Krisis Lagu sang Bocah

0
172

 “SAKITNYA TUH DISINI DI DALAM HATIKUUU, SAKITNYA TUH DISINI MELIHAT KAU SELINGKUUUH..”

Elya menatap jam pada layar ponselnya, 19:46. Udah malem masih berisik aja sih bocah-bocah ini.

Bocah yang dimaksud Elya adalah anak-anak kecil yang tinggal tepat di belakang kosannya. Sebagai penghuni kamar yang berada di sudut paling ujung dan berbatasan langsung dengan lingkungan pemukiman penduduk, tak ayal suara-suara dari lingkungan tempat tinggal penduduk tersebut dengan mudahnya terdengar hingga kamarnya, mulai dari deru kendaraan bermotor hingga suara orang-orang sedang berbicara, termasuk ‘senandung’ anak-anak kecil yang jauh dari kategori merdu seperti yang baru saja ia dengar saat ini.

Elya pun memilih menghentikan pergumulan dengan paper-nya pasca terusik oleh dendangan si bocah sebelah kosan. Konsentrasinya pecah. Ia memutuskan untuk membawa laptopnya dan ‘mengungsi’ ke kamar sobatnya, Aci.

“Ci, boleh nebeng ngerjain paper ya. Bocah-bocah sebelah kosan berisik banget, Ci. Nyanyi-nyanyi sambil teriak-teriak gitu.”

“Iya masuk aja, eh keganggu nggak kalo sambil nyalain TV?”

“Nggak papa, asal volumenya nggak kenceng-kenceng, hehehe.”

Bakal nggak fokus juga sih ada TV nyala. Tapi nggak enak, udah nebeng banyak mau pula. Mending deh daripada keganggu nyanyiannya bocah yang jerit-jerit ngerusak kuping itu.

Benar juga. Belum lima menit sejak ia membuka laptopnya, pandangan Elya teralihkan menuju layar televisi. Tampak acara talkshow sedang ditayangkan dengan beberapa bintang tamunya, salah satunya sekelompok band anak-anak. Setelah segmen bincang-bincang usai, giliran sekelompok band anak-anak itu tampil membawakan lagu andalannya.

“Gila ya, Ci. Masih kecil-kecil gitu lagunya udah cinta-cintaan. Jaman kita mah umur segitu masih suka ngobok-ngobok ikan sampe mabok.”

***

Setelah berkutat dengan paper—televisi—ngobrol, Elya pun kembali ke kamarnya. Suara bising si bocah tidak terdengar lagi. Ya, malam memang sudah larut, bahkan nyaris berganti hari. Tapi Elya masih tak beranjak dari kursi belajarnya, bergeming, tampak memikirkan sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian ia kembali membuka laptopnya dan menggerakkan jarinya memainkan keypad dan mouse, menonton video musik bertajuk Libur Telah Tiba, Anak Gembala, Diobok-Obok, Bolo-Bolo, dan sederet video musik sejenis dengan penyanyi cilik yang tenar kala itu.

Di saat matanya tertuju pada layar menikmati nostalgia masa kanak-kanaknya, Elya sekaligus merenung. Kasihan ya, anak jaman sekarang. Ngga punya hiburan masa kecil. Mereka udah keburu dicekokin lagu-lagu atau hiburan dewasa sama media. Ruang hiburan mereka tergerus. Lagu anak-anak aja krisis, jaman sekarang jarang banget ada penyanyi cilik nyanyi lagu anak-anak. Kalau pun ada masih kalah pamor sama yang nyanyi cinta-cintaan.

            Pukul 01:12. Menuruti rasa kantuk yang menyerangnya dan ingat bahwa hari itu ia harus menghadiri kelas pagi, Elya pun memutuskan untuk tidur, sembari masih terngiang lirik lagu favoritnya semasa kecil. Aku adalah anak gembala selalu riang serta gembira…

Penulis: Salma Amelia Dina.

LEAVE A REPLY