Lewat Komunitas Kawin Campur, Nuning Hellet ingin menjembatani dua budaya yang berbeda

0
118

Jakarta, BOECONOMICA.com- Tidak sedikit dari warga negara Indonesia (WNI) yang menikah dengan warga negara asing (WNA), dan tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri mengikuti pasangan hidup mereka. Dari fenomena tersebut terbentuklah Komunitas Kawin Campur, yaitu sebuah komunitas bagi para WNI yang telah menikah dengan WNA dan menetap di luar negeri. Komunitas satu ini menjadi media berkumpul, bertukar pikiran, informasi, dan pengalaman bagi para anggotanya, atau sekedar sarana berbincang antara mereka yang hidup di negeri orang.

“Selain menjadi tempat curhat, komunitas ini juga giat giat memperjuangkan isu-isu yang berkaitan dengan para anggotanya, seperti regulasi mengenai migrasi, administrasi perkawinan bagi orang asing, hingga tentang kewarganegaraan ganda diaspora penduduk Indonesia,” ungkat Nuning Hellet, salah satu pendiri Komunitas Kawin Campur yang ditemui pertengahan bulan Oktober 2013 di Jakarta.

Nuning menambahkan saat ini jumlah anggota Komunitas Kawin Campur telah mencapai lebih dari 5000 orang. Sebagian besar merupakan pasangan campur –WNI dengan WNA– yang berdomisili di luar negeri, bahkan tinggal di Indonesia.

Tantangan terbesar bagi wanita indonesia yang memutuskan hidup di luar negeri bersama suaminya biasanya adalah culture shock. “Banyak yang mengira bakal hidup nyaman di kota besar, tapi nyatanya tidak semudah dibayangkan”, ujar Nuning yang saat ini sedang menjalani  S3 New York State University dalam bidang gender studies.

Komunitas Kawin Campur berperan juga melakukan pre-departure dan post-migration orientation, yaitu semacam program orientasi bagi mereka yang sedang akan tinggal di luar negeri. Sebelum berangkat anggota yang memerlukan akan diberikan berbagai macam informasi mengenai daerah yang dituju, bahasa, budaya, dan sebagainya. “Komunitas ini intinya sebagai social support untuk mengatasi culture shock itu”, ungkap Nuning.

LEAVE A REPLY