Ajaran Islam Tidak Membenarkan Aksi Penyerangan pada Majalah Charlie Hebdo

0
190

Dunia berduka atas tragedi penembakan pada Majalah Satir Charlie Hebdo di Paris, Rabu, (7/1/2015). Dalam serangan ke kantor majalah itu 12 orang tewas, termasuk dua orang polisi. Diduga aksi penembakan yang dilakukan oleh tiga orang teroris ini bermotifkan balas dendam agama. Pelaku penembakan di Charlie Hebdo memang sempat berteriak bahwa serangan yang dilakukan mereka adalah “balasan terhadap apa yang dilakukan terhadap Nabi Muhammad” dan memekik “Allahu Akbar”.

Sebelum serangan penembakan terjadi, Majalah Charlie Hebdo memang kerap mendapat ancaman saat menampilkan gambar yang dianggap penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Misalnya, pada tahun 2006, karyawan majalah itu mendapat ancaman saat menampilkan kartun Nabi Muhammad yang dimuat di Koran Denmark, Jylands-Posten. Kemudian, pada tahun 2011, kantor itu sempat dilempar bom Molotov ketika kembali memuat gambar yang dianggap menghina Nabi Muhammad.

Simpati dunia terhadap korban Majalah Charlie Hebdo terus mengalir. Aksis solidaritas dengan slogan “Je Suis Charlie” mengemuka untuk menolak segala bentuk terror. Sementara di sisi lain, teror ini dikhawatirkan memperkeruh cap negatif agama islam sebagai agama teroris dan meningkatnya islamphobia pada umat muslim di seluruh dunia.

Fathan Mubina, Ketua Majelis Syuro Salam UI, menjelaskan islam telah menentang segala bentuk kekerasan. “Tindakan ekstrimis islam yang menyerang Charlie Hebdo tidak dapat dibenarkan, sekalipun alasannya Charlie Hebdo telah menghina Nabi. Hukuman membunuh telah diatur dan tidak sembarang, bahkan termasuk hukuman menghina Nabi”. Fathan mengutip hadist bahwa barang siapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan, maka dia tidak akan mencium wangi surga.

Ulama besar Arab Syaikh Shalih Fauzan Al l Fauzan mempunyai pernyataan senada (dikutip dari Harian Internasional Aljazeera news). “Ini bukanlah metode yang benar dalam membunuh. Hal ini akan menambah kemarahan mereka kepada kaum muslim. Yang berhak menghukum penghina Nabi adalah Ulil Amri (pemimpin pemerintahan). Seseorang tidak boleh membunuh orang kafir. Hak membunuh dan memberikan hukuman tidak berada di tangan setiap orang. Yang berhak menjalankan hukum bunuh adalah Ulil Amri yang sah”, ujarnya.

Penulis: Luqman Hakim

LEAVE A REPLY