ANOMALI HUBUNGAN TANPA STATUS

0
373

“Aku tidak pernah mengharapkan ini terjadi. Bukankah dulu segelas latte cappuccino selalu membuat kita kembali akur? Ataukah kini kau lebih tertarik dengan segelas robusta hitam? Aku tidak pernah mengerti dengan kemauanmu.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dimana selayaknya orang-orang mulai terlelap tidur dengan segala buaian mimpi sedangkan aku masih terpaku di depan layar handphone. Menanti kepastian pada selembar ketidakpastian hidup karena terjebak dalam ketidakpastian hubungan. Aku masih terlelap dalam angan-angan semu, entah kemana dia membawa pikiranku melayang pada batas-batas kesadaran duniawi. Ah, bodohnya diri ini.

Kisah ini berawal dari sebuah perkenalan yang tak disengaja yang terjadi antar dua anak manusia. Tatapan sang wanita di saat perkenalan bak candu yang membuat Joe tergila-gila. Rasanya mustahil bidadari turun dari surga di hari Rabu yang sial itu. Tugas kuliahku baru saja dipecundangi, uang di saku celanaku jatuh ketika aku buru-buru memacu mobil, dan aku baru saja ditilang karena tidak membawa STNK. Wanita itu benar-benar menyelamatkan hariku.

“Maaf, boleh saya duduk disini?”, suara wanita itu begitu halus hingga telingaku seperti merasakan desiran angin yang berhembus secara perlahan melewatinya. Aku masih berusaha untuk tetap terlihat keren dan dengan cepat kulepaskan headset yang masih melekat di telingaku.

“Silahkan, mba.”, aku kemudian berdiri sambil mengarahkan wanita itu untuk duduk layaknya seorang pelayan restoran dengan mimik menyenangkan yang terlalu dipaksakan. Ah pemilihan kata yang salah menurutku. Bagaimana bisa aku menghargai bidadari tersebut dengan panggilan yang terkesan kurang elegan.

Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Aku sangat suka dengan wanita tersebut. Tentang bagaimana dia mengibaskan rambutnya ketika akan menyeruput segelas latte cappuccino nya atau bagaimana dia mengerutkan keningnya ketika menganggap ceritaku menarik atau bagaimana dia menggerakkan kedua bola matanya yang anggun tersebut atau hal-hal menakjubkan lainnya yang dia tunjukkan kepadaku. Aku merasa tergila-gila. Waktu menunjukkan pukul 10 malam dan aku harus segera mengakhiri pembicaraan sore yang menakjubkan itu. Banyak tugas kuliah yang harus diselesaikan dan aku harus bergegas sebelum nyamannya kasur membuat otakku buyar dan masuk ke dalam perangkap mimpinya.

Aku mengantarnya ke rumahnya. Dia mengaku kalau hari itu mobilnya harus masuk bengkel. Dalam perjalanan pulang, cukup banyak momen awkward yang terjadi di antara kita berdua. Kita hanya saling diam, namun sesekali aku mencoba memecah keheningan dengan jokes­ yang coba ku ceritakan. Sesekali dia tertawa namun aku tahu itu adalah sebuah exceptional laugh, untuk menghargai usahaku bukan karena jokes yang aku ceritakan terdengar lucu buat dia. Aku kemudian ikut tertawa, ikut menertawakan diriku sendiri.

Kamipun semakin sering bertemu di coffee shop tersebut. Aku juga baru tahu kalau wanita itu juga sekampus denganku, sefakultas, bahkan seangkatan. Aku baru tahu. Aku memang dikenal sebagai cowok yang jarang mempermasalahkan pentingnya kehadiran seorang pasangan di kalangan teman-temanku. Aku memiliki banyak teman wanita, tapi tidak pernah berpikir untuk mencari pasangan. Apa pentingnya pasangan itu untuk kehidupan kita? Kalau yang sebenarnya yang dimaksud oleh khalayak adalah hubungan tanpa arti yang sementara yang hanya membuat manusia menjadi budak nafsu duniawi.

Entah kenapa aku berpikir kita kemudian semakin dekat. Kami menghabiskan hampir setiap malam via panggilan telepon. Kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama sekarang, hingga suatu saat kami lupa batasan yang kami miliki. Ada batasan-batasan yang tidak bisa kita hindari dalam sebuah hubungan tanpa kejelasan. Aku benar-benar sadar bahwa aku kini berhubungan dengan sosok bidadari yang didambakan semua pria yang mengenalinya. Aku sadar bahwa dia telah menjalin hubungan dengan seseorang yang berada di luar negeri. Aku sadar bahwa hubungan ini tidak akan pernah bergerak kemanapun, tetap dalam lingkaran setan penuh ketidakpastian. Aku sadar bahwa aku akan terus seperti ini berpegang teguh pada pendirianku selama ini, bahwa hubungan yang lebih serius tidak akan membawa manfaat berarti bagi hidupku. Namun, setan itu masih terus berbisik di daun telingaku membuat nafsu duniaku menggebu-gebu untuk sekedar mengatakan bahwa aku benar-benar jatuh ke dalam perangkap cintanya. Aku jatuh cinta.

Malam itu adalah seminggu sebelum pasangan si wanita itu pulang ke Indonesia. Aku dimintanya untuk menemaninya menyiapkan sebuah pesta kecil menyambut kedatangan si bajingan itu, maksudku pacarnya. Aku tidak berdaya untuk menolak permintaan wanita itu. Dalam sebuah hubungan yang lebih dari kata rumit ketika kita tidak memiliki status yang jelas, semua batasan yang ada seakan semu, blur. Hanya perasaan yang memainkan peran, akal sehat tidak memiliki andil lagi mengatasi kesalahpahaman persepsi yang terjadi. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku benar-benar memiliki perasaan kepadanya walaupun aku tahu hal tersebut takkan mengubah apapun.

Beberapa kesempatan terlewat begitu saja. Hari demi hari aku semakin stress memikirkan hal tersebut. Bayang-bayang kegagalan semakin jelas di depan mataku. Haruskah kejadian ini membuat hubunganku dengan dia berubah menjadi kaku menjurus beku. Aku tidak tahu. Hingga akhirnya tiba suatu saat dimana aku memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya sehari sebelum pesta diadakan. Iya, sehari sebelum.

“Martha, boleh aku ganggu sebentar? Aku harus mengatakan sesuatu. Di kafe biasa. Jam 7 malam ini.”

Begitulah pesan singkat yang kukirimkan kepada Martha. Pikiranku masih dipenuhi dengan lirik lagu “Reckless Serenade” dari Arctic Monkey kemudian handphone ku berbunyi.

“Ok, Joe.”

Martha adalah tipe orang yang tidak bisa berbasa-basi lewat komunikasi virtual. Dia adalah tipe wanita yang apa adanya dan selalu singkat, padat, dan jelas pada setiap pesan singkatnya. Aku kemudian bergegas mencoba mengatur kata-kata ketika bertemu sapa dengannya. Tidak akan kulewati begitu saja kesempatan emas ini. Kesempatan seumur hidup yang akan begitu ku sesali andai tak kumanfaatkan dengan baik.

Kupacu mobilku di tengah jalanan yang lengang di hari Minggu. Pikiranku masih melayang dalam haru biru lirik lagu menyayat khas The Script yang menemani perjalananku. Setibanya di kafe biasa kita bertemu, aku sudah mendapati mobil Martha terparkir di lahan sempit yang diperuntukkan sebagai tempat parkir. Aku pun segera bergegas masuk ke dalam. Martha menggunakan kaos band Sore kesukaannya.

“Mau ngomong apa, Joe? Kok hari libur gini minta ketemuan?”, Martha membuka percakapan sambil memainkan sedotan minuman miliknya.

Keheningan sempat terjadi ketika aku secara bodoh lupa dengan semua hal yang akan kuungkapkan kepadanya. Akhirnya kuberanikan diriku untuk mengatakan satu per satu kalimat dan maksud pertemuan aku dan dia di sore itu. Martha mulai berkaca-kaca, kemudian tetesan air mulai jatuh ke meja tempat dia melipat kedua tangan mungilnya itu. Aku berusaha untuk menghentikan pembicaraan itu dan mulai membicarakan hal-hal menarik seperti “kamu tahu tidak sejauh mana anak perempuan Mahatma Ghandi berperan dalam pelestarian lingkungan di India?” atau “Swedish House Mafia kabarnya bakal reuni lhoatau pembicaraan yang bisa mengembalikan senyuman manis Martha. Aku tidak bisa. Aku harus mengungkapkan segalanya. Aku jatuh cinta padanya.

Tanpa mengeluarkan satu katapun, Martha keluar dari kafe tersebut. Sambil memegang tisu yang ia gunakan untuk membasuh air matanya, Martha menabrak pelayan yang sedang mengepel lantai. Sementara aku hanya bisa terdiam dan merelakan ia pergi dengan sebuah kenyataan pahit bahwa ini bisa jadi pertemuan terakhir kami. Bahwa saat itu terakhir kalinya aku melihat sosok bidadari duduk di depan mataku. Bahwa cintaku tak pernah berbalas.

Aku pun berusaha membuat dia memaafkan kesalahanku dengan mengirimkan pesan singkat yang biasanya ampuh mengembalikan mood nya. Jam 3 pagi dan aku masih duduk di kasurku. Martha belum membalas pesan singkatku ataupun sekedar mengatakan keberadaannya saat ini. Aku tertidur dalam kesedihan yang mendalam.

Bahkan seseorang yang tidak percaya pada kekuatan cinta dalam sebuah hubungan pun bisa dibodohi oleh cinta itu sendiri. Kadang pada jarak beberapa spasi pun cinta bisa tumbuh dan berkembang. Pada ruang yang sempit sekalipun cinta masih bisa menyiratkan tanda. Perbedaan persepsi akan sebuah hubungan sering menjadi ombak besar penghalang romansa cinta berlayar mengarungi dinamika kehidupan. Kadang keputusan kita untuk jatuh cinta menjadi sebuah titik dimana pandangan kita akan sebuah hubungan berubah ketika jatuh cinta justru tak membawa kebahagiaan. Kita akan terus dihadapkan pada dua titik persimpangan dalam dinamika hubungan yaitu untuk terus maju atau berpindah. Begitu seterusnya, mengalir, dan kekal.

Penulis: Iqbal Makbul Taher

LEAVE A REPLY