Racauan ‘tuk Umi

0
107

Nusa Tenggara,pagi hari, 21 Februari 2018

Hai Um, apa kabarmu?

Sungguh terdengar klise dan durhaka anakmu ini menanyakan itu.

“Apa kabar” adalah metafora perlambang tanya yang buruk.

Tirai pembuka yang menyedihkan, namun selalu dikenakan.

Umi, situasi sudah berubah sekarang ini.

Kerah putih bukan saja pemuda kita saja sekarang

Sewaktu singgah ke kota pelajar itu, banyak sekali bujang dan gadis yang tak ku kenal.

Ada yang dari Tumasik, ada juga yang dari Malaya. Semua Berbeda.

Tampaknya, negeri ini telah tersingkap batasnya.

Melebur bersama-sama menjadi satu, dengan alasan, ekonomi, latar belakang, ciri khas, dalam payung bernama masyarakat ekonomi asia, yang pertama kali kudengar 3 tahun lalu.

Apa kabar Abi? Masihkah paginya ditemani sebungkus filter disertai seruput teh madu-nya?

Apa kabar Cici? Pastilah ia sudah menjadi gadis, mekar dan merekah, bukan Cici yang selalu merengek diantar ke komedi putar lagi.

Engkau sendiri gimana, Umi? Aku benar-benar rindu tumis kangkung-mu Umi, masihkah engkaui memasakkan itu?

Sahabat-sahabatku, tetangga-tetangga, serta kenalan lainnya juga usahlah dipertanyakan tanya itu.

Aku? Aku masih sama Um, belum berganti status, walaupun mengeriput dan melamban.

Semua memang berawal dari sana um, dari sekitar 20 tahunan lalu.

Aku yang sewaktu itu pemimpin redaksi, dikira tidak bisa beraksi.

Namun aku sadar, mulai hadirnya friksi-friksi menuntut reformasi, membuat aku ingin berbagi.

Berbagi kata, yang menyadarkan, dari kelakuan para persetan.

Kukumpulkan sedikit kawanku (bukan yang lain tidak peduli, berbahaya menjadi alasan bagi yang terkuat tuk diajak), dan kutuliskan semua, dan kuungkap semua.

Menuliskan pesan-pesan lirih, nan pedih, dibawah rindangnya pohon kayu putih.

Peluh menetes kerana tenaga dan tegang, namun tangan ini tetap menulis.

Menulis kebenaran yang sebenar-benarnya, walaupun mendapat ancaman seonar-onarnya.

Setelah selesai, kami cetak , menghabiskan tinta cetak sampai tetes terakhir, kalau habis kami gunakan tetes darah kami.

Lembar kertas sampai lembar terakhir, dan kalaupun habis kami sayat kulit kami.

Semua orang harus tahu, semua orang harus mengerti

Sebarkan sampai pelosok terpencil, jangan sampai tertinggal

Karena kalau tak berhasil, pasti kan ada yang meninggal.

Setelah semua kami berhasil sebarkan, situasi pun kian menggemparkan.

Isu berterbangan kan kami, kami dicari oleh.. mawar?

Setahun sebelumnya kami pasti kan tertawa mendengar kata tersebut

Mawar, hanyalah sebuah bunga, tidak bisa bergerak, sunguh indah dinikmati

Namun kami lupa.. Kita semua lupa

Mawar itu berduri, dan mawar yang mengejar kami ini dapat menjalar kemana saja, mengejar tanpa suara layaknya bunga, namun segera menghabisi mangsanya.

Kudengar teman seperjuangan hilang dibawanya.

Baik hilang kesehatannya, akalnya, hartanya, kehormatannya, bahkan nyawanya.

Seperti yang sahabatku, wiji, katakan, mawar-mawar ini seperti pencuri

Yang dapat kita lakukan hanyalah berlari. Berlari, berlari, berlari, berlari.

Berlari, tanpa menhitung hari.

Berlari, hanya membawa kenari.

Berlari, bukan menari.

Berlari.

Kami heran dengan wiji, dia bilang mawar ini seperti pencuri, tapi mengapa kami yang dikejar?

Kami hanya menyatakan kebenaran, bukankah kalian mawar yang merupakan kacung kenistaan.

Kacung busuk yang meringkuk dibawah sang terkutuk.

Sang terkutuk yang setelah 32 tahun mebuat negeri ini menjadi terkutuk.

Impian muluk-muluk, yang justru membuat kita terpuruk.

Disembunyikan di rumah penduduk, sebenarnya aku sangat takut

Bukan takut dibunuh saja um, tapi aku juga takut akan nasib keluargaku, nasib sahabat-sahabatku, nasib bangsaku, nasib negaraku..

Dilema moral melandaku, rasanya semua yang kulakukan akan salah.

Ku juga tidak bisa teriak, karena hanya senyap yang bisa melindungiku.

Hanya senyap, senyaplah yang mampu melindungiku, senyap.

Selama 3 bulan aku melangkah, berpindah, menghindari mawar marah, dengan senyap.

Akhirnya kudengar, teriakan terkenal ,teriakan Reofrmasi!

Semua senang, semua lepas, perjuangan pun menjadi pantas.

Aku pun ingin segera kembali, bertemu keluarga dengan puas.

Namun aku tersadar, aku masihlah kan menjadi tahanan lapas.

Mawar ini benar-benar tidak puas, seakan bagi mereka semua tidak pas.

Bukannya aku tidak memerhatikan perasaan umi, gelisah abi, dan tangisan Cici, tapi situasi selama belasan tahun ini masihlah sungguh beringas.

Lebih baik aku menghilang daripada kalian justru benar-benar menghilang.

Mungkin orang menganggap aku mati, seperti layaknya wiji.

Dilupakan dan hanya tinggal kenangan.

Mungkin ingatan akan ku, hanya foto di ruangan

Walaupun bodohnya aku juga melupakan bahwa kalian memiliki harapan-harapan.

Harapan-harapan, yang tidak terpudarkan.

Justru semakin dapat kurasakan, seiring dengan perubahan.

Kuputuskan, suatu saat aku akan kembali,

Di tahun ini, pasti.

Maafkan aku yang selama ini belum.

Siapkanlah sambutan untukku bukan dengan peluk cium

Tapi cukup dengan senyummu, Um.

Anakkmu

Yos.

 

Penulis: Herjuno Bagus

LEAVE A REPLY