Di Ruangan Itu

0
148

Di ruangan itu, kau bungkam lagi mulutmu. Tidakah kau tahu dunia ingin mendengar suaramu? Kini yang tersisa hanyalah gebrakan pintu di belakangku. Kau sendirian…Hanya berduaan dengan alam pikiranmu. Tak sedikitpun aku tahu tentang siapa dirimu, apa yang kau mau untuk hidupmu, dan akan kemanakah pelabuhan akhir kapal indukmu.

Ya, tak sedikitpun, kecuali bahwa kau adalah seorang introvert.

Sekarang jam makan siang, namun akupun menyusuri lorong tanpa arah tujuan. Ah, kesendirian ini menyiksaku!

Bagiku sendirian berarti tiada yang menimpali kelakarku. Tiada yang mengiringi tawaku. Tiada yang dapat mendengar suaraku. Tiada yang membantuku menyeka air mataku. Tiada yang merasakan kehadiranku…

Kecuali Aku, si extrovert ini.

Belum setengah dari lorong aku susuri. Tetiba langkahku terhenti. Alam bawah sadarku menggerakan tubuh ini untuk berbalik arah. Lalu kedua kakiku melangkah dengan pasti. Berpacu beriringan mengantar nyawaku kembali ke tempat dia tadi berada. Di ruangan itu.

Setelah sampai di depan ruangan, pandanganku terhampar melewati jendela menulusuri dimensi udara hingga tertuju kepada dirinya. Dia masih disana. Berkutat dengan buku-bukunya. Tenggelam dan terbuai dengan buah karya pemikiran penulis-penulis terkenal dari berbagai pelosok negeri. Tidakah engkau bosan? Gumamku dalam hati.

Aku tertunduk lesu. Pandanganku kosong tertuju pada lantai yang berdebu. Melepas genggaman tanganku dari gagang pintu. Kali ini benar-benar beranjak pergi. Meninggalkan dirinya sendirian lagi. Di ruangan itu.

Dalam lunglainya derap langkahku, sayup-sayup terdengar suara engsel pintu berdecit. Tiba-tiba dari belakang seseorang memanggil namaku. Deru angin menerbangkan rambutku sembari aku menengok ke belakang. Kala itu perasaanku bercampur aduk. Ternyanalah degup jantung dalam rongga rusuk ini bertalu-talu.  Aliran darah yang menderu memancarkan jelas rona merah pada pipi kuning lansat ini. Rasa heran, kaget, dan senang beradu menjadi satu.

Ya, dengan jelas aku mendengar dia memanggil namaku. Lalu memintaku mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan ini hanya seluas 36 meter persegi, namun cukup untuk diisi 5 set meja-kursi dan satu papan tulis.

Dengan perlahan aku duduk disebelahnya. Mendengarkan saat ia bercerita, menjawab saat ia bertanya. Sesederhana itu.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya. Entah berapa lama, namun di ufuk barat kini sinar sang surya sudah sepenuhnya sirna menandakan malam mulai merajai atap dunia. Aku pun membantunya merapihkan buku-buku.

Di depan pintu ruangan, kami berjabat tangan lalu berpisah. Setelah beberapa langkah, aku menengok untuk melihatnya sekali lagi. Ternyata ia melakukan hal yang sama. Sambil saling melontarkan senyum dan saling melambaikan tangan, akhirnya kami benar-benar berpisah untuk saat ini.

Selama di metromini menuju kosan, memoriku bagai black box saja. Mengulang-ngulang momen-momen bersamanya di ruangan itu. Setiap tutur katanya, gerak tubuhnya, semuanya tentang dirinya, terekam jernih dan kuputar tanpa henti.

Kini aku sadar. Ada dalam dirinya merekflesikan sesuatu tentang diriku. Anehnya bagian itu sama namun berbeda. Sama bahwa hal itu ialah hal yang terpatri kuat tak kuasa untuk diubah dan mengisyaratkan sesungguhnya jati diri. Berbeda bahwa hal itu ialah keintrovertan jiwanya yang mulai bisa kuselami, yaitu tidak serta merta introvert sepenuhnyaintrovert.

Maka mulailah keskeptisanku terhadapnya luntur dan rasa menghargai terhadap dirinya muncul. Begitulah yang terjadi setelah aku paham sebagian dalam dirinya merupakan refleksi dari diriku.

Ya, terkadang orang sepertiku pun butuh waktu untuk sendiri…

Tiba-tiba aku terperanjat oleh suara khas tabuhan bedug di perempatan. Dengan spontan aku setengah berteriak,“Kiri, Baaang….!”.

Lalu sambil aku membayar, pa sopir memberi kembalian diikuti omelan yang kental dengan logat bataknya. Sadar aku bersalah karena menyetop dengan tiba-tiba, aku hanya bisa bilang maaf sambil senyam-senyum masam.

Penulis: Shafia Anshor – Staff Divisi Penelitian BO ECONOMICA FE UI 2014

LEAVE A REPLY