sayang, sampai nanti, sampai kita bertemu lagi…

 

 

Penulis: Syapira

 

SHARE
Previous articleTak Sama
Next articlePentingnya Memperbaiki Birokrasi
BOECONOMICA
Gedung Student Center Lt. 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok, 16424 Jawa Barat - Indonesia

LEAVE A REPLY