OPERA : PEMILIHAN REKTOR

0
98

Sudah lebih dari dua tahun mahasiswa UI (Universitas Indonesia) tak “berayah”. Kini sudah waktunya UI meminang rektor baru. 25 orang dari penjuru negeri berkompetisi merebut hati universitas ini. Besok, akan terpilih satu orang yang akan jadi rektor UI. Tapi, benarkah nama orang itu sudah ditentukan jauh-jauh hari?

Menjaring dan Menyaring

Mencari satu orang yang pantas untuk memegang tampuk kepemimpinan UI yang tertinggi tentu membutuhkan proses seleksi yang matang. Untuk “menjaring” mereka yang kompeten maka dibentuklah P3CR (Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor). P3CR membuka pendaftaran bagi siapa pun yang ingin mengajukan diri menjadi rektor UI dan mengundang nama-nama yang menurut mereka layak (head hunting).

Akan diambil 25 nama bakal calon rektor yang menjalani serangkaian tes untuk diambil menjadi tujuh besar. Rangkaian tes tersebut berupa tes makalah dan rencana strategis, wawancara, serta tes kepribadian (DDI) yang dijalankan oleh lembaga independen.

Menurut keterangan Amar Khoerul Umam, MWA UI UM (Majelis Wali Amanat UI Unsur Mahasiswa), masalah muncul ketika hasil tes telah keluar. P3CR merekomendasikan tujuh nama yang mendapat hasil tertinggi setelah ketiga hasil tes diakumulasi dengan pembobotan 30% (makalah), 30% (DBI), dan 40% (wawancara). MWA sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam pilrek mempertanyakan darimana pembobotan itu berasal. Karena P3CR tidak mampu menjelaskan, MWA mengganti metode pemilihan ketujuh nama calon rektor. Dari ketiga jenis tes, dilihat siapa saja tujuh orang yang memiliki nilai tertinggi di masing-masing tes. Ada tiga nama yang selalu konsisten muncul pada tujuh besar nilai seluruh tes, dan ada empat nama yang selalu konsisten muncul di tujuh besar nilai pada 2 dari 3 tes yang ada. Ketujuh nama tersebut lah yang akhirnya diambil MWA untuk menjadi tujuh besar calon rektor. Dari tujuh nama baru yang dipilih MWA, ada dua nama yang berbeda dari tujuh nama yang sebelumnya direkomendasikan oleh P3CR.

Pada 24 Oktober 2014, tujuh nama tersebut diumumkan. Tujuh nama tersebut adalah Mohammad Nasikin (FT), Muhammad Anis (FT), Rhenald Kasali (FE), Rinaldy Dalimi (FT), Riri Fitri Sari (FT), Tarzan Basaruddin (Fasilkom), dan Tresna Priyana Soemardi (FT). Ketujuh carek ini menjalani tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) yang merupakan tes kepribadian, kemudian wawancara oleh pakar yang terdiri dari Yos Lukuhay, Dewi Fortuna Anwar, dan Bana Kartasasmita, dan pada akhirnya calon-calon ini akan ditelusuri rekam jejaknya oleh KPK dan Polri.

Hasil tes ketujuh calon akan menentukan tiga nama yang berhak menjalani seleksi selanjutnya. Ketiga nama tersebut diumumkan dalam konferensi pers MWA pada 10 November 2014, yaitu Mohammad Nasikin, Muhammad Anis, dan Rinaldy Dalimi. Mereka akan menjalani debat publik pada tanggal 18 November, di-voting oleh anggota MWA dan menteri pada tanggal 19 November, dan dilantik pada tanggal 20 November. Yang berhak memberikan suara dalam proses voting adalah kelima belas anggota MWA (bobot suara 65%) dan satu menteri (bobot suara 35%).

Tuntutan Transparansi

Pada pengumuman tiga besar 10 November lalu, wartawan dan mahasiswa rata-rata menanyakan hal yang sama: transparansi. Sebagai mahasiswa UI, wajar jika kita ingin mengetahui bagaimana pimpinannya dipilih dan mengharapkan yang terbaik. Mahasiswa ingin agar hasil penilaian yang menjadi bukti bahwa ketiga calon terpilih memang lebih unggul dari yang lain dibuka untuk publik. Namun, Erry Riyana Hardjapamekas, Ketua MWA saat ini, menolak tuntutan tersebut, ”Transparansi ada batasannya, tidak telanjang bulat.”

Pernyataan Erry mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pada Bab V tentang Informasi yang Dikecualikan, tepatnya Pasal 17h, dinyatakan bahwa informasi harus dibuka kecuali informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi publik dapat mengungkap rahasia pribadi yang mencakup, riwayat dan kondisi anggota keluarga, riwayat kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik dan psikis seseorang; kondisi keuangan, aset, pendapatan, dan rekening bank seseorang; hasil-hasil evaluasi sehubungan dengan kapabilitas, intelektualitas, dan rekomendasi kemampuan seseorang; dan atau catatan yang menyangkut pribadi seseorang yang berkaitan dengan kegiatan satuan pendidikan formal dan satuan pendidikan non formal.

MWA sebenarnya dapat membuka informasi penilaian calon rektor apabila para calon rektor melayangkan surat pernyataan resmi bermaterai kepada MWA yang berisikan kesediaan calon untuk mempublikasikan hasil penilaian. Tapi, tanpa itu pun, Erry menjamin bahwa penilaian yang ada sudah dilakukan secara benar. Ketujuh calon yang diseleksi MWA memiliki penilaian yang baik secara umum dan tidak memiliki rekam jejak yang bermasalah.

 

Janggal?

Sementara proses seleksi masih dilakukan, beberapa pihak mulai mencium adanya ketidakberesan. Prijono Tjiptoherianto, Ketua P3CR, ketika ditemui di Restoran Bebek Tepi Sawah PIM II, tertawa miris ketika Economica membahas isu pilrek. ”Aduh justru itu yang sedang saya hindari. Kacau itu Pilrek UI.” Prijono menyatakan dari tujuh rekomendasi nama calon rektor yang diberikan P3CR, hanya tiga nama yang disetujui MWA. Alasannya hasil penilaian tim asesor independen tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Baik dari komponen penilaian maupun penghitungan berbeda dengan perjanjian awal yang diminta. Ia menengarai perbedaan ini diakibatkan kurangnya dana yang dibayarkan. “Dalam dagang ada uang ada barang, kan,” paparnya. Mengenai penilaian yang akhirnya dilakukan MWA untuk memperbaikinya, Prijono tidak tahu. P3CR tidak memiliki akses untuk melihat hasil penilaian MWA.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Erry justru bingung. Ia tidak tahu-menahu soal tim independen yang digunakan P3CR dan ketidakberesan hasil penilaiannya. Menurutnya, ia hanya menyesuaikan hasil dari P3CR dengan alasan kriteria kandidat tidak sesuai dengan yang diharapkan MWA. “Hanya dua nama yang kami ubah,” ucapnya.

Selain itu, MWA menolak pembobotan dari P3CR pada tes tahap penyaringan dan mengubah metode menjadi pemeringkatan. Namun, apa yang membuat metode pemeringkatan ini menjadi lebih unggul dari pembobotan juga masih belum jelas. Dari sini, tampak perbedaan jumlah nama yang diambil dan alasan perubahan dari keterangan P3CR dan MWA. Entah ini miskomunikasi atau memang hanya salah satu yang benar.

Masalah lain muncul. Pada seleksi tujuh ke tiga, ada penelusuran yang dilakukan oleh KPK dan Polri. Menurut Amar, penelusuran ini menyangkut informasi di ranah pribadi, misalnya saja kehidupan keluarga, perkawinan, dan data pajak. Para calon ditelusuri dengan mewawancara orang-orang terdekat dan rekan kerja. Inilah alasan MWA keberatan membuka informasi ke publik. Jika disebar tentu melanggar privasi calon. Apalagi hasil wawancaranya bisa subjektif, tergantung hubungan orang yang diwawancara dengan calon.

Janggalnya, informasi hasil penelusuran ini tidak dikonfirmasi kembali kepada calon rektor. Dari awal, tidak ada ketentuan mengenai penelusuran Polri dan KPK. Namun, ketika akhirnya ada, para calon berhak mendapat konfirmasi dan memberi klarifikasi. Rhenald Kasali, salah satu dari tujuh besar calon rektor, mencontohkan saat ia menjadi panitia seleksi (pansel) KPK. Waktu itu mereka mengadakan penelusuran, mirip seperti pilrek ini. Tapi, pada tahap akhir, keterangan yang mereka dapatkan mengenai calon akan diklarifasi kembali untuk mengetahui kebenaran informasi, terlepas informasi tersebut baik atau tidak. Penilaian personal tanpa konfirmasi ulang riskan kebenarannya.

“Saya dengar isu dari salah satu anggota MWA, saya dipersoalkan saat memimpin program doktoral. Ada seorang selebriti senior yang katanya diluluskan dari program tersebut hanya dalam waktu dua tahun. Saya langsung mencari datanya. Ternyata bukan dua tahun, melainkan empat tahun. Saya pun saat itu sudah tidak menjabat sebagai pimpinan. Seandainya ada klarifikasi saya kan bisa jelaskan. Tapi, tidak ada sama sekali,” tutur Rhenald.

Hal senada diungkapkan oleh calon lain. Tidak ada yang pernah dikonfirmasi oleh MWA terkait penilaian kehidupan personal mereka. Nasikin menyatakan, “Saat saya dengar panitia melakukan tracking dengan KPK dan Polri, saya justru ingin tahu tracking saya apa. Saya penasaran, tapi saya tidak punya hak. ”

Tresna menyatakan, “Kami hanya diberi tahu hasil akhirnya. Kemarin waktu saya tidak terpilih, saya hanya mendapat email singkat. Katanya, mohon maaf Anda belum lolos, terima kasih sudah berpartisipasi dan sebagainya. Saya tidak pernah diberi detail penilaian diri saya sendiri.”

Erry Riyana saat ditemui sesuai wawancara tiga besar calon rektor di rektorat Salemba memberikan argumennya. Erry menyatakan  konfirmasi penilaian kualitatif ke kandidat jelas tidak diperlukan karena tidak ada temuan yang berarti. “Buat apa dikonfirmasi? Kalau ada gosip kita juga tidak percaya. Kita ini sekumpulan orang-orang yang tidak mudah dibohongi.”

Masih ada lagi hal yang mengusik. Tresna menuturkan masalah pada cyber campaign. Salah satu bagian dari kampanye interaktif calon rektor adalah kampanye bertema dengan periode pelaksanaan 13-17 Oktober 2014 dimana panitia akan memberikan suatu wacana atau pertanyaan di halaman utama website sesuai dengan harinya. Aturan yang tertulis, “(1) Tema kampanye ditentukan oleh panitia berdasarkan aspirasi yang masuk, baik melalui email, twitter maupun website. (2) Seluruh Calon Rektor wajib menanggapi wacana tersebut dengan memanfaatkan fasilitas menulis materi kampanye. (3) Tanggapan sudah harus selesai dituliskan di waktu yang ditentukan panitia.” Kata wajib dan di waktu yang ditentukan panitia ditebalkan seolah menekankan betapa pentingnya kedua poin ini.

Tresna menyayangkan ada kandidat yang tidak mengerjakan atau tidak serius mengerjakan justru lolos ke dalam tiga besar. Padahal, sesuatu yang wajib itu seharusnya ketika ditinggalkan akan menjadi masalah. “Kita bekerja keras menyiapkan materi kampanye, tapi mereka yang tidak mengerjakan yang diloloskan. Kalau seperti ini seharusnya dari awal jangan diwajibkan sama sekali.”

Jika catatan di situs resmi Pilrek UI (pemilihanrektor.ui.ac.id) ditelusuri, kiranya yang dimaksud Tresna adalah Nasikin dan Rinaldy. Nasikin hanya berpartisipasi dalam kampanye bertema hari pertama, isinya berupa lima kalimat pendek. Sementara itu, Rinaldy tidak pernah melakukan kampanye bertema sama sekali.

Erry Riyana beralasan, “Cyber campaign memang wajib, tapi tidak menentukan hasil akhir dari pemilihan nama. Kampanye bertema sendiri bukan tahapan tersendiri, melainkan hanya bagian di dalam suatu tahapan.”

Masalah belum selesai sampai di situ. Rhenald bercerita tentang pembobotan pada tahap seleksi tujuh ke tiga yang baru dilakukan setelah nilai didapat.”Ada yang memberi tahu bahwa nilai saya tertinggi baik di tes wawancara maupun MMPI. Namun, setelah hasil tes keluar, MWA kemudian memberikan skala pengukuran baru untuk menentukan nilai akhir. Ketika nilai akhir diperoleh, saya tidak menang,” ia tertawa.

Ketika dikonfirmasi, Erry menjawab berbeda. Menurutnya, pembobotan dilakukan di awal, meski sebelumnya Erry berpendapat bahwa tidak ada bedanya bobot di awal atau di akhir. Memang, pembobotan yang ideal dilakukan di awal. Komponen penilaian IP mahasiswa contohnya, sudah sejak awal diberitahu UAS bobotnya sekian persen, UTS sekian persen, lain-lain sekian persen. Dengan begitu mahasiswa dapat menyusun strategi belajar yang paling memaksimalkan nilainya.

 

Santer Isu

Yang lebih janggal, dalam seleksi tujuh ke tiga, publik mulai mendengar bahwa tiga nama calon rektor terpilih (Nasikin, Anis, Rinaldy) sudah ditentukan sebelum rapat penentuan.

Economica mengonfirmasi apakah para calon rektor juga mendengar isu ini. “Saya sudah dengar nama tiga besar itu jauh sebelum MWA rapat. Awalnya saya tidak percaya, masa iya nama beredar sebelum rapat diadakan. Tapi, ternyata nama yang keluar persis dengan yang pernah saya dengar. Dari situ saya sadar ini sudah tidak benar,” terang Rhenald Kasali.

Hal senada diungkapkan Tresna. Pada awal ia masuk ke dalam tujuh besar, ia sudah mendengar ketiga nama yang pasti akan lolos dari rekan sesama dosen. Kala itu, Tresna tidak percaya. Baginya, mana mungkin sudah ada tiga besar bahkan saat tujuh besar baru ditentukan. Namun, kemudian yang dikatakan rekannya terbukti. “Saya merasa apa yang saya lakukan selama ini sia-sia. Serangkaian tes yang saya jalani tidak ada gunanya.”

Keterbatasan akses informasi ke MWA menyebabkan publik berspekulasi. Siapa bisa menjamin tidak ada koalisi ataupun preferensi tertentu di dalam internal MWA yang akan menentukan siapa rektor terpilih? Menurut Nasikin, memang memilih adalah masalah selera. Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin, setiap orang punya selera sendiri. Jika sudah punya selera, pilihannya tidak bisa diganti hanya dengan mendengarkan visi atau misi.

Erry Riyana sendiri mengakui adanya koalisi atau kubu dalam menentukan rektor terpilih. ”Sudah pasti ada yang namanya kubu, tidak mungkin tidak. Tapi sepanjang keberadaannya masih rasional saya rasa tidak ada masalah.”

Hebohnya, nama sang rektor muncul sebelum waktunya. Kabar bahwa Muhammad Anis sudah pasti terpilih menjadi rektor terdengar sebelum pengumuman tiga besar. Berita ini santer dibicarakan secara informal di kalangan pekerja UI, dari satpam hingga dosen. Isu ini bahkan sudah berkeliaran pada seleksi tujuh ke tiga. Nama tiga besar belum resmi tapi sudah ada kabar siapa rektor UI.

Ketika ditanya langsung kepada Muhammad Anis, ia hanya tertawa. ”Wah, kalau itu benar, saya tidak perlu usaha apa-apa lagi, dong.” Lanjutnya, ”Jika dalam kompetisi, ada istilah siap kalah atau menang, sedangkan saya siap tidak untuk dipilih. Tapi kalau dipilih saya siap menjalankan amanah. Ketika orang bertanya bagaimana kesempatannya, saya selalu menjawab fifty fifty, artinya semua punya peluang.”

Economica sempat mengalami kesulitan dalam mewawancarai beberapa kandidat. Alasannya, mereka enggan membahas hal yang sudah lalu. Setelah diyakinkan ada pihak-pihak yang berhak mendapat kejelasan, barulah mereka mengiyakan. Reaksi mereka senada. Mereka sudah lama mengikhlaskan dan sibuk melakukan kegiatan lagi. ”Memangnya kerjaan saya ngurusin pilrek doang,” ujar Chan.

Pemilihan rektor UI diibaratkan sebuah opera. MWA sebagai organ tertinggi UI adalah sang sutradara dari sebuah pertunjukan bernama pilrek. Seluruh keputusan, termasuk pemilihan pemain, ada di tangan sutradara. Casting adalah proses formal untuk menyaring pemain terbaik “menurut” sang sutradara. MWA pun memilih rektor sebagai upaya memilih mereka yang terbaik. Selayaknya, casting diharapkan menjadi suatu proses untuk memilih mereka yang berkualitas, bukan mereka yang memiliki kedekatan dengan sutradara atau sudah ditentukan sejak awal sebagai pemeran utama. Pertanyaannya proses casting mana yang menjadi cerminan opera pemilihan rektor kali ini?

 

 

Komentar Tujuh Calon Rektor terhadap Pilrek

Tarzan (Chan) Basaruddin “Saya tadinya percaya mereka sebagai akademisi akan memberikan penilaian yang objektif.” Ketika sekarang ditanya masih percaya atau tidak, Chan hanya tertawa.

Rinaldy Dalimi “Saya bukan mengonfirmasi, tapi saya percaya tidak ada kecurangan yang terjadi di pemilihan rektor ini.”

Riri Fitri Sari ”Proses penilaian MWA sudah berjalan sesuai rencana. Saya rasa semua belajar dari proses panjang yang dilalui. Saya menerima semua hasil sebagai upaya terbaik untuk UI yang lebih baik.”

Rhenald Kasali. “Saya dijanjikan P3CR proses penjaringan akan benar. Mereka menjamin yang kali ini berbeda, panitianya modern dan berpandangan luas. Tapi, di UI masih banyak orang yang anti perubahan.”

Muhammad Anis “Saya percaya sepenuhnya dengan MWA sehingga saya tidak pernah mempertanyakan proses dan hasilnya.”

Tresna Priyana Soemardi “Pilrek belum ideal. Pilrek itu suatu prosesi, ada bagian wajib yang harus dikerjakan. Kenyataannya ada kandidat yang  tidak mengerjakan, tapi tetap diloloskan.”

Muhammad Nasikin “Ibaratnya ketika selera saya cocok dengan fokusnya kandidat A, maka saya akan memilih A tanpa melihat visi misi yang ia buat,”

 

Tim Interupsi

Penanggung Jawab: Pengurus Inti BOE

Pemimpin Umum : Yuanita Intan S.

Redaktur Pelaksana: Dina Amalia Puspa

Staf Redaksi : Insani Arif Situmorang, Luqman Hakim,

Bertha Fania, Jeffry Fauzan, Annisa Maghfira,

LEAVE A REPLY