Pementasan Teater Festival Timur Tengah 2015, Teater Amal “Preh”

0
104

Pada Selasa, 14 April 2015, Ikatan Keluarga Asia Barat (Ikaba) selaku Himpunan Mahasiswa Program Studi Arab Fakultas Ilmu Budaya UI (FIB UI) mengadakan Teater Amal. Acara ini merupakan rangkaian dari Festival Timur Tengah (FTT) 2015 yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 April 2015. Rangkaian acaranya terdiri dari berbagai ragam acara seperti seminar, lomba, dan Teater Amal.

“Sebagai mahasiswa kita tentunya harus peduli, dan tidak hanya memperkenalkan kepada masyarakat sebatas budaya saja, tetapi kita harus menjadi bermanfaat bagi orang lain, maka dari itu diadakanlah teater ini untuk membantu adik-adik di luar sana yang tergolong tidak mampu,” ujar Mursyid, Project Officer FTT UI 2015. Dalam memberikan bantuan, Teater Amal bekerja sama dengan komunitas ‘1001 Buku’ dengan memberikan donasi berupa buku dan uang.

Teater Amal bercerita tentang sebuah pohon ‘Preh’ yang dikeramatkan oleh warga sekitar. Di pohon tersebut terdapat 5 Dhemit yang sejahtera dan dipimpin oleh Jin Pohon Preh. Awalnya, Dhemit dan Warga Desa hidup rukun sejahtera, namun keharmonisan tersebut terganggu lantaran adanya sebuah proyek pembangunan yang dipimpin oleh Rajengwesi, yang memiliki sifat angkuh dan tidak mempecayai hal gaib. Konflik pun dimulai dari ketidakmauan Rajengwesi dalam mengikuti tata karma yang ada.

Suasana mistis dalam cerita yang dipentaskan digabungkan juga dengan unsur humor dari para pemainnya. Meski begitu, alunan music yang mengiringinya tetap mampu mempertahankan kesan menyeramkan dan menyempurnakan jalannya cerita. Dekorasi dan kostum yang dikenakan pemain teater juga sudah cukup menggambarkan seperti apakah Dhemit itu. Untuk menampilkan teater ini, para pemainnya sudah melakukan latihan keras selama 3 minggu sebelumnya.

Di balik unsur mistis yang menjadi kemasan Pementasan Teater Amal ini, terdapat perbedaan pembawaan dibandingkan dengan naskah aslinya yang ditulis oleh Heru Kesawa Murti. Menurut Azer, selaku pemeran Rajengwesi dan pimpinan produksi teater ini, dalam pementasan ini terdapat sindiran terhadap pemerintah. Hal ini terlihat dari cerita dimana di dalam dunia Dhemit, mereka bebas melakukan hal apa saja. Dalam pementasan ini seolah tidak jelas siapakah yang baik ataupun yang buruk. Apakah Dhemit yang merupakan simbol kejahatan, atau justru manusia sendiri yang seperti itu.

 

Penulis: Herjuno Bagus Wicaksono

LEAVE A REPLY