Distingsi Ihwal Spiritual

0
140

Tidak ada yang mutlak sama, termasuk ihwal spiritual. Distingsi pada hakekatnya adalah lahiriah dalam kehidupan, tidak mampu dibinasakan. Tuhanku dan Tuhanmu tak mungkin mendosa.

 

Usia tujuh tahun, saya ingat berada di sana. Merayap pelan di timur laut lapangan Medan Merdeka, ketika para jemaah telah surai dalam pertemuan suci. Bangunan itu berdiri kokoh dengan arsitektur kekinian, indah dipercantik ornamen geometrik yang membaja. Di balik kubah bola yang memahkotai, menyembul matahari yang membulat sempurna. Saya katakan bahwa saya terpukau.

Saya tidak sendirian saat itu, setidaknya setelah bapak menyelesaikan ibadah. Dengan baju koko putihnya yang selaras mewarnai peci, tangan kecil ini digandengnya menuju sisi timur, keluar melalui gerbang besar yang terbuka setiap hari. Saya diajak ke sebuah bangunan di seberang. Konstruksinya tak kalah megah, kental dengan gaya neo-gotik khas Eropa. Di pintu utamanya, terdapat patung seorang wanita berkerudung yang bermahkota. Perawakannya tak asing. Di sisi kiri berlanjut ke kanannya, ada sebuah tulisan berbunyi,Beatam Me Dicentes Omnes.Ayah menjelaskan bahwa artinya adalah semua keturunan menyebut aku bahagia.

Dalam usia yang masih dini noda, tersemat sebuah dogma bahwa yang namanya “bahagia” tersebut dihidangkan dalam ragam sajian berbeda. itulah yang saya tahu dulu. Maka dari itu kita mengenal kepercayaan atau agama. Konteksnya bertumpu pada kebahagiaan dunia dan akhirat,perspektif spiritual sebagai pemenuhan kebutuhan jiwa. Tidak ada yang salah dari semuanya, yang ada hanya kurang benar dalam ranah geografis, dimensi waktu, serta kedalaman intelektualitas. Setiap zaman dan wilayah punya sandungannya masing-masing akan pemahaman yang lain – yang bertolak dari keyakinannya.

Bapak dan Ibu saya terlahir dalam beda identitas, komposisinya terbilang mayor, atau mungkin terlaludimayor-mayorkanmasyarakat bangsa ini. Ibu bilang dalam dongeng pengantar tidur,perbedaan itu terjadi bahkan sejak sel telur nenek dibuahi sperma kakek, tatkaladunia rahim masih merumahi. Beda lagi dengan bapak, katanya eksistensi pembeda muncul sejak kakeknya kakek buyut mulai memegang Islam.Nyatanya, kita semua memang telah memiliki identitas masing-masing jauh sebelum kita ada, semuanya mengalir seperti air, mengikuti wadah garis keturunan. Bagi saya,mereka hanya beda ras dan agama, itu pun kalaulah boleh saya mendiksikan “hanya”. Anda boleh bergumam, boleh menduga, apakah penulis agnostik ateisme, teisme, atau agnostik pragmatis. Tapi saya hanya bernalar, dengan kadar rasional yang masih minim pengalaman dan pengetahuan.

Saya sadar bahwa setiap detiknya kita menghembuskan nafas yang berwangikan aneka identitas – banyak sekali. Sebutlah saja identitas pekerjaan, pendidikan, SARA, dan lainnya. Tapi orang tua saya berpesan dulu, bahwa setiap identitas memiliki tempatnya masing-masing untuk dibawa.Maka tanggalkan suku, agama, dan status sosialmu ketika bercengkrama dengan lingkungan sosial. Begitu pesannya. Hanya saja dari pengamatan saya, orang Indonesia justru biasanya gemar membawa semua identitas tersebut kemana-kemana, gemar show off.

 

***

Dan saya itu sebenarnya orang yang sangat menyukai Indonesia, sebuah negara yang begitu lucu. Orang-orangnya penuh imaji melodramatik, berfantasi penuh gairah dan pertentangan akan perbedaan. Seakan Tuhan adalah entitas yang perlu dipamerkan dan harus bersaing dengan Tuhan lainnya. Indonesia ibarat pasar persaingan tidak sehat yang menjual Tuhan Islam, Tuhan Kristen, Tuhan Hindu, dan lainnya. Tidak sehat karena saling menjatuhkan. Kebanyakan dari kita itu masih bermental rimba: Survival of the fittest. Mereka yang membenci judi, justru mengaplikasikan konsep zero sum game-judi dalam mengibarkan kesucian Tuhannya. Bahwa kemenangan, keagungan, kekokohan agamanya dapat terjadi bila ada agama lain yang kalah, jatuh, cedera, binasa, punah. Konsep kemenangan di sini tidak selalu bertumpu pada kekuatan fisik yang eksplosif, tapi terwujud dalam banyak kerangka yang semakin hari semakin inovatif. Percederaan ini membuktikan bahwa Ibu Pertiwi yang utuh masih sekadar utopia.

Seorang filsuf dari Perancis, Jean-Luc Marion, mendefinisikan berhala sebagai pantulan dari pandangan kita sendiri, dibentuk oleh arah intensi pribadi. Bagi saya, orang-orang yang masih memegang teguh prinsip di paragraf atas perlu dipertanyakan Tuhannya, bisa jadihanya terbentuk atas basis intensi diri mereka sendiri. Sama seperti Tuhannya kaum ateis yang bagi Marion telah mereduksikan makna Tuhan sebagai “Kehadiran”, maka mereka pun seperti mereduksikannya dalam arti “Kemenangan” atau apapun itu, sesuai versi masing-masing. Menjadi lucukarena mereka yang mengaku ateis di negara ini akan dibungkam. Padahal kalau yang membungkam berkaca, mungkin sebenarnya mereka tak jauh berbeda. Yang menjadi pembeda hanyalah rutinitas sehari-hari dan segala urusan tetek-bengek yang penuh dalam check list si pembungkam.

Tapi sadar atau tidak, seringkali Tuhan memang hanya dijadikan pengawas, penakut, hakim, dan simbol-simbol lainnya di dalam hidup. Makna Allah semakin disempitkan oleh tafsiran tiap umatnya. Tuhan pun menjelma dalam jutaan versi yang lebih dangkal, menjadi Tuhan yang tanpa rahmat. Tapi kebolongan itu bukanlah hampa, karena semuanya tentu akan berproses dalam sekat kehidupan.Itudapatmenjadi bahayakalau kita memaksakan tafsiran pribadi untuk dimasukkan ke orang lain, ke zona dan dimensi lain, yang punya pengetahuan, pengalaman iman, dan budaya keturunan yang berbeda. Masih agak dimaklumi kalau Tuhannya Katolik versi A diikhtiarkan ke pemegang Tuhan Katolik versi B misalnya, bagaimana kalau ke suku Polahi di Gorontalo? Atau mungkin ke suku Korowai di Papua?

Sulitnya lagi, penduduk kita punya budayanyinyir yang begitu kuat. Sehingga mulai dari hal-hal kecil seperti melihat orang berpeci atau berjilbab di gereja, melihat orang dengan muka tiongkok total di masjid, sampai dengan melihat mereka yang punya sudut pandang berbeda akan sesuatu, semuanya dibumbui opini pribadi. Akan semakin seru menyinyirnya bila perbedaan itu menyentuh isu sensitif seperti agama. Awalnya mungkin hanya bersifat satu arah, tapi lama-kelamaan bisa berujung pada debat kusir, karena adanya perbedaan opini mendasar. Debat ini seringkali saling menjatuhkan, bukannya memperkaya, memaksa lawan debat untuk mengakui dan menjadi yes­-man atas fikrah yang kita pegang.Walhasil, kedua pihak tak akan saling mencicip paham, melainkan hanya terus berbunyi tanpa membentuk konsesus. Seperti kata Goenawan Muhamad, debat acap kali berakhir dengan dua-log: Saya dan lawan bicara saya akan seperti dua pesawat televisi yang disetel berhadap-hadapan..

 

***

Berbicara perbedaan mengenai pandangan terhadap Allah, saya jadi teringat pada seorang teolog Belanda, Tom Jacobs, yang berusaha menjabarkan ihwalpaham Allah yang ada di Indonesia. Baginya, tidak ada satupun paham di Indonesia bahkan di dunia,yang bisa mendefinisikan Allah dalam wujud, arti, kuasa, dan segala parameter konkret. Jacobs memandang bahwa paham mengenai Allah pastilah lebih dari sekadar dogmatisme belaka.Meski dia sempat meruncingkan pandangan pada pengalaman iman sebagai kunci, Jacobs berani menegaskan bahwa semua agama di Indonesia sebenarnya menuju pada satu Allah. Usaha mulianya sama seperti Karen Armstrong, yang dalam buku “Sejarah Tuhan”-nya mencoba menyatukan aneka pandangan agama – yang secara kasat mata tentu ekstrem berbeda – menuju pretensi penyembahan satu Allah. Setiap agama menuju pada satu Allah? Anda boleh tidak setuju, atau boleh setuju tapi dengan modifikasi pribadi.

Yang pasti, Romo Mangun pernah mempertentangkan antara agama dan religiositas. Menurutnya, agama itu lebih mengenai lembaga kebaktian pada Tuhan dalam aspek yang resmi, yuridis, dan segala ketentuan hukumnya.Sementara religiositas melihat pada aspek nurani pribadi, yang mendorong intimitas jiwa, dan di dalamnya termasuk gabungan rasio dan rasa manusia. Hal ini yang menarik, dan selalu saya percaya.Keduanya mungkin bisa berjalan secara bersamaan, saya tahu, tapi keduanya tak selalu beriringan dan searah. Maka pemisahannya menjadi poin penting, agar kita melek bahwa orang yang tidak memegang agama kita, atau bahkan ekstremnya yang tak begitu mengenal agama – khususnya dalam tata cara – bisa saja lebih dalam aspek religiositas tersebut.

Maka terlampau pagi bagi saya untuk berpesan kepada pembaca. Saya hanya ingin berharap agar Indonesia dalam dimensi ketujuhnya mampu memperbaiki tatanan sosial yang sering ambruk karena perbedaan. Bahwa fungsi negara harus lebih kuat dari mereka yang ingin menyisihkan keanekaragaman negara ini. Indonesia memang tak akan henti-hentinya mendamba suatu bentuk keutuhan. Hasrat lawas akan persatuan belum berakhir.

Penulis: Ivan Indrawan

LEAVE A REPLY