Ekonomi Syariah, Alternatif Ilmu Ekonomi Konvensional

0
299

Beberapa waktu lalu Presiden SBY mengatakan ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Mimpi yang masuk akal mengingat Inonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Namun, hal ini mungkin dirasa agak terlambat, ekonomi syariah baru mendapatkan perhatian beberapa tahun belakangan ini.

SekilasMengenaiEkonomiSyariah

Penjelasan tentang ekonomi syariah dapat dimulai dari definisi ekonomi syariah, yakni sebuah paham praktik ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip yang tertuang di Al Quran, termasuk objektif dan operasinya. Hal ini menurut Warde (2000,p.5) adalah sebuah upaya untuk merekonsiliasikan prinsip religious dengan aktivitas ekonomi. Contohnya seperti penolakan kerjasama bisnis dengan pihak yang melakukan bisnis yang diharamkan (berjudi, zinah, non-halal) dan larangan mengenakan bunga (riba) pada transaksi bisnis. Tujuannya adalah untuk mencapai kemenangan (falah) yaitu mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Ekonomi syariah juga disesuaikan dengan prinsip maqashid syariah, yaitu prinsip memelihara dan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Ekonomi syariah mengalami pasang surut layaknya perkembangan budaya dan pemikiran ekonomi lainnya. Ekonomi syariah bangkit kembali dari tidur panjangnya sejak Kerajaan Abbasyiah dihancurkan oleh Kerajaan Mongol pada abad ke-20. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang bermain di ranah self interest setiap pelaku ekonomi untuk memaksimalkan utilitas, ekonomi syariah berlandasakan ajaran Islam diyakini lebih membawa berkah dalam perekonomian dan dipercaya membawa kesejahteraan yang lebih merata.

Uniknya, ekonomi syariah bisa dijalankan oleh siapa saja tanpa memandang agama maupun kepercayaan yang dianut. Jika dirunut perkembangannya sejak awal, produk-produk keuangan syariah pertama kali malah diluncurkan di Inggris, dan sejak itu Inggris berkembang menjadi salah satu pusat keuangan syariah dunia.Dari sini tampak bahwa praktik ekonomi syariah yang sumbernya berasal dari Al Quran dan Hadist dijalankan juga oleh mereka yang non-muslim.

 

Dari sisi akademik, perkembangan ekonomi syariah mulai diakomodasi dengan pendirian jurusan Ekonomi Islam pertama di Indonesia oleh Universitas Airlanggapadatahun 2007.Beberapauniversitas, sepertiUniversitas Indonesia danUniversitasBrawijaya, pun menyusulmendirikan program studiEkonomi Islam. Perkembanganlembaga-lembagakeuangan bank dan non-bank yang berbasis syariah di negeri ini jugamemilkipotensi yang menjanjikan.Data BI menunjukkanasetlembagakeuangansyariahmengalamipeningkatanpesatsetiaptahunnya, mencapai 20%.Hal inijelasmenunjukkanekonomisyariahmemilikipotensidanruangberkembang yang luas di Indonesia.Namun, siapkahekonomisyariahmenggeserpraktikekonomikonvensional di Indonesia?

Praktik Ekonomi Syariah yang “Syariah”

Berbagai praktik nyata ekonomi syariah agaknya berbeda dengan ekonomi konvensional di dunia bisnis, seperti konsep riba, bagi hasil, halal, dan risiko yang tidak pernah ditemukan dalam konsep ekonomi pada umumnya. Beberapa buah pemikiran akhirnya berujung pada suatu kesimpulan bahwa ekonomi syariah membawa sebuah model bisnis baru yang berasaskan Islam, dengan tujuan yang baik, yakni kesejahteraan umat, sehingga profil pengambilan risikonya sesuai dengan prinsip syariah.

Beberapa studi mengenai ekonomi syariah menunjukkan berbagai praktik keuangan syariah lebih merupakan sebuah cara untuk menggunakan produk-produk finansial konvensional yang sesuai dan diperbolehkan oleh prinsip syariah. Contoh konkritnya adalah larangan pengenaan bunga atas pinjaman dana pada debitur. Dalam ekonomi konvensional, pihak kreditur menetapkan bunga atas dana yang dipinjamkan dengan dasar time value of money dan risiko yang ditanggung pada pihak debitur. Namun pada praktik syariah, transaksi tersebut dilakukan dengan cara implisit, yakni kontra ke kuitas dan persetujuan bagi hasil, di mana tetap ada biaya jasa atas kedua prosedur tersebut yang menggantikan fungsi bunga di sistem finansial konvensional. Berbagai produk syariah seperti murabaha, mudarabah, takafatul, dan mudarabah yang terdapat dalam lembaga keuangan syariah juga dapat dengan mudah dibuat melalui financial engineering produk finansial konvensional yang sesuai dengan prinsip Islami.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ekonomi Islam saat ini lebih sebagai alternatif dari ekonomi konvensional. Produk-produk ekonomi konvensional yang telah ada di kemas ulang agar sesuai dengan basis Islam. Untuk sekarang ekonomi syariah terus menjadi “pendamping” bagi sistem ekonomi konvensional sampai pada suatu masa di mana masyarakat dapat memutuskan sistem ekonomi yang ingin dianutnya.

 

Kutipan:

Data BI menunjukkanasetlembagakeuangansyariahmengalamipeningkatanpesatsetiaptahunnya, mencapai 20%’.

Tulisan ini hasil diskusi dari Divisi Kajian BO ECONOMICA FEUI

LEAVE A REPLY