Dibalik Kabut Politisasi Media

0
231

Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya UI menyelenggarakan Diskusi Publik I pada hari Kamis, 16 April 2015. Diskusi yang bertema “Politisasi Media: Dimanakah Pers yang Bebas dan Profesional” tersebut di selenggarakan di Auditorium Gedung Komunikasi FISIP UI. Turtut diundang beberapa pembicara ahli dalam bidang tersebut sekaligus perwakilan dari masing masing institusi terkait pers. Ketiga pembicara yaitu Langitantyo Tri Gezar sebagai representasi dari KSM Eka Prasetya UI (Ilmu Komunikasi, 2010), Nina Mutmainnah Armandi (Komisioner KPI 2010-2013), serta Tim Rapotivi (Remotivi).

Sekitar lebih dari 100 orang hadir dalam diskusi tersebut. Menurut Nicko Yosafat, KSM Eka prasetya mengangkat tema tersebut agar masyarakat dan mahasiswa bisa lebih kritis mencerna konten acara TV. Diskusi publik ini berupaya untuk memberikan literasi media yang saat ini dirasa belum tersentuh oleh banyak pihak.

Acara dimulai tepat pada pukul 14.00 WIB yang dibuka oleh MC sekaligus penanggung jawab diskusi publik I, Nicko Yosafat Marpaung (Deputi Department Kajian KSM Eka Prasetya). Selanjutnya diberikan kepada moderator diskusi yaitu Esti Indah Puji Lestari yang menyampaikan pemicu Media dan public interest communication dari masa ke masa. Kemudian dimulailah pembicara pertama yaitu Mas Langit, yang menyampaikan materi mengenai pers dan politik secara umum.

Menurutnya, media memiliki kekuatan untuk memberikan informasi dan membangun interest dari public. Selain itu, media juga merupakan watch dog dari pemerintah. Namun, sekarang ini, banyak sekali media yang menjadi kekuatan agenda setting dari para pemilik tunggalnya, mereka bisa memengaruhi apa yang dianggap penting oleh masyarakat.

Oleh karena itu terdapat urgensi untuk membuat suatu media alternatif yang bebas dari agenda. Dari situlah munculnya pers mahasiswa yang menjadi entitas sintetis bagi masyarakat. Diharapkan pers mahasiswa bisa menjadi alternatif yang baik yang bebas dari kepentingan maupun agenda suatu pihak.

Selanjutnya Bu Nina, selaku pembicara kedua, berbicara mengenai politisasi pers yang dimulai semenjak masa reformasi hingga sudut pandang dari KPI. Dahulu, musuh pers adalah pemerintah yang berusaha untuk membredel semua pers yang pemberitaannya bisa memberikan pandangan buruk terhadap pemerintah. Namun sekarang, musuh terbesar dari pers adalah para pemilik dari lembaga pers itu sendiri.

Banyak sekali kejadian saat kepentingan politik masuk kedalam media informasi seperti koran, TV, dan lain lain. Ia lalu juga menceritakan bahwa kewenangan KPI sekarang diamputasi oleh pemerintah dan bagaimana sekarang media massa lebih banyak dipegang oleh pemerintah.

Pembicara terakhir dalam diskusi hari itu adalah koordinator dari Tim Rapotivi sekaligus staff Remotivi yaitu Septi. Menurutnya, pemberitaan informasi oleh media massa bergerak dan sesuai dengan koalisi dari pemilik media massa tersebut. Padahal media ada untuk melayani keingin tahuan publik, bukan hanya untuk satu entitas tertentu. Banyak sekali contoh pers yang ditunggangi dan melakukan penyimpangan terhadap kontennya. Untuk itulah Remotivi dibentuk, selaku lembaga studi dan pemantauan media, khususnya televisi Indonesia. Ia juga mwmberikan beberapa saran tentang apa yang kita bisa lakukan untuk berkontribusi dan menjadikan media massa yang lebih bersih dan netral. Diskusi lalu ditutup dengan sesi tanya jawab dari peserta.

 

Penulis: Rachmah Pradyna M

LEAVE A REPLY