Rantau

0
105

“Aku berangkat dulu ya, Ma.. Pa..”

Dari jauh tampak perpisahan antara anak dan orangtuanya—tebakku—ini cukup haru. Mereka saling berpelukan dan mata si ibu terlihat berkaca-kaca.

Aku mengalihkan pandangan ke sudut lain.

“Ayaaaaaaaah!” seru seorang bocah, kira-kira berusia lima atau enam tahun, kegirangan.

“Ayah bawa oleh-oleh nih, buat adek. Ada cokelat, ada baju, ada mainan, ada apa lagi yaaa, banyak deh pokoknya,” tukas sang ayah, sambil menggendong bocah itu dengan raut muka bahagia, rindunya terobati selepas ia berjumpa dengan anaknya.

***

Bandara. Satu tempat dimana dua adegan kontradiktif muncul. Pertemuan dan perpisahan. Satu sisi ada pemandangan haru, isak tangis melepas kepergian yang tersayang. Sisi lain, gelak tawa menyambut kedatangan yang dicinta.

Aku sendiri, entah sudah berapa kali aku ada di sini. Namun, seberapa sering pun aku mengulang ‘adegan’ ini, suasana hatiku belum pernah berubah. Hmm, enggan pergi. Masih ingin bergelayut dalam nikmatnya tinggal di kampung halaman sendiri.

Adegan seperti ini mungkin tak akan pernah terjadi jika di hari itu, hari pengumuman kelulusan ujian masuk suatu perguruan tinggi negeri, tak memberikan sederet kalimat “Selamat, Anda diterima sebagai calon mahasiswa baru” di akun pendaftaran ujianku. Kalimat sederhana yang cukup singkat, namun sangat kudambakan. Terlebih sebelumnya pernah dikecewakan oleh kata “maaf” di ujian seleksi yang lain.

Namun tampaknya kalimat itu ditangkap sedikit berbeda oleh orangtuaku. Mungkin yang ada di pikiran mereka adalah tulisan “Selamat, (anak) Anda diterima sebagai calon mahasiswa baru (di kampus yang berjarak 865 kilometer dari rumah Anda).”

“Selamat ya, Ndhuk. Akhirnya doamu terkabul, bisa pakai jaket kuning. Harus konsekuen ya sama pilihanmu. Belajar yang baik, harus lebih mandiri, ibadahnya ditingkatkan jangan sampai dilalaikan.”

“Iya Yah, Bu..”

“Masmu kuliahnya jauh, sekarang kamu juga ikut jauh. Ayah sama ibu jadi sendirian di rumah.”

Kemudian suasana pun menjadi melankolis.

Aku tersenyum jika kembali mengingat momen itu. Merantau. Kehidupan yang kini harus kujalani akibat keputusan yang ku ambil waktu itu. Menyesal? Tidak sama sekali. Justru kadang aku berandai-andai, kalau saja waktu itu aku tidak memilih untuk merantau, pasti tidak akan merasakan kesempatan menyicip pengalaman yang sangat berharga seperti sekarang.

Boarding-nya jam berapa, Ndhuk?”

Lamunanku buyar. Benar juga. Kurang dari tiga puluh menit pesawat yang akan kutumpangi lepas landas.

“Aku masuk sekarang ya.”

Dan begitulah. Untuk ‘episode’ kali ini aku melakukan ‘adegan perpisahan’. Kembalinya aku ke perantauan diiringi wejangan-wejangan seperti ‘beri kabar kalau sudah sampai’, ‘ibadah jangan ditinggal’, atau ‘jaga kesehatan’. Klasik, tapi selalu bisa menentramkan.

Merantau memang menarik dan menyenangkan. Tapi manusiawi bukan, jika sesekali terbesit akan kampung halaman?

***

Penerbanganku rupanya ditunda tiga puluh menit, aku dengar dari pengumuman yang baru saja diucapkan oleh petugas informasi. Ayah ibuku sudah telanjur pulang. Kuputuskan untuk duduk dan menunggu di boarding lounge saja sembari mendengarkan lagu dari ponsel. Tak sadar aku ikut bersenandung kecil saat salah satu lagu terputar. See, we won’t forget where we came from, the city won’t change us.. No matter where we go, we always find our way back home..

 

Penulis: Salma Amelia Dina.

LEAVE A REPLY