Jahja Setiaatmadja: Tugas saya ini sebagai seorang conductor dalam suatu orkestra

0
245

Menjadi orang sukses tentunya membutuhkan perjuangan dan usaha yang keras. Untuk mencapai tangga kesuksesan, akan dilalui jalan yang penuh liku. Hanya orang-orang yang tahu dan mampu memaksimalkan proses belajarlah yang dekat dengan kesuksesan sehingga hasilnya sesuai dengan apa yang mereka perjuanganya. Siapa yang mengira sosok Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berasal dari keluarga biasa, ayahnya bekerja 35 tahun sebagai karyawan biasa di Bank Indonesia. Namun atas kerja keras dan kegigihannyanya, sang anak, Jahja Setiaatmadja, telah menjadi orang nomor satu di perusahaan perbankan swasta terbesar di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, Jahja Setiaatmadja menuturkan kisah perjuangannya dan suksesnya hingga mencapai posisinya sekarang kepada Tim Economica.

Apakah semenjak SMA sudah tertarik untuk masuk FE UI?

Sebenarnya bidang ekonomi bukan bidang yang saya idam-idamkan ketika SMA, karena saya sendiri adalah lulusan IPA. Jadi minat saya pun semula ingin menjadi dokter gigi. Tapi Papa bilang bahwa kuliah kedokteran gigi begitu mahal, dan ketika lulus akan mengeluarkan banyak biaya untuk membeli peralatannya, sementara saya ini kan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Akhirnya saya mencoba untuk masuk Fakultas Ekonomi, dan ternyata diterima. Cukup kaget mengingat ketika itu kita tes di Senayan dan ramai banget, jadi hanya satu banding sekian banyak yang dapat diterima masuk.

Apakah dulu Anda malu dengan latar belakang ekonomi keluarga yang agak kekurangan?

Justru itu mendorong saya mencari kompensasi lain dalam bentuk prestasi. Mungkin dari segi kemewahan saya kalah bersaing, karena banyak dari mereka yang menggunakan motor ataupun mobil untuk pergi ke kampus, sementara saya hanya naik kendaraan umum, seperti bemo, oplet, kadang juga bis. Tapi saya berusaha menunjukkan prestasi, berusaha bertekun, di situlah sisi yang ingin saya tonjolkan. Jadi ya itu malah menjadi motivasi tersendiri, memacu saya buat belajar lebih giat.

Bagaimana kehidupan perkuliahan Anda di FE UI?

Di FE UI saya merasakan sekali adanya kebersamaan dan kekompakan. Meskipun ketika SMA saya sudah mendapatkan itu, tapi rasanya hanya dengan teman-teman satu kelas saja. Nah kalau di FE UI ini begitu terasa, apalagi waktu masa orientasi yang menggodok terbangunnya nilai-nilai itu. Seingat saya angkatan saya waktu itu ada 236 orang, dan meskipun terbagi ke dalam kelas-kelas sesuai alfabet nama, tapi kebersamaan itu terus terjalin.

Pada saat itu saya termasuk tipe mahasiswa yang tidak hanya belajar melulu. Saya mencoba untuk aktif dalam berbagai kegiatan, khususnya kegiatan kerohanian. Meskipun ketika SMA saya juga sudah aktif sebagai OSIS, tetapi ini merupakan sebuah pengalaman baru. Saya juga sering membentuk grup-grup studi dimana kita sama-sama belajar ketika jam kuliah kosong. Dari situ akhirnya timbul pergaulan yang lebih luas saya kira.

Apa manfaat dari ikut berbagai kegiatan non akademis selama perkuliahan menurut Anda?

Saya kira dengan kita aktif dalam kegiatan-kegiatan itu, kita sebenarnya belajar untuk mengkoordinir orang tanpa sebuah “power”. Dalam arti, itu kan mereka menuruti kita tanpa honor, tanpa sebuah ketakutan untuk turun pangkat atau dipecat. Beda hal ketika kita sudah berbisnis, anak buah bisa saja takut dengan kita karena pikiran-pikiran takut dipecat, masalah gaji, dan sebagainya. Jadi ini benar-benar bagaimana kita bisa mempunyai kemampuan persuasif ke teman, agar mereka mau bekerja sama tanpa pamrih. Yang jelas ya perlu pendekatan personal yang baik. Maka kalau tanpa ”power”kita sudah bisa mampu memimpin, apalagi nantinya di dunia kerja ketika kita memilikinya, pastinya lebih mudah.

Bagaimana perjalanan karier Anda?

Kalau bicara pekerjaan, dulu awalnya saya kuliah sambil mencari penghasilan tambahan. Jadi saya menyewakan video-video. Jadi dulu menonton video itu belum memakai DVD seperti sekarang, masih pakai betamax. Maka saya sewakan dengan paket 16 video untuk periode seminggu. Saya kerjanya mengambil video tersebut dari rental, lalu saya tawarkan lah kepada orang-orang pada sore sampai malam hari. Itu nawarinnya dengan keliling naik motor, kebetulan semester 5 saya sudah ada motor.

Tahun 1979, sambil mengerjakan skripsi, saya mulai bekerja masuk perusahaan PWC. Sesudah setahun bekerja disana, akhirnya ada direktur keuangan dari kalbe grup menawarkan pekerjaan disana sebagai asisten manajer. Perkenalan saya dengannya pun dikarenakan saya menjajakan rental video tersebut. Belakangan setelah 8 tahun bekerja di kalbe farma, saya pun menjabat sebagai direktur keuangan. Tidak lama setelah itu, ada seorang Head Hunter dari Singapura menghubungi saya. Awalnya saya kira dia mau menawarkan karyawan kepada kalbe, tapi rupanya saya sendiri yang ditarget, ditawarkan posisi sebagai Direktur Keuangan juga di IndoMobil namun dengan gaji dua kali lipat. Saya pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke Indomobil, dan bisa dikatakan itu adalah batu loncatan saya.

Kemudian tahun 1990, saat ditawari oleh bank BCA sebagai General Manager, saya mengambilnya. Alasannya sederhana, tahun 1988 itu kan PACTO, jadi perbankan sedang tumbuh-tumbuhnya, dan BCA sebagai salah satu bank besar membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengembangkannya. Maka ketika mendapatkan penawaran, saya rasa ini adalah kesempatan besar untuk mengembangkan karier, karena toh posisi saya di IndoMobil sudah direktur keuangan, kalau sudah direktur mau jadi apalagi.

Anda mendapatkan berbagai penghargaan sebagai CEO terbaik, bagaimana Anda menanggapinya?

Pertama harus kita akui bahwa lembaga yang saya pimpin adalah lembaga yang sudah sangat solid dan baik, itu jelas sangat membantu. Ibarat kalau ada orang menunggangi macan, yang lain melihat macannya saja sudah kagum. Tapi syukurlah kalau memang ada pengakuan dari masyarakat, itu kan ada yang sifatnya polling, ada yang betul-betul dari angka performa perusahaan yang kita pimpin. Saya sih bersyukur bahwa apa yang saya lakukan artinya berkenan dan memang memenuhi syarat untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik.

Bagaimana cara Anda memimpin selama ini?

Saya relatif berusaha untuk menjunjung tinggi teamwork, dan tidak pernah berbicara keras kepada orang. Kalau ada masalah ya kita diskusikan, kalau masalahnya serius maka kita ajak bertemu empat mata. Kita bicarakan dan beri masukan agar orang itu menyadari kekurangan atau kesalahannya. Kita juga kadang-kadang sebagai pimpinan harus mau belajar dari bawahan kita, karena enggak ada manusia yang superior, yang tahu semuanya. Jadi kita harus banyak belajar dari orang-orang lapangan yang memang menekuni langsung. Perbankan itu kan disiplin ilmu produknya bermacam-macam sekali, saya tidak mungkin bisa menguasai A sampai Z seluruhnya.

Kemudian dalam pengambilan keputusan, saya selalu memposisikannya sebagai keputusan bersama dimana saya yang bertanggung jawab. Jadi tidak ada tuh yang kalau benar itu keputusan saya, kalau salah itu kesalahan bawahan.Kalau seperti itu, nantinya bawahan akan cenderung takut untuk memberikan suatu usulan ataupun pemikiran baru. Kalau salah nanti disalahkan, kalau benar diambil si bos. Itu pemikiran yang nanti bisa timbul dalam diri mereka.

Dalam berbagai kesempatan, saya sampaikan bahwa tugas saya ini sebagai seorang conductor dalam suatu orkestra. Tugas conductor itu mencari audience yang akan menonton, serta mencari lagu-lagu yang cocok dengan mereka. Jangan sampai audience lanjut usia disajikan lagu-lagu anak muda ataupun audience muda diberikan musik klasik, ya bisa ditimpuk botol kalau seperti itu. Maka kita harus tau audience kita siapa dan lagu apa yang sesuai. Nah, tinggal orkestra itu kita pimpin dengan mendengarkan apakah masing-masing nada dari alat musik sudah betul atau belum, itu yang harus kita tahu. Tetapi belum tentu kita bisa kalau disuruh main. Orkestra itu kan terbentuk dari berbagai macam instrumen, saya rasa conductor juga kalau disuruh main semua alat musiknya belum tentu bisa. Namun yang terpenting, dia tahu bagaimana masing-masing alat musik harus berbunyi dengan baik. Kemudian juga seorang conductor harus bisa memimpin cepat lambatnya tempo, mana saat-saat harus cepat dan kapan harus melambat. Itulah yang dibaca oleh anak buah kita, bagaimana kita mengerahkan untuk workout pada saat tertentu, dan kapan perlu untuk calm down, misalkan saat makroenomi kurang bagus. Maka bila kita jadi seorang pemimpin, haruslah bisa mengarahkan dengan baik.

Dengan kesuksesan yang sudah diraih sekarang, bagaimana Anda menanggapi kehidupan Anda dulu?

Sekarang kalau saya ingat-ingat masa susah dulu, rasanya benar-benar seperti sebuah hikmah. Mungkin ketika itu, terus terang saya merasa minder melihat teman-teman menggunakan motor dan mobil, sementara saya naik kendaraan umum. Tapi justru dari pengalaman seperti itu, seharusnya kita bisa belajar untuk menghargai orang yang hidupnya belum bisa sesukses kita. Jangan kalau sudah sukses lalu menganggap rendah yang lain. Ingat bahwa dulunya kita pernah berada di posisi yang sama, dan mungkin tertatih-tatih. Ibu saya selalu mengajarkan dari kecil untuk peduli dengan orang lain. Meskipun saat itu kami dari keluarga yang kurang mampu, tapi harus peduli juga dengan mereka yang lebih tidak mampu lagi.

Apa pesan Anda untuk mereka yang masih kuliah di FE UI?

Saya kira mahasiswa FE UI perlu untuk jeli melihat kesempatan-kesempatan ke depan dalam membangun karier, karena network FE UI sekarang ini sudah kelihatan dimana-mana – baik di kalangan birokrat ataupun swasta. Nantinya saya harapkan mereka bisa berkarier tidak hanya untuk motivasi nafkah hidup, melainkan benar-benar memberikan kontribusi berarti bagi Indonesia. Manfaatkan masa kuliah sekarang untuk benar-benar menimba ilmu dan mengamalkannya di kemudian hari.

Penulis: Ivan Indrawan

LEAVE A REPLY