Mencari Tuhan

0
501

Pencarian Tuhan mungkin merupakan salah satu pencarian terpanjang umat manusia. Pencarian manusia akan sosok Tuhan merupakan sebuah proses, yang bahkan hampir sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Wilhelm Schimdt dalam The Origin of The Idea of God yang diterbitkan pada 1912 mengutarakan bahwa pada awalnya manusia primitif di Afrika menciptakan satu Tuhan yang merupakan penguasa bagi langit dan bumi serta penyebab utama dan pertama dari segala sesuatu. Pemikiran kuno mengenai Tuhan tersebut lahir jauh sebelum pemikiran akan dewa-dewa muncul pada pikiran manusia, sebelum filsafat dan ilmu pengetahuan muncul dan digunakan untuk membuktikan ataupun menyangkal eksistensi Tuhan. Sejak saat itu pula, pencarian manusia akan Tuhan terus berlanjutdan berkembang.

Pada proses pencarian akan Tuhan tersebut, muncullah sebuah pertanyaan kritis:manusia yang meciptakan Tuhan, atukah Tuhan yang menciptakan manusia? Kesadaran atas kelemahan diri, rasa takut, dan rasa ingin tahu akan awal dan akhir hidupnya mendorong manusia untuk menciptakan suatu konstruksi entitas yang absolut dan sempurna. Dari konstruksi tersebut terciptalah Tuhan sebagai sosok yang mewakili sifat-sifat yang diharapkan manusia, meskipun eksistensi sosok tersebut acap dipertanyakan. Pada titik ini, ada tendensi bahwa Tuhan merupakan bentuk pemuasan kebutuhan manusia akan hal-hal tertentu. Sederhananya, manusialah yang menciptakan Tuhan. Di sisi lain, Tuhan dengan segala kesempurnaan dan sifatnya yang supra-rasional dianggap sebagai kreator dari segala hal, termasuk manusia. Pernyataan tersebut menjustifikasi keyakinan bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia. Pernyataan ini lebih jauh lagi mendapatkan dukungan dari beragam agama di dunia, yang menyampaikan konsep dogmatis bahwa Tuhanlah pencipta alam beserta isinya, termasuk manusia.

Terlepas dari berbagai perdebatan, pencarian manusia terhadap Tuhan terus berkembang. Pada prosesnya, lahir agama-agama yang merupakan produk dari refleksi manusia akan Tuhan sekaligus alat bagi manusia untuk lebih mengenal Tuhan. Agama dianggap sebagai wadah yang tepat untuk memaknai dan memahami Tuhan yang dianggap memiliki sifat yang sempurna, supra-rasional, dan sifat-sifat lain yang dianggap tidak akan mampu dijangkau oleh manusia. Agama dipercaya mampu mendekatkan manusia yang merasa lemah dengan Tuhan yang memiliki segalanya. Sifat agama yang dogmatis mampu menarik manusia untuk mempelajarinya karena kepastian yang diberikan oleh dogma agama. Ditengah ketidakpastian alam semesta beserta isinya, bahkan ketidakpastian tentang Tuhan itu sendiri, agama memberikan sebuah awal, jalan, dan tujuan yang pasti dan absolut. Meskipun tidak sepenuhnya rasional, dogma agama menjadi pilihan yang menarik bagi manusia sebagai makhluk yang rasional. Agama menjadi alternatif paling rasional bagi manusia karena mampu mempertemukan kebutuhan (wants) akan awal, proses, dan tujuan kehidupan yang pasti dari manusia, dengan sumber daya (resources)berupa Tuhan sebagai awal dan akhir kehidupan serta ritus-ritus tertentu sebagai proses dalam pencarian sosok Tuhan.

Nyaris hampir di setiap agama di dunia, cara terbaik untuk mencari dan menemukan Tuhan adalah bersatu dengan-Nya. Persatuan itu didapatkan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang secara sederhana dan luasdapat dimaknai lewat ibadah. Dalam beribadah, mayoritas agama menuntut adanya keikhlasan dari si pelakon dalam beribadah dan menghindari sikap pragmatis. Kenyataannya, manusia adalah makhluk ekonomi (homo economicus) yang selalu memperhitungkan cost and benefit dari setiap aktivitasnya. Berangkat dari asumsi ibadah adalah cost dan persatuan dengan Tuhan adalah benefit, maka manusia akan cenderung untuk meminimalkan ibadah (cost) demi mendapat persatuan dengan Tuhan (benefit) pada tingkat tertentu atau beribadah (cost) pada tingkat tertentu demi memaksimalkan peluangnya bersatu dengan Tuhan (benefit). Kontradiksi antara sifat manusia dan tuntutan agama tadi menyebabkan pencarian manusia akan Tuhan menjadi terhambat, karena adanya dorongan alamiah dari manusia untuk bersifat ekonomis. Sederhananya, manusia harus melawan dirinya sendiri saat mencari dan memaknai Tuhan.

Selain agama, filsafat menjadi alternatif manusia dalam mencari Tuhan. Filsafat modern pertama tentang Tuhan tercatat pada tahun 400 Masehi oleh Agustinus. Dalam pencarian tentang Tuhan, Agustinus bertolak dari ide bahwa akar dari kebaikan dan keburukan yang terjadi di dunia bukanlah Tuhan, melainkan manusiasebagai makhluk rasional dengan kebebasannya memilih. Jika demikian, dari manakah lahirnya rasionalitas dalam cara berpikir manusia? Agustinus tetap menggarisbawahi bahwa Tuhanlah sumber dari rasionalitas dan kebebasan yang dimiliki manusia. Dengan begitu ia melihat Tuhan bukan sebagai entitas yang memiliki ruang pribadi yang tak terbatas dengan segala kebesarannya, namun sebagai corong anugerah bagi umat manusia. Kebebasan dan rasionalitas yang dianugerahkan Tuhan merupakan pemaknaan parsial akan keseluruhan entitas Tuhan yang diidentikan dengan ketakterhinggaan. Pemaknaan parsial akan Tuhan tersebut akan jauh lebih mudah dimengerti dan diterima, dibanding menjelaskan konsep Tuhan yang sangat luas dan dalam.

Moses Maimonides juga memiliki pandangannya sendiri dalam pemaknaan dan pencarian akan Tuhan. Ia menggunakan pendekatan negative theology dalam memaknai Tuhan yang menganggap bahwa Tuhan merupakan entitas yang tak beratribut. Atribut berarti haruslah esensial dan aksidental. Esensial bermakna yang pasti, sedangkan aksidental bermakna pernah terbentuk pada waktu tertentu. Namun seperti sudah kita ketahui bersama, Tuhan tidak memiliki definisi yang pasti dan tidak terbentuk pada waktu tertentu yang berarti “berada diluar waktu”. Hal tersebut berujung pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak memiliki atribut apapun seperti layakanya semua entitas di alam semesta. Pendekatan Moses ini mirip dengan pendekatan seorang filsuf Helenis-Yahudi yang tinggal di Alexandria semasa kekaisaran Romawi, Philo. Menurut Philo, Tuhan terbagi atas dua bagian yang dapat kita pisahkan, yaitu Tuhan sebagai suatu entitas yang tidak mungkin dipahami manusia dengan level rasionalitas seperti saat ini serta energi-energi yang dipancarkan Tuhan hanyalah sebesar yang kita terima dan mampu kita pahami, meski pemahaman tersebut tidak akan membawa kita pada pemahaman penuh tentang Tuhan.

Sifat Tuhan yang tanpa atribut karena tidak tercipta di waktu tertentu, yang berarti diluar waktu, juga merupakan unsur pemikiran Boethius, yang merupakan seorang filsuf dari Roma. Boethius mempertanyakan mengapa Tuhan bisa memiliki visi yang Mahaluas terhadap waktu, sedangkan manusia tidak. Ia pun menjawab sendiri pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa masa depan bukan bagian dari pengalaman manusia sehinggamanusia tidak mampu memiliki visi waktu seluas itu. Hal tersebut berbeda dengan Tuhan, yang menurut Boethius memiliki visi waktu yang Mahaluas sehingga mampu melihat tiap masa waktu seperti masa sekarang. Boethius, bersama dengan Thomas Aquinas, akhirnya menyimpulkan bahwa Tuhan berada diluar batasan waktu, transendens, dan diluar pengetahuan ataupun pengalaman manusia atau lazim dikenal dengan istilah eternal present. Sekali lagi, kesimpulan ini menunujukkan bahwa manusia dan Tuhan berada pada dimensi yang berbeda. Manusia berada dan bergerak di dalam waktu, sedangkan Tuhan berada di luar waktu. Perbedaan dimensi ini menjadi jurang Mahabesar yang memisahkan manusia dengan Tuhan, yang menjadikan segala upaya untuk memahami dirinya secara penuh akan menjadi usaha yang sia-sia.

Pernyataan yang lebih mendobrak menyangkut eksistensi Tuhan dikeluarkan oleh St. Anselm. Ia melihat bahwa usaha mencari dan memaknai Tuhan selama ini hanya pada taraf pengujian akan sifat-sifat-Nya dan belum ada usaha pencarian yang lebih dalam akan entitas Tuhan itu sendiri. Pernyataan ini mirip dengan pernyataan Philo seperti di bagian sebelumnya dari tulisan ini, yang membagi Tuhan dalam dua level pemahaman, yaitu Tuhan itu sendiri yang diluar level pemahaman manusia serta energi-energi yang dipancarkannya. Lebih lanjut, St. Anselm berusaha mencari Tuhan dengan mengeluarkan argumen ontologis antara dia dan tokoh fiksi yang ia imajinasikan. Inti dari usaha pencarian dari St. Anselm adalah Tuhan merupakan “sesuatu yang tidak akan ada lagi hal lain yang mungkin terpikirkan oleh-Nya”.Tetapi, Tuhan hanya ada dalam pemikiran manusia. Sedangkan menurut St. Anselm, sesuatu yang nyata jelas melebihi sesuatu yang abstrak. Hal ini membawa implikasi bahwa jika Tuhan nyata, akan muncul “sesuatu yang tidak akan lagi hal lain yang mungkin terpikirkan melebihi-Nya,” dan cara pamungkas untuk menyangkal argumen tadi adalah mengakui eksistensi Tuhan.

Setelah mendekati Tuhan melalui sifat dan eksistensinya, Nikolaus von Kues berusaha mencari Tuhan dengan mempertanyakan definisi Tuhan, Apa atau Siapa? Pada akhirnya Nikolaus von Kues mendefinisikan bahwa apapun yang kita tahu pasti bukan Tuhan. Lebih lanjut, dapat dijelaskan bahwa Tuhan bukan sesuatu yang lain, karena hal “lain” pasti merupakan hal yang kita ketahui dan semua yang bisa kita ketahui bukanlah Tuhan. Dari perspektif definisi Tuhan ini, masih ada sebuah pertanyaan menggantung tentang penjelasan entitas Tuhan itu sendiri. Pencarian panjang akan Tuhan dari berbagai sudut pandang belum mampu menjelaskan Tuhan secara penuh dan baru sampai pada taraf memahami sifat-sifat-Nya.

***************

Akhirnya, pada era post-modern ini belum ada pembuktian dengan scientific approach yang mampu membuktikan bahwa Tuhan itu ada ataupun Tuhan itu tidak ada. Hal tersebut berarti pencarian ribuan tahun manusia akan Tuhan akan terus berlanjut. Pengalaman kehidupan dan keagamaan yang berbeda akan membimbing tiap manusia pada jalan pencarian masing-masing, yang unik satu sama lain. Dan seperti perkataan filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, yang kurang lebih berbunyi, “Tuhan telah mati dibunuh oleh Pencerahan, akan tetapi manusia akan terus tetap rindu untuk percaya.”

Pernyataan tersebut mengahadapkan manusia pada dua pilihan. Bagi yang tidak mempercayai dan mencari siapa sesungguhnya Tuhan, mereka harus siap mengerahkan niat untuk maju di depan jurang ateisme. Sedangkan mereka yang percaya akan eksistensi Tuhan, perjalanan hidup yang penuh penguatan sekaligus keraguan akan terus berlanjut, dalam proses mencari Tuhan.

Tulisan ini merupakan hasil Diskusi Kritis Romantis dari Divisi Kajian BO Economica FE UI

 

 

LEAVE A REPLY