Memperkaya Wawasan dan Menimba Pengalaman dari Ketua Dewan Petimbangan Presiden Profesor Emil Salim

0
159

Profesor Emil Salim, salah satu putra terbaik Indonesia, telah dikenal mempunyai segudang pengalaman dan kepakaran nasional dan internasional yang tidak perlu diragukan. Di level nasional, Ia termasuk salah satu arsitek ekonomi Orde Baru yang dijuluki Mafia Berkeley yang dikenal lurus dan bersih.  Di level internasional, Ia mengambil peranan penting dalam memajukan strategi perkembangan lingkungan hidup. Berbagai posisi penting seperti Wakil Ketua Pertimbangan PBB bidang Pembangunan Berkelanjutan (1992), Ketua Komisi Dunia bidang Kehutanan dan Pembangunan Berkelanjutan (1994), hingga Ketua Konferensi Menteri Lingkungan Hidup ASEAN (2002).

Di Usianya 84 tahun tidak menghalangi Emil untuk terus berkarya. Pemikiran ekonomi dan lingkungan masih sering dikutip oleh media hingga saat ini. Kecerdasan dan daya analisa dalam mengambil keputusan baik lisan maupun tulisan yang dimiliki Emil Salim menempatkannya menjadi pribadi yang disegani banyak orang dan masih dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.

Di sela-sela kesibukan Emil Salim, pada hari Senin, (07/07/2014) Tim Economica berbincang dan mewawancarainya di Kantor Dewan Pertimbangan Presiden, di Jalan Veteran III, Jakarta Pusat. Berikut kutipannya:

Apa yang membuat andat tertarik mengambil studi di bidang ekonomi ?

Dulu waktu zaman pendudukan Belanda, SMA saya di bogor dan disuruh oleh pasukan belanda untuk mengatur logisitik. Dari pengalaman sana,masalah supply dan demand logistik dan distribusi pangan membangkitkan perhatian saya pada ekonomi. Selain itu buku Muhammad Hatta mendorong saya untuk mengambil kuliah di Fakultas Hukum Imu Pengetahuan Politik. FEUI masih belum ada di masa itu.  Saya ingat dulu, ujian kita masih dalam bahasa belanda, walau dosen dan buku sudah dalam bahasa inggris. Ya, bayangkan repotkan itu sebagai mahasiswa.

Anda pernah menjabat sebagai Tim Penasihat Ekonomi Presiden (1966), kemudian menteri di masa order baru, hingga akhirnya menjadi Ketua/Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup (2010-sekarang). Mengapa Anda meniti karir menjadi ahli penasihat presiden dari Presiden Soeharto sampai Presiden SBY? Apa yang membuat Anda tertarik?

Saya melihat kita belajar teori pembangunan, kita tulis artikel dan ngajar. Tapi kok, saya tidak lihat ada perubahan di kalangan masyarakat. Ilmu penting tapi tidak masuk di kebijakan pemerintahan. Karena itu kalau mau ada perubahan, ya masuk ke dalam pemeritahan untuk implementasi. Ini akan sangat berpengaruh dan lebih efektif jika kau duduk di pemerintahan.

Apa yang membuat anda menaruh perhatian di bidang lingkungan hidup?

Waktu tahun 1972, terjadi lingkungan di Stockholm yang merupakan konferensi lingkungan hidup pertama. Saya waktu itu sebagai menteri bappenas dan bertugas memimpin delegasi Indonesia. saya tahu bagaimana sulitnya pendanana untuk indonesia dan saya menduga isu lingkungan ini adalah akal-akalan dari negara barat untuk pengalihan dana bukan untuk negara berkembang tetapi untuk lingkungan. Saya masih skeptis bahwa lingkungan sebagai kompetitior. Sikap saya mewakili Indonesia di konferensi itu menolak bersama perwakilan Brasil. Hingga pada akhirnya saya disadarkan oleh Indira Gandhi, Perdana Menteri India saat itu bahwa lingkungan dan ekonomi saling mendukung. Kemiskinan bisa terjadi dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak sehat. Orang miskin bisa kena, bukan orang kaya kena (dampaknya)

Apa saja pengalaman yang paling berkesan menjadi penasihat presiden dan berada di lingkungan pemerintahan selama lebih dari 30 tahun?

Saat menjabat menteri lingkungan hidup, pernah ada kejadian 230 Gajah dari Way Kambas melarikan diri ke Pantai dan mencoba merusak jalur perumahan transmigrasi. Pihak angkatan darat pasukan siliwangi yang diwakili Tri Sutrisno berniat untuk menembaki gajah itu. Kebetulan ada orang sana yang menelpon saya di kantor, saya lobi presiden untuk membatalkan serangan itu dan memerintahkan pasukan siliwangi untuk memandu Gajah itu ke kembali ke tempat asalnya. Banyak pasukan siliwangi bilang ke saya, hubungan gajah dan manusia bisa dijalin dengan sangat emosional, tanpa lewat kekerasan

Anda terkenal sebagai guru besar FE UI yang produktif, memiliki kecerdasan daya analisa dan pandai mengambil keputusan. Bagaimana Anda mengembangkan bakat menulis, kepemimpinan dan berargumentasi?

Masuk  pemerintahan itu bisa memperkaya kuliah. Sedangkan kuliah memberikan masukan pada pemerintah agar lebih logis dan rasional, bukan emosional. Kedua pekerjaan itu mesti kita catat. Hasil kuliah bisa dipakai masukan untuk kebijakan, yang saling berkaitan.

Apakah anda mempunyai Tokoh Ekonom idola ?  dan bagaimana pendapat anda tentang kapasitas ekonom muda Indonesia seperti Sri Mulyani, Chatib Basri,Mirza Adityaswara, dll dan mampukan mereka membangun ekonomi Indonesia ?

Tokoh idola saya ialah Widjojo Nitisastro. Saya masih ingat dulu kami bekerja bagaikan satu tim sepakbola yang kompak bersama Widjojo, Ali Wardhana, dan Subroto.
Kami ini generasi senior yang telah digantikan oleh layer berikutnya seperti Sri Mulyani dan Iwan Jaya Aziz. Layer beriktnya diisi oleh generasi muda FE UI seperti Chatib Basri dan lain-lain. Setiap perkembangan, mempunyai tantangan ekonominya sendiri.

Apa rencana Anda kedepan?

Setelah tidak lagi menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, saya berencana untuk menulis buku yang berisikan pengalaman-pengalaman saya. Ada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial menuju pembangunan berkelanjutan. Saya masih belum tahu judulnya tapi akan memuat itu semua

Apa pesan Anda untuk mahasiswa Indonesia?

Sebagai mahasiswa harus banyak nulis. Saya dulu ketika belajar ekonomi, banyak sekali paper yang saya bikin. Sebagai dosen, mahasiswa kurang menulis, apalagi academic writing in English. Semua masalah harus dijawab deskriptif dengan metode menggambarkan, tidak cuma analisa atau tidak ada problem solving. Kita mulai analisa, lalu straight to the problem dan harus memecahkan soal masalah. Mahasiswa harus terus dilatih independent thinkingnya.

Indonesia itu terlalu santai, bahkan dalam urusan bekerja. ASEAN Economy Community itu perlu untuk memberikan kejutan.

Apa yang pandangan anda untuk perekonomian Indonesia  dan lingkungan Hidup kedepan ?

Kita harus pakai nilai tambah dan menekankan proses di daerah hilir. Tapi nyatanya tidak pernah ada prosesing. Akibatnya saya kecewa di lingkungan tidak ada value added. Untuk ekonomi, saya concern pada ketimpangan. 80% PDB dihasilkan masih dari pulau jawa dan Sumatra. Makanya saya tidak setuju dengan adanya jembatan selat sunda yang akan nanti memperparah ketimpangan.

Penulis : Luqman Hakim

LEAVE A REPLY